
Ting!
Pintu lift terbuka.
"Nona Killa," ucap seorang pria yang tidak sengaja lewat di depan lift yabg baru saja terbuka itu.
Killa tersentak kaget, ia mendongak melihat June yang berdiri di hadapan nya. Killa pun langsung berdiri, memperbaiki rambut yang berantakan, serta mengusap air matanya yang membanjiri wajah. Cepat-cepat ia segera pergi.
"Nona Killa, kau tidak apa-apa?" June menggapai tangan Killa, membuat langkahnya terhenti.
Killa menarik kembali tangan nya. Wajahnya menunduk seakan enggan untuk memperlihatkan kesedihan nya pada siapa pun.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya langsung berlari meninggalkan June. Pria itu mengerinyit menatap kepergian Killa.
Sesampainya di dalam apartemen. Killa di sambut dengan Naya. Naya terkejut melihat sang kakak yang dalam keadaan kacau. Naya langsung memeluk Killa.
"Ada apa kak? Kenapa kau menangis?" tanya Naya.
"Hiks hiks, aku tak bisa. Aku tak bisa seperti ini Nay."
Killa menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu berlari masuk ke dalam kamar. Membanting diri ke atas tempat tidur dan menangis menutupi wajah dengan bantal.
"Kenapa kau seperti ini Marvin? Kenapa hatimu sungguh tega membiarkan air mataku ini menetes? Bukan kah kau pernah bilang, kau tidak akan pernah membiarkan air mata ini menetes? Tapi sekarang apa? Kau bahkan tidak mau melihatku. Sakit sangat sakit rasanya, hiks hiks."
Killa beranjak dan duduk di pinggiran tempat tidur. Sesekali ia memukul dadanya yang sakit. Pandangan nya mengedar dan tak sengaja melihat koper yang pakaian nya. Ia pun menghampiri koper itu. Menariknya dengan kasar keluar dari kamar. Namun saat berada di ambang pintu. Tiba-tiba saja lututnya melemas. Killa berhenti dan terduduk di lantai. Tangisan nya kembali pecah.
"Marvin, plis. Jangan seperti ini, aku mohon. Jangan menyiksaku seperti ini." Killa kembali memukul-mukul dadanya.
"Shit, brengsek, persetan dengan semua ini. Jika ini akan terjadi kenapa kau buat aku jatuh cinta padanya ya Tuhan? Kau sungguh tidak adil padaku."
Dadanya terasa nyeri sangat nyeri. Matanya sudah tak sanggup lagi untuk mengeluarkan air mata. Bahkan isakkan nya semakin menjadi. Killa tidak bisa bernafas. Lima menit dia mendiamkan diri di posisi itu. Setelah merasa sedikit tenang. Killa kembali menarik koper itu masuk ke dalam kamar.
"Ini bukan saat nya untuk aku pergi," gumamnya dengan yakin. Ia pun pergi ke dalam kamar mandi. Membasuh wajah nya. Killa menatap wajahnya dari pantulan cermin wastafel. Bibir pucat, hidung merah, serta mata yang bengkak akibat menangis.
"Pertahankan aku Marvin, jangan biarkan aku pergi. Aku mohon padamu," ucapnya.
Setelah itu Killa pun memilih untuk menyibukkan diri dengan kembali berbelanja bahan makanan di Mini Swalayan Hotel. Ditemani dengan Naya. Killa hendak membuatkan makan malam untuk Marvin.
__ADS_1
***
Di swalayan.
Naya mendorong keranjang belanjaan mengikuti langkah sang kakak di depan nya. Sedih melihat Killa yang seperti ini. Sempat ia berpikir untuk membenci almarhum ayahnya. Karena meninggalkan luka dan kenyataan pahit ini untuk sang kakak.
"Nay, menurutmu aku harus memakai yang ini atau yang itu?" tanya Killa. Mengangkat sebuah daging yang sudah dibungkus rapi dan menunjuk daging lain nya.
"Terserah kau saja kak," jawab Naya.
"Baiklah, kalau begitu yang ini saja."
Kembali mereka berjalan mencari bahan-bahan yang lain nya.
"Nay, bukan kah kakak ipar mu menyukai ini?" Killa tersenyum lebar memperlihatkan satu bungkus ramen instan. Teringat kembali saat ia memperkenalkan pertama kalinya ramen instan kepada Marvin.
Seperti ada yang berdenyut di dalam dada Naya. Ikut perih melihat sang kakak yang mencoba bersikap tegar. Padahal Naya sangat tahu, jika Killa sangat terpukul sekarang ini.
"Kau memang benar-benar wanita yang tangguh kak," gumam Naya di belakang Killa.
"Sudah selesai?" tanya Naya.
"Sudah," jawab Killa tersenyum. "Aku tidak sabar untuk memasak makan malam untuk Marvin."
Naya diam tak menjawab. Ia membawakan barang belanjaan itu. Sambil melihat tingkah kakak nya yang sangat jelas sedang mencoba tegar sendiri. Senyuman yang ia lontarkan seakan mengatakan jika ia sudah tidak sanggup lagi.
***
Pukul sudah menunjukkan tujuh malam. Kini Killa tengah menyiapkan meja makan. Ia tak sabar menunggu kedatangan Marvin. Sedangkan Naya hanya diam menumpu dagu dengan tangan nya diatas meja. Sambil menatap gerak-gerik sang kakak.
"Kau terlihat bersemangat? Apakah karena kakak ipar akan segera pulang?" tanya Naya.
"Tentu saja, hari ini dia baru pulang dari rumah sakit. Pasti ia bosan dengan makanan rumah sakit beberapa hari ini. Karena itu aku membuatkan makan malam spesial ini untuk nya," jawab Killa panjang menjelaskan.
"Hmm, semoga saja dia suka."
"Hei, apa maksdmu? Dia pasti akan menyukainya."
__ADS_1
Ditengah percakapan mereka. Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang berjalan masuk. Killa sadar jika itu adalah Marvin. Segera ia berlari menghampiri suara langkah kaki itu.
"Marvin," sapa nya tersenyum.
Marvin terlihat kaget. Mereka saling bertatapan lama. Namun Marvin memutus nya dalam sekejap. Entah kenapa suasana menjadi canggung.
"Kau sudah pulang? Kau pasti lelah, aku sudah membuatkan makan malam untuk mu." Killa berjalan mendekat.
"Benar, aku sangat lelah hari ini. Aku mau membersihkan diri ku lebih dulu." Marvin berjalan melewati Killa.
"Tapi aku sudah memasak untuk mu," ucap Killa dengan nada sedikit kecewa.
Tanpa menatap wajah Killa Marvin menjawab, "Bawakan saja ke ruang kerja ku."
Lalu ia segera masuk ke dalam kamar. Meninggalkan sayatan luka di hati Killa. Hancur, perasaan nya sangat hancur. Bisa membayangkan rasanya berada di posisi Killa. Dia sudah berusaha kuat dan tegar. Tapi kembali hatinya di sayat hingga berdarah oleh kata-kata dan sikap Marvin.
Air matanya hendak keluar, namun Killa malah tersenyum. Menahan kuat agar tidak menangis. Ia pun kembali ke dapur.
Naya yang tau jelas apa yang terjadi. Tak mau berkomentar apapun yang akan lebih menyakiti hati sang kakak. Ia memilih diam memperhatikan apa yang dilakukan Killa.
Killa mengambil beberapa alat makan dan sebuah nampan. Ditaruh nya ke atas nampan, piring berisi steak dan beberapa makanan pendamping lain nya. Tak lupa juga ia menyiapkan susu hangat untuk Marvin.
"Kau mau bawa itu kemana?" tanya Naya pura-pura tidak mengerti.
"Ini untuk kakak ipar mu." Killa Masih sibuk mengatur.
"Kenapa? Apa dia sedang tidak enak badan? Hingga tidak bisa makan di meja makan bersama kita?" tanya Naya lagi. Nadanya seakan sinis, karena dia kesal pada Marvin yang memperlakukan kakak nya seperti itu.
"Kau benar, dia sedang tidak enak badan. Aku akan segera kembali," jawab Killa tersenyum. Ia pun segera membawa nampan berisi makanan itu ke dalam ruang kerja Marvin.
Di susun nya makanan itu di atas meja kerja Marvin. Sedangkan Marvin nya masih berada di dalam kamar. Setelah memakai piyama tidurnya Marvin pun masuk ke dalam ruang kerja.
Ia terkejut melihat Killa yang sudah ada disana. Gadis itu tersenyum dengan cerah nya. Seakan tidak terjadi apa-apa. Ingin sekali rasanya Marvin berlari dan memeluk Killa saat itu juga. Namun lagi-lagi ego nya terlalu besar, mematahkan keinginannya itu. Marvin memalingkan wajahnya.
Aku akan mencoba sekuat mungkin untuk bertahan Vin, jadi aku mohon berjuanglah juga untuk mempertahan kan aku! Batin Killa.
Maafkan aku Killa. Aku masih tidak bisa menatap wajahmu terlalu lama. Karena setiap kali aku melihat wajahmu, aku terbayang betapa sakit dan mengerikan nya kecelakaan yang menimpa orang tua ku. Maaf, ku mohon kau bisa bersabar sedikit lagi! Batin Marvin.
__ADS_1