
Keesokan paginya.
Marvin terbangun karena mendengar bunyi ponselnya. Segera ia meraba balik bantal nya, dilihatnya nama yang tertera di layar panggilan nya.
"Ayah?"
Dengan cepat Marvin mengangkat nya.
"Ya ayah? Ada apa sepagi ini kau menelpon ku?" tanya Marvin dengan suara lesu. Sembari melirik jam yang tergantung di dinding. Masih menunjukan pukul tujuh pagi.
"Ayah baru saja sampai, temui ayah di kantor dua puluh menit lagi. Apa kau lupa? Sebentar lagi pertemuan kedua para pemegang saham akan di adakan pagi ini jam delapan. Cepatlah bersiap, dan temui ayah dua puluh menit lagi di kantor mu."
Panggilan terputus.
"Shit, bagaimana bisa aku melupakan pertemuan itu?"
Marvin panik dan langsung beranjak pergi ke dalam kamar mandi. Membasuh wajah dan membersihkan diri secepat mungkin.
"Aggh, tubuhku terasa sakit karena tidur di sofa." gerutunya seraya membasahi tubuhnya dengan guyuran air hangat shower.
Setelah selesai mandi. Marvin pun segera pergi ke kamar nya. Untuk mengambil setelan kerjanya. Perlahan ia membuka pintunya dan menyelinap masuk. Dilihatnya Killa yang masih tidur dengan nyenyak. Marvin tidak ingin membangunkan nya.
Cups!
Satu kecupan hangat mendarat di kening Killa. "Tunggu aku Killa, hari ini aku akan memberitahukan mu sesuatu. Tapi tidak bisa sekarang, aku masih harus menghadiri pertemuan penting. Aku sudah tidak sabar untuk memeluk mu kembali."
Marvin terlihat bersemangat. Senyuman merekah di wajahnya. Semalaman ia sudah berpikir keras. Berperang antara batin dan perasaannya. Kini ia semakin yakin, perkataan Naya benar. Dia tidak seharusnya memperlakukan Killa sedingin itu. Killa, Naya, atau pun dirinya, tidak salah dalam hal ini. Semua hanya masa lalu, ia bertekad ingin menatap ke masa depan dan tidak berpacu pada masa lalu lagi.
Jika memang ayah nya Killa terlibat atas kematian ibunya. Bukan berarti Killa yang akan menanggung semua dosanya. Yang Marvin harus lakukan adalah memaafkan dan melupakan semua itu. Ia yakin ibunya juga tidak ingin dia terus hidup dalam dendam. Mengingat bagaimana sifat sang ibu yang ia tahu dari ayahnya dan semua orang. Dia adalah wanita hebat yang mempunyai hati sebaik dan selembut malaikat.
__ADS_1
Marvin melirik arloji di tangan kirinya. Dia sudah terlambat. Marvin pun segera berlari keluar dari kamar. Namun tanpa ia sadari Killa sempat melihat ia berlari keluar dari kamar. Dengan cepat Killa bangun dan tergesa-gesa mengejar Marvin.
"Marvin," teriak Killa beberapa kali. Namun Marvin tak mendengarnya. Sampai-sampai ia tidak sengaja terpeleset di dekat pintu keluar.
"Hiks hiks," tangisan nya pecah. Sakit sekali hatinya melihat Marvin yang buru-buru pergi. Bahkan sepagi ini dia sengaja turun kerja cepat. Hanya untuk menghindari bertemu dengan nya. Killa semakin merasa sesak berada di rumah itu.
Naya yang mendengar kegaduhan dari teriakan dan tangisan Killa pun terbangun. Dengan cepat ia keluar kamar, takut terjadi apa-apa pada kakak nya.
"Kakak," teriaknya menghampiri Killa yang terduduk di lantai sambil menangis.
"Hiks hiks, jangan menangis kak, aku tahu ini pasti sangat menyakitkan. Tapi aku mohon jangan menangis, hiks hiks." Naya ikut menangis memeluk sang kakak.
"Hiks hiks, apa dia benar-benar sudah tidak mengharap kan kehadiran ku Nay? Apa aku benar-benar tidak ada lagi dihatinya? Sakit, dada ku sangat sakit Nay, menahan semua ini aku tidak sanggup lagi. Hiks hiks," ucap Killa sambil terisak-isak.
Belum sempat Naya menjawab ucapan nya. Killa langsung berdiri dan berlari ke dalam ruang kerja Marvin. Hatinya semakin sakit melihat nampan makanan yang terletak di atas meja kerja. Tidak di sentuh sedikit pun.
"Hiks hiks, aku sudah tidak sanggup lagi." Killa memegangi dadanya dan bernafas terengah-engah. Sesak sekali rasanya. Seperti sudah tidak dibutuhkan lagi, perasaan nya begitu hancur.
"Nay, aku sudah tidak sanggup lagi. Mungkin ini yang dia mau, aku menghilang dari hidupnya. Selamanya akan sama Nay, dia tidak akan pernah memaafkan ayah kita. Bahkan jika aku bertahan, hanya akan menyiksa diri kami masing-masing."
Killa membereskan kembali pakaian nya yang sempat ia bongkar dari dalam koper.
"Tapi kak, apa kau yakin? Kemana kita akan pergi? Kakak ipar pasti akan bisa menemukan kita."
"Apa yang kau harapkan Nay? Dia mencari kita? Aku tidak yakin, bahkan mungkin dia tidak perduli jika kita pergi. Karena dia sudah tidak mencintaiku lagi Nay."
"Tapi kak."
"Cepat bereskan pakaian mu dan bersiap."
__ADS_1
"Apa kita pergi pagi ini juga?" Naya seakan berat untuk pergi. Di satu sisi dia merasa tempat paling aman untuk dia dan sang kakak adalah di tempat ini. Namun di sisi lain, dia juga tidak mau sang kakak semakin tersakiti karena sikap dingin kakak iparnya.
Akhirnya Naya pun mengikuti kemauan Killa. Karena kemana pun kakaknya pergi, dia tidak mungkin tinggal. Pasti dia akan mengikuti dan mendampingi nya.
Naya pun keluar dari kamar Killa. Ia kembali ke kamar nya dan bersiap-siap. Meskipun tidak tahu pasti kemana tujuan nya. Tapi Naya yakin kakak nya tahu yang terbaik buat mereka.
Sepeninggal Naya.
Killa menghentikan apa yang dilakukan nya. Dia memandangi ke seluruh isi kamar itu. Sedih rasanya karena harus meninggalkan sejuta kenangan indah di kamar itu bersama Marvin. Bagaimana cara cinta perlahan datang yang membuat mereka berdua semakin dekat. Berat sekali rasanya hati untuk meninggalkan Marvin.
Namun apa dayanya? Dia juga punya kesabaran. Perasaan nya sudah terlanjur sakit dan tidak tahan diperlakukan dingin oleh Marvin. Mungkin ini adalah yang terbaik, pikirnya. Kepergiannya akan membuat Marvin merasa tenang, dan tidak bimbang dalam memilih keputusan.
Killa merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang. "Bisa kah kau menjemput ku dan Naya sekarang juga?" ucapnya.
"Sekarang? Sepagi ini?" balas seorang pria di sebrang panggilan nya, yang tak lain adalah Justin. Nada bicara Justin seakan tidak percaya.
"Iya, sekarang."
"Apa kau yakin? Apa kau sudah membicarakan nya dengan Marvin tentang itu? Aku tidak mau kau akan menyesal di kemudian hari Killa?"
"Kenapa? Apa kau tidak mau membantu ku kali ini?"
"Bukan seperti itu. Tapi aku hanya tidak mau, kau menyesal dan tersakiti sendiri. Entah kenapa aku merasa Marvin pasti akan menerima kenyataan itu. Apa kau sudah bicara padanya?"
"Aku sudah bicara padanya, dan sekarang sikap nya berubah. Ia bersikap dingin dan acuh padaku. Tolong aku kali ini saja untuk terakhir kali nya, selanjutnya aku tidak akan meminta pertolongan mu lagi."
"Apa maksdmu? Aku akan selalu membantumu jika kau meminta bantuan padaku."
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di lobby hotel dua puluh menit lagi."
__ADS_1
Panggilan terputus. Killa menghela nafas panjang. Sambil memegangi kepala nya yang terasa berdenyut lagi. Ia pun berusaha untuk tetap kuat. Killa beranjak dan bersiap-siap untuk pergi. Ia sudah janji akan menemui Justin di lobby hotel sekitar dua puluh menit lagi.