
Satu Minggu yang lalu. Hembusan angin di bandar udara 'Otto Lilienthal' menerbangkan helaian demi helaian rambut panjang Killa. Cahaya matahari sore menyilaukan matanya.
Setelah melewati kurang lebih lima belas jam penerbangan dari Seoul ke Berlin. Tubuhnya terasa sangat lelah, seperti remuk di beberapa bagian. Perbedaan waktu tujuh jam lebih cepat di Seoul. Membuat kedua gadis itu sampai di Berlin sore hari sekitar jam tiga.
"Nona Killa?" sapa seorang pria dengan setelan jas menghampiri nya.
Sontak ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Tersenyum tipis dengan mengerinyit. "Benar saya sendiri. Maaf anda siapa?" tanya nya.
"Saya diperintahkan Tuan Justin untuk menjemput anda," jawab pria itu dengan ramah. Ternyata dia adalah orang suruhan Justin.
Killa melirik Naya yang hanya diam. Merasa tidak yakin dengan orang yang baru saja ia temui itu.
"Jika Nona tidak percaya, saya akan menghubungi Tuan Justin. Untuk membuat anda berhenti cemas." Pria itu merogoh sakunya, mengambil ponsel dan menghubungi Justin.
"Ini Nona," ucapnya seraya memberikan ponselnya pada Killa.
__ADS_1
Dengan sangat ragu-ragu ia meraih ponsel pria itu. Menempelkan benda pipih itu di daun telinganya. "Halo!"
"Killa, syukurlah! Kau sampai dengan selamat."
Killa terdiam merasa lega mendengar suara yang ia kenali di seberang panggilan. "Justin," ucapnya.
"Zean akan mengantarkan mu ke Villa tempat ayahku berada. Jangan menolak, kau sudah berjanji untuk tinggal sementara dengan nya."
"Hmm, iya aku tahu. Aku akan mengikuti apa katamu. Tapi hanya untuk sementara, aku tidak mau terlalu merepotkan kau dan Tuan Lion."
"Bye," ucap Killa sebelum akhirnya panggilan terputus.
Killa pun mengembalikan ponsel milik pria tersebut, yang diketahui namanya Zean.
"Mari Nona, mobilnya ada disana." Zean menunjukan letak mobilnya yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada.
__ADS_1
"Baik," sahut Killa. Seraya hendak menarik kopernya. Namun Zean terlebih dulu meraih koper tersebut.
"Biarkan saya yang mengurus ini."
"Baiklah, terima kasih Zean." Killa tersenyum pada Zean, lalu menarik tangan Naya menuju mobil yang sudah ditunjukan. Dengan diikuti Zean yang menarik kedua koper mereka dibelakang. Memasukan nya ke dalam bagasi dan segera masuk ke dalam mobil. Menyusul Killa dan Naya yang sudah duduk dengan tenang di kursi penumpang belakang.
Zean pun segera menancap gas dengan kecepatan sedang. Menuju Villa tempat Tuan Lion ayahnya Justin berada.
Disepanjang jalan. Killa menatap keluar jendela. Menikmati keindahan kota Berlin. Senyuman terukir diwajah nya, mengingat masa kecil nya. Dulu ayahnya sering membawanya ke Berlin untuk alasan bisnis. Betapa bahagianya masa-masa itu. Karena itu ia masih mengingat nya dengan jelas.
Namun, tiba-tiba saja ia kembali teringat oleh Marvin. Killa menutup mulutnya agar tangisan nya tidak pecah. Ia mencoba mengatur nafas untuk menenangkan hatinya. Mungkin inilah yang terbaik untuk dirinya dan juga Marvin.
Baru beberapa jam saja tidak melihat wajah Marvin. Ia sudah sangat merindukan pria dingin itu. Akan kah dia sanggup hidup selamanya tanpa Marvin? Menjalani hari-hari nya yang akan terasa sangat berat, tanpa senyuman menawan Marvin. Yang biasa mewarnai hari-hari yang dia lewati. Namun senyuman itu sudah tidak bisa ia lihat lagi.
Ingin rasanya ia berteriak sekerasnya, agar perasaan nya lega. Namun tidak bisa, ia hanya bisa diam dan menahan semua rasa sesak itu. Menguburnya dalam-dalam pada dirinya sendiri.
__ADS_1