
"Killa tatap aku," ucap Marvin dengan meraih dagu Killa. Mensejajarkan wajah mereka. "Percayalah, ini bukan mimpi. Rasakan bahwa ini sangat nyata ... mmmhhh."
Seketika Marvin langsung mencium bibir Killa secara tiba-tiba. Membuat Killa tersentak dengan mata yang membulat. Dia merasakan bibirnya yang dibasahi oleh Marvin. Ia pun langsung mendorong tubuh Marvin menjauh.
Huft!
Killa bernafas tidak karuan sambil memegangi bibirnya. Ia menatap wajah Marvin beberapa detik. Kemudian memalingkan pandangan nya. "Kau ... apa yang kau lakukan disini?"
Killa nampak canggung dan susah untuk menelan salivanya. Bagaimana tidak, dia sangat terkejut dengan kehadiran Marvin. Pikiran nya langsung menangkap kemungkinan. Pasti Justin yang sudah memberitahu Marvin tentang keadaan nya.
__ADS_1
"Aku ... Aku ingin meminta maaf padamu," ucap Marvin gugup karena merasa tidak enak. Terlebih sikap Killa yang seakan akan enggan untuk menatap nya. Sebenci itu kah Killa padanya? Hatinya begitu sakit namun apakah itu setara dengan sakit hati yang dirasa oleh Killa? Jika dia tahu bahwa ayahnya sebenarnya tidak salah.
"Untuk apa kau minta maaf?" Killa mengusahakan diri untuk tetap tenang. Meskipun sebenarnya ingin sekali ia menghambur ke dalam pelukan Marvin. Pria yang sangat ia rindukan. Bahkan karena sangat merindukan nya, Killa sampai jatuh sakit seperti ini.
Namun Killa mengurungkan niatnya itu. Bukan karena dia marah atau benci. Tapi karena dia merasa tidak pantas. Dia adalah anak seseorang yang telah membunuh ibunya Marvin. Bayangkan betapa sesak dadanya menahan kenyataan pahit tersebut. Tidak bisa bersatu dengan orang yang ia cintai, hanya karena kesalahan masa lalu yang di perbuat ayahnya.
"Killa, aku tahu kau pasti sangat membenciku. Kau juga pasti sangat kecewa, karena sikap dingin ku." Marvin mencoba meraih tangan Killa. Namun Killa menarik tangan nya, menyelipkan nya ke dalam selimut.
"Bohong, aku tahu kau sangat merindukanku. Begitu pun juga, aku sangat merindukan mu Killa." Marvin mendekat dan langsung memeluk Killa dengan begitu erat.
__ADS_1
"Maafkan aku yang sudah mengabaikan mu. Aku janji aku tidak akan seperti itu lagi. Tolong berikan aku kesempatan, Killa."
"Kesempatan apa Vin?" Killa mendorong kembali tubuh Marvin. Tanpa ia sadari air matanya sudah kembali mengalir. "Kau tahu sendiri kan, siapa ayahku? Ayahku adalah orang yang sudah membunuh ibumu. Apa kau sanggup hidup dengan anak seseorang yang sudah sangat bersalah pada keluargamu?"
"Tidak, kau salah Killa. Aku pun salah, kita semua sudah di bodohi oleh Kikan. Wanita brengsek itu sudah memanipulasi rekaman yang kau dengar waktu itu. Ayah mu tidak terlibat atas kematian ibuku," ucap Marvin.
Deg!
Killa terkejut. Apa-apaan ini semua? Persetan dengan takdir, jika yang diucapkan Marvin benar. Terus kenapa dia harus merasakan sesaknya rasa bersalah tersebut? Bahkan harus menerima perlakuan dingin Marvin waktu itu? Tangan Killa mengepal, merasa geram dengan Kikan yang sudah membodohi nya. "Brengsek kau Kikan," pekiknya pelan dengan gigi yang menggeretak.
__ADS_1
"Jadi aku mohon, berikan aku kesempatan Killa. Kembalilah bersama ku." Marvin kembali memohon, berharap Killa akan memberikan dia kesempatan. Namun nyatanya tidak sesuai dugaan nya.
Wajah Killa berubah pias, ia menatap Marvin dengan mata yang berapi-api. "Heh, kau bilang kesempatan? Apa kau sadar saat itu? Jika perlakuan mu itu sudah sangat menyakitiku Marvin."