Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 155 : Keluarga.


__ADS_3

Disisi lain.


Naya tak berhenti menatap kearah luar jendela, ketika Marvin tengah membelah jalanan ditengah hujan deras. Ia sangat mencemaskan keadaan sang kakak. Dimana dia sekarang, Naya tak bisa berhenti memikirkan nya.


"Kakak," teriak Naya. Marvin langsung menoleh kearah Naya dan memperlambat laju mobilnya.


"Kakak ipar itu kakak disana," teriaknya kembali sambil menarik-narik lengan kemeja Marvin.


"Killa." Marvin menangkap pemandangan seorang gadis sedang duduk di bangku halte. Ia pun segera memutar balik dan menuju halte itu.


Dengan cepat Naya keluar dari mobil dan menghampiri Killa. Begitu pun dengan Marvin, ia tidak perduli dengan guyuran hujan yang sangat deras. Killa terkejut, melihat kedua orang yang saat ini sangat berarti di kehidupan nya. Tepat berada dihadapan nya.


Killa pun mengusap air matanya dan tersenyum pada kedua orang itu. Sedangkan Naya tanpa aba-aba ia langsung memeluk erat Killa.


Sambil menangis Naya berkata, "Kakak, kau dari mana saja. Kau tahu, aku sangat mencemaskan mu. Aku takut terjadi apa-apa padamu, kau sangat jahat! Aku berpikir jika kau tega meninggalkan diriku."

__ADS_1


"Heh, dasar bodoh! Siapa yang akan meninggalkan mu." Killa tersenyum dan menjawab. Ia pun membalas pelukan sang adik.


"Kau yang bodoh, dasar gadis bodoh! Kenapa kau pergi begitu saja dan membuat semua orang cemas," ucap Marvin.


Killa pun menengadah menatap wajah Marvin yang basah di guyur hujan. "Apa maksudmu semua orang?" tanya nya bingung. Siapa yang akan mencemaskan nya selain Naya dan juga Marvin. Killa hanya memiliki mereka berdua di dunia ini. Jangan kan keluarga, orang tua pun dia tidak punya. Dadanya sangat sesak mengingat sepinya hidup nya tanpa orang tua dan keluarga.


"Seluruh keluarga mencemaskan mu," jawab Marvin, tangan nya terulur mengusap pucuk kepala Killa.


"Keluarga?" Lagi-lagi ia memasang wajah tak mengerti.


Sedangkan Killa dia begitu terkejut, sampai-sampai tidak bisa berkata-kata. Hati kecil nya begitu tersentuh, air matanya menetes kembali. Keluarga, ternyata orang-orang yang disebutkan oleh Marvin menganggap dirinya sebagai keluarga. Terlintas dibenaknya wajah-wajah bersahabat satu persatu orang-orang itu. Ayah Kevin, Mamah Anna, Papah Arsen, dan sepasang suami istri Gavin Reghata. Pantas kah ia berada ditengah-tengah orang-orang baik itu sebagai satu keluarga.


"Hiks, maafkan aku," ucap nya sembari terisak.


"Kau tidak salah, kenapa kau meminta maaf. Berhentilah menangis," ucap Marvin yang langsung memeluk kedua gadis itu bersamaan.

__ADS_1


"Kau dan Naya, kini sudah menjadi anggota keluarga Louis. Jadi tidak ada salahnya bukan, jika kami semua mencemaskan mu. Kau adalah istriku, dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengganggu dan menyakitimu," lanjut Marvin.


"Kakak ipar benar, kini kita berdua tidak sendirian lagi kak. Kau tahu? Untuk pertama kalinya aku merasakan kehangatan yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Kehadiran kakak ipar membuat hidup kita tidak sesunyi dahulu. Kakak ipar begitu perhatian pada kita berdua, bahkan keluarganya pun sangat baik pada kita. Mereka mau menerima kita apa adanya, dari mana tempat kita berasal dan masa lalu kita mereka tidak mempermasalah kan itu. Aku bersyukur karena kau memiliki suami yang begitu baik seperti kakak ipar. Hiks hiks," tungkas Naya yang semakin terisak.


"Sudah-sudah, kalian berdua berhentilah menangis. Kalian bisa terkena demam jika berlama-lama disini," ucap Marvin.


"Benar, Naya kau bisa sakit. Kakak gak mau sampai kau sakit," sambung Killa.


"Hmm," Naya mengangguk dan tersenyum.


"Cepat masuk ke dalam mobil," ucap Marvin seraya meraih tangan Killa dan menggenggam nya erat.


Killa menatap tangannya dan wajah Marvin secara bergantian. Marvin tersenyum dan mengangguk. Kau yang terbaik Marvin! Batin Killa.


Setelah semuanya masuk ke dalam mobil. Marvin pun langsung menancap gas menuju arah pulang. Dia tersenyum melirik kedua kakak beradik yang tengah duduk di bangku belakang. Hatinya merasa lega melihat senyuman yang tergambar diwajah Killa.

__ADS_1


Aku tidak pernah menyangka akan bertemu wanita sepertimu dan bisa jatuh cinta padamu. Terkadang takdir lah yang membawa kita bertemu dengan cinta sejati, aku berharap kau lah cinta sejati itu Killa! Batin Marvin.


__ADS_2