
Ketika sudah tidak ada orang. Kini tinggal dirinya sendiri di dalam ruangan VIP itu. Marvin merogoh ponsel di saku piyamanya. Kemudian dia menghubungi Justin. Untuk apa? Karena dia mau bertanya pada Justin tentang apa saja yang terjadi malam itu.
Panggilan tersambung.
"Ada apa sepagi ini kau menelpon ku Tuan Marvin?"
"Apa kau tahu tentang apa yang terjadi di dalam mansion Kikan malam itu?"
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Katakan? Aku sedang tidak ingin ber-basa-basi."
Huft!
Terdengar suara helaan nafas Justin. "Apa yang ingin kau ketahui?"
"Ternyata benar kau juga tahu."
"Sebaiknya kau tanyakan pada Killa, jangan padaku."
"Apa benar Gerry Roses juga ada campur tangan nya dengan kecelakaan orang tua ku?"
Suasana hening sejenak. Justin diam tak berkata apapun.
"Katakan? Aku hanya ingin memastikan."
"Kau benar, Kikan memberikan rekaman suara tentang rencana pengkhianatan itu."
Deg!
Seperti tertusuk pisau belati. Marvin memegangi dadanya yang terasa berdenyut. Tangan nya juga mengepal dengan sempurna. Ia menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Justin.
"Aku baik-baik saja, terima kasih untuk informasinya," jawab Marvin. Ia pun memutuskan panggilan sepihak.
PRANG!
Ponselnya pecah dan hancur ketika ia lempar ke sembarang arah. Marvin berteriak mengumpat dan memaki-maki. Entah dia sedang marah kepada siapa? Gerry Roses? Killa? Ayahnya? Atau dirinya sendiri yang tidak mampu menghadapi kenyataan pahit itu?
__ADS_1
Duduk memeluk lutut di atas tempat tidur dan menangis tanpa suara. Marvin mengingat kenangan-kenangan indah yang dia lewati bersama Killa. Meskipun singkat namun sangat bermakna untuk nya.
Marvin menggelengkan kepalanya, seraya beranjak dari tempat tidur. Ia menelpon Ken untuk mengurus kepulangan nya. Semakin lama di rumah sakit dengan keadaan kacau seperti ini. Hanya akan membuatnya menjadi gila.
***
Di perjalanan di dalam mobil. Marvin membuka kaca mobil nya membiarkan angin menyapu wajah dan rambutnya. Ia menghirup udara segar itu melalui hidung lalu mengeluarkan nya lewat mulut.
"Tuan, apa anda yakin mau langsung bekerja saat ini juga? Apakah anda tidak ingin beristirahat dirumah?" tanya Ken seraya melirik kaca sepion tengah.
"Tidak Ken, banyak yang harus aku kerjakan," jawabnya singkat.
Ken melihat Tuan nya itu sedang bersandar dan menutup matanya. Ken pun menutup pembicaraan. Dia mengerti jika sang Tuan memerlukan waktu untuk menenangkan isi kepalanya. Mengingat ia baru saja menemukan fakta pahit tentang kematian ibunya.
Sesampainya di Hotel. Marvin disambut dengan beberapa orang karyawan. Seperti biasa dia tidak menyapa balik bahkan wajahnya sedingin es. Marvin berjalan ke arah lift khusus yang diikuti oleh Ken dibelakangnya. Gosip pun dengan cepat beredar. Jika Tuan Marvin Louis, kembali bekerja hari ini. Dia sudah tidak di rawat di rumah sakit lagi.
Killa yang sedang berada di Mini Swalayan Hotel ikut mendengar gosip tersebut. Ketika beberapa karyawan membicarakan nya. Sontak ia sangat terkejut.
"Marvin? Dasar keras kepala, dia kan belum sembuh total? Kenapa dia langsung bekerja?" gumam Killa seraya melirik arloji yang menunjuk kan pukul dua belas siang.
Ia pun meninggalkan belanjaan nya dan segera berlari pergi. Ingin menemui Marvin di kantor nya. Tidak ada prasangka buruk apa pun. Tapi karena perasaan nya yang begitu dalam terhadap Marvin lah, yang membuatnya langsung panik. Dia tidak mau Marvin kelelahan atau pun kembali kesakitan. Akibat luka nya yang belum sembuh total.
Killa menarik nafas dalam dalam ketika hendak membuka pintu ruangan kerja Marvin. Namun tiba-tiba saja pintu terbuka lebih dulu. Keluarlah Ken sambil membawa beberapa berkas.
"Nona Killa?" ucap Ken.
"Ken?" Killa terkejut.
"Apa yang anda lakukan disini Nona?" tanya Ken.
Killa mengerinyit seakan heran dengan pertanyaan itu. "Apa maksudmu Ken? Tentu saja aku ingin menemui Marvin? Kenapa dia tidak mengabari ku jika dia keluar rumah sakit hari ini juga? Dan kenapa kau membawanya ke kantor tidak pulang kerumah untuk istirahat?"
Killa hendak menerobos masuk, namun ditahan kembali oleh Ken. "Maafkan saya Nona, saya hanya menyampaikan pesan Tuan Marvin. Jika saat ini Tuan sedang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun."
"Apa kau bilang? Tidak ingin diganggu? Bahkan oleh ku dia tidak ingin diganggu? Yang benar saja Ken, jangan bercanda." Killa tersenyum menanggapi nya dan hendak kembali menerobos masuk.
"Nona, saya tidak bercanda. Tuan Marvin tidak ingin diganggu oleh siapa pun, termasuk anda Nona Killa. Saya harap anda bisa mengerti." Ken kembali menekankan ucapan nya.
Killa tersentak diam. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap sendu wajah Ken dan pintu ruang kerja Marvin secara bergantian. Sakit, sungguh sakit hatinya saat ini. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Suaminya sendiri tidak ingin di ganggu oleh siapa pun termasuk dirinya.
__ADS_1
"Baiklah Ken, terima kasih atas informasinya. Aku akan pergi," ucap Killa dengan bibir yang bergetar. Ia hendak menangis karena pelupuk matanya tidak bisa menampung banyak nya air mata lagi. Namun dengan gerakan cepat Killa mengusap nya. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali menuju lift.
"Maafkan aku Nona Killa," ucap Ken seraya membungkuk sedikit. Ia tak tega melihat Killa yang putus asa. Dia mengerti bagaimana rasa sakitnya.
Sedangkan di dalam ruang kerja Marvin.
"Maafkan aku Killa, tunggulah sampai hatiku berdamai dengan kerasnya diri ini."
Marvin menyandarkan punggung nya di balik pintu. Dadanya terasa sesak. Sedari tadi ia mendengarkan percakapan Killa dan juga Ken diluar sana. Ingin rasanya dia keluar dan langsung memeluk gadis itu. Namun ego nya terlalu besar.
Marvin menutup matanya. Akan tetapi setiap kali dia menutup mata, bayang-bayang tentang kenyataan pahit itu semakin menghantui nya. Marvin menghela nafas dengan kasar. Lalu ia kembali duduk di kursi kerja. Mem-persibuk diri dengan mengerjakan pekerjaan nya.
Pandangan nya tak sengaja beralih ke layar komputer yang menampakan rekaman CCTV lift. Tangan nya melayang mengusap layar komputer itu. Melihat Killa yang berjalan lesu memasuki lift.
"Killa," pekiknya pelan. Ia terkejut melihat Killa yang tengah meringsut duduk di pinggiran lift sambil menangis. Marvin tidak bisa menahan air matanya lagi. Menetes beberapa kali. Marvin langsung mengusapnya. Ia memegangi dadanya yang kembali berdenyut.
Sungguh ia tidak tahan melihat Killa yang menangis. Gadis itu terlihat sangat kesakitan. Beberapa kali ia memukul-mukul dadanya. Bahkan berteriak-teriak memaki. Marvin tidak bisa mendengar makian itu tertuju kepada siapa.
Terlintas di benak nya, bagaimana cara mereka berdua bertemu. Di lift itu, Killa berlari masuk dan menabrak nya. Mengotori setelan nya yang mahal dengan bercak-kan darah. Gadis itu juga pingsan.
Flashback.
Marvin menggendong gadis yang baru saja ia temui di lift dan membawanya ke apartemen nya. Ia merebahkan gadis itu di sofa. Gadis itu pingsan karena terlalu banyak menghabiskan darah.
"Cih, kotor semua. Sangat menjijikkan, dari mana datang nya gadis ini." Marvin memegangi jas nya yang bersimbah darah gadis asing itu.
Karena melihat darah nya yang terus keluar. Marvin pun mengobati lukanya. Ia juga membersihkan tangan hadis itu yang penuh bercak darah.
Tak sengaja ia menatap wajah gadis itu. Bibir pucat, rambut ikal berantakan, dan kaca mata yang tebal. Entah apa yang membuatnya melepaskan kaca mata gadis itu.
Senyuman terukir diwajah Marvin, "Cantik." Tanpa ia sadari ia memuji wajah cantik gadis itu.
"Shit, apa yang sedang ku pikirkan." Marvin geleng-geleng kepala dan kembali memasang kan kaca mata gadis itu. Lalu ia beranjak dan pergi ke kamar nya untuk ganti baju.
Flashback off.
"Maafkan aku Killa." Kembali kata maaf keluar dari mulutnya. Marvin menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerja.
...🌹 Jangan lupa like, maaf yah author nangis sambil nulis 😠🌹...
__ADS_1