
...🌹Sebelum baca, yuk vote dulu🎉🙏🏻. Biar makin semangat untuk updatenya 🌹...
Wussshhh!
Hembusan angin kencang menerpa rambut panjang Killa yang tidak terkuncir. Gadis itu turun dari Jet Pribadi milik sang suami dengan perlahan. Dibelakangnya sudah ada Marvin yang menyusul turun. Kini mereka telah mendarat di Beijing tepat pukul tujuh malam.
"Tuan, mobil anda sudah siap!" Ucap Ken dengan tanggap saat Marvin berjalan kearahnya.
"Hmm!" Marvin hanya mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil.
"Silahkan Nona!" Ken membukakan pintu mobil untuk Killa. Gadis itu pun langsung masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Marvin.
Diperjalanan suasana nampak hening. Marvin memilih diam dan menatap keluar jendela. Entah kenapa rasanya sangat sakit. Marvin terus teringat dengan kejadian tadi siang. Dimana Killa menolak perkataannya. Memalukan? Sebenarnya tidak, Marvin sama sekali tidak merasa memalukan. Hanya saja perasaannya sedikit terluka.
"Vin, apa kau marah padaku?"
Gadis itu menyentuh pundaknya. Sontak Marvin langsung menoleh. Menatap wajah Killa dengan datar. "Ada apa Killa? Kenapa kau berpikir jika aku marah padamu?"
"Aku hanya merasa sikap mu dingin padaku!"
__ADS_1
"Itu hanya perasaanmu saja! Bukankah memang sikap ku seperti itu? Kau sendiri yang selalu memanggilku dengan sebutan pria dingin!"
Marvin kembali memalingkan wajahnya.
"Ayolah Vin, jangan seperti ini!" Ucap gadis itu lagi, kini dengan nada tinggi.
"Apa? Jangan seperti apa? Aku tidak mengerti maksudmu Killa?" Marvin menoleh menatap tajam Killa. Dahinya mengkerut dan mulutnya mengatup rapat. Menandakan jika saat ini dia sedang marah.
"Aku tahu, kau sedang marah padaku!"
Tanpa sadar Killa berbicara dengan membentak. Membuat Marvin semakin kehilangan kesadaran untuk tetap tenang. Dengan sifatnya yang dingin membuat Marvin terbawa emosi jika ada lawan bicaranya yang membentak. Apa lagi jika sudah ada dasar yang membuat dirinya terluka dan kecewa.
"Kau yang paling tahu Vin! Alasan yang membuatmu seperti ini!" Ucap Killa.
"Aku tidak tahu! Shit." Marvin mengusap wajahnya dengan kasar, lalu tak sengaja memukul pintu mobil yang ada disampingnya. Karena terlalu geram dan marah, akhirnya ia melampiaskan dengan seperti itu.
Killa menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah Marvin yang memukul ke sembarang arah. Dia sadar jika Marvin marah dan emosi padanya. Karena itu Marvin enggan untuk menatap mata Killa sedari tadi.
"Marvin! Apa kau sudah gila? Kenapa kau melampiaskan amarah mu seperti itu!" Killa memegang tangan Marvin yang tadi dia buat untuk memukul.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku!" Marvin membentak dan menepis tangan Killa dari tangannya. "Jangan menyentuhku sekarang! Biarkan aku menenangkan pikiranku Killa! Kumohon jangan bicara padaku juga!"
Deg!
Seperti tersambar petir. Perkataan Marvin berhasil menyayat hatinya. Killa terdiam menatap Marvin yang memalingkan wajah darinya.
"Ok, aku akan menuruti permintaanmu! Aku tidak akan bicara denganmu! Kau puas!" Ucap Killa geram.
Gadis itu meneteskan air matanya dan bernafas dengan berat. Karena hatinya begitu sakit. Killa pun segera keluar dari mobil. Karena kini mereka telah sampai di Hotel Grand Louis milik Marvin.
Ken yang sedari tadi melihat pertengkaran suami istri itu. Hanya bisa diam dan tidak berniat untuk mencampuri urusan keduanya. Hanya saja rasa penasaran menghampirinya. Ken bertanya-tanya ada apa sebenarnya, yang membuat Tuan dan Nona nya jadi bertengkar hebat.
"Shit!" Marvin mengumpat sangat kasar. Sembari tangannya memijit pelipis yang menegang. Akibat pertengkaran nya barusan dengan Killa.
Sebenarnya dari lubuk hati Marvin yang paling dalam, jujur dia tidak ingin bertengkar dengan Killa. Hanya saja amarah sudah mengendalikan dirinya. Sampai-sampai harus mengeluarkan kata-kata kasar, yang kemungkinan besar sudah menyakiti hati Killa.
"Tuan, apa anda mau pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri?" Ucap Ken. Asisten pribadi yang setia itu menawarkan sesuatu padanya. Yang mungkin bisa membuat suasana hatinya tenang.
"Terserah kau saja Ken! Aku sedang tidak ingin pulang dan bertemu Killa! Sebelum aku benar-benar merasa tenang dan tidak akan berkata kasar yang akan menyakitinya lagi!"
__ADS_1
Marvin menghela nafas panjang. Ia menyandarkan kepala dan menutup sejenak matanya. Ken pun segera mengemudikan mobilnya keluar dari area hotel. Menuju tempat yang mungkin bisa menenangkan sang tuan.