
Klik!
Suara pintu yang dikunci. Hanna terkejut dan langsung menoleh kearah pintu. "Nona Killa? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengunci pintunya?"
"Aku tidak menguncinya," ucap Killa tersenyum dan menggeleng. "Aku hanya memastikan kau tidak bisa pergi kemana-mana."
"Kau mau apa? Jangan berani macam-macam padaku," tangkas Hanna dengan mata membulat. Hanna melangkah mundur ketika Killa berjalan mendekat.
"Kenapa? Apa kau takut? Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu Nona Hanna," ucap Killa tersenyum sembari memutari meja mendekati Hanna.
Punggung Hanna menabrak dinding kaca. Dengan nafas yang sudah tidak karuan. Hanna mengusap peluh yang membasahi keningnya. "Jangan mendekat, tolong! Siapa pun tolong aku," teriak Hanna.
"Hahaha, tidak akan ada yang mendengar mu Nona Hanna. Kenapa kau tidak meminta pertolongan teman mu?"
"Teman? Apa maksudmu?"
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Hanna. Hanna pun menatap Killa dengan kesal, sambil memegangi pipinya yang memanas.
"Kau sudah gila?" teriak Hanna tidak terima.
"Panggil teman mu yang sudah membuat mu berani main-main dengan ku Nona Hanna." Killa mengelus pipi Hanna yang memerah. Membuat Hanna bergetar ketakutan.
Karena sudah merasa tidak bisa menahan amarah lagi. Akhirnya Killa mencengkram kuat leher Hanna. Mendorong nya kuat ke arah dinding kaca itu.
"Mmhhh, lepaskan aku! Aku tidak bisa bernafas," jeritnya dengan nada tertahan. Wajahnya sedikit memucat karena hampir kehabisan oksigen.
"Kau pantas mendapatkan nya."
Ia tersenyum menyeringai lebar. Sambil menatap Hanna dengan tatapan membunuh. "Sudah berapa kali aku mengingatkan mu, untuk tidak menganggu diriku. Tapi kau tetap melakukan nya, membuat kesabaran ku habis."
"Mmmhh ... Mmmhhh ... A-ku tidak bi-sa bernafas, to-tolong lepaskan a--aku." Hanna mencoba melepaskan cengkraman tangan Killa. Namun sia-sia tenaga Killa lebih besar dari nya.
Sedetik kemudian Killa melepaskan cengkraman nya, lalu menghempaskan tubuh Hanna ke arah meja kayu. Hanna meringis memegangi perutnya yang terkena ujung meja.
"Kau sudah gila, dasar wanita tidak waras."
Ia hanya tertawa mendengar perkataan yang dilontarkan Hanna. Ia pun kembali menjambak rambut Hanna. "Telpon dia sekarang," bentak nya.
"Siapa? Aku tidak mengerti siapa yang kau maksud?"
"Heh, masih belum mau mengaku? Baiklah, kau yang memintanya."
Ia pun meraih pisau buah yang ada di atas meja. Lalu mengarahkan nya tepat di leher Hanna. Hanna tersentak kaget, ia menjerit ketakutan.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah, aku akan menelpon nya. Tolong jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup, plis."
Keringat bercucuran di sekujur tubuh Hanna. Ia memegangi tangan Killa dengan air mata yang berderaian. Hanna memohon agar Killa tidak membunuhnya.
"Telpon dia sekarang, atau aku akan--."
"Jangan, plis plis. Ini aku akan menelpon nya."
Gelagapan Hanna langsung merogoh ponsel di sakunya. Dengan tangan gemetaran ia mencari kontak orang yang dimaksud Killa. Yang tak lain adalah Kikan.
Matanya membulat dengan rahang yang mengeras. Tidak salah lagi, Hanna memang berhubungan dengan Kikan. Ia melihat dengan jelas kontak Kikan yang dihubungi oleh Hanna.
Lama menunggu, panggilan pun tersambung.
"Halo," ucap Hanna gugup karena ditatapi dalam-dalam oleh Killa.
"Halo, ada apa kau menelpon ku. Bukankah aku sudah bilang, jangan menelpon ku jika bukan di tengah malam," sahut seorang wanita diseberang sana.
Killa pun tersenyum tipis mendengar suara Kikan yang begitu jelas. Ia pun menghela nafas panjang, kemudian menjawab.
"Apa kabar wanita jalang."
"Killa?"
"Kenapa? Apakah kau sangat terkejut?"
"Dia ada disebelah ku. Kau pikir dengan menggunakan dia kau bisa membuatku hancur? Kau salah, kau tahu dengan jelas bagaimana diriku."
"Dasar wanita jalang."
"KAU YANG JALANG." Killa memaki balik. Tangan nya mengepal memukul meja kayu.
"Sampai bertemu kembali," lanjutnya dengan seringaian mengerikan.
Panggilan pun terputus.
"Aagggghh!"
Ia berteriak sambil melempar ponsel Hanna kelantai. Ia memegangi kepala belakangnya yang terasa nyeri. "Kikan, kau sudah benar-benar membuat ku muak. Aku akan membalas mu."
"Awwh," ia meringis pelan ketika sesuatu yang tajam menancap di bahu kanan nya. Ia pun menoleh ke arah belakang. "Kau," ucapnya melotot.
Menatap Hanna yang syok dengan tangan bergetar. Wanita itu terduduk di lantai sambil memegangi tangan nya yang penuh darah.
"Akhh shit!" Ia mencabut pisau buah yang ditancap kan Hanna tepat di bahu kanan nya. Lalu melemparkan pisau itu ke sembarang arah. Ia pun berjalan mendekati Hanna, kemudian menjambak kuat rambut panjang wanita itu.
__ADS_1
"Berani sekali kau," ucapnya sembari terus menarik paksa Hanna ke arah jendela yang terbuka. Kemudian ia mendorong tubuh Hanna keluar dari jendela.
"Aaaaa, lepaskan aku. Tolong, tolong maafkan aku. Aku takut, aku sangat takut hingga tidak sadar melakukan itu. Tolong ampuni aku Nona Killa. Tolong, aku janji tidak akan mengganggu mu lagi."
"Tidak, aku tidak akan mengampuni apa yang sudah kau lakukan. Kau pantas mati untuk itu."
Ia semakin mendorong tubuh Hanna keluar dari jendela. Membuat Hanna semakin ketakutan dan menjerit meminta tolong. Amarah nya sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Rasa sakit yang ia rasakan di bahu, membuatnya tersadar. Wajah Marvin dan Naya yang sedang tersenyum, terlintas dibenak nya. Seketika ia pun melepaskan tubuh Hanna.
"Pergilah," lirihnya seraya berbalik badan.
"Terima kasih Nona Killa, aku berjanji tidak akan mengganggu hidup mu lagi."
"Pergi sejauh mungkin dan jangan menampakan wajah mu lagi di hadapan ku. Karena bisa saja aku kehilangan kendali lagi dan membunuhmu dengan keji."
"Baik baik, aku akan pergi sejauh mungkin."
Hanna pun bergegas pergi dari ruangan itu. Dengan langkah gontai dia berlari sejauh mungkin. Meskipun masih sangat syok dengan kejadian barusan. Hanna benar-benar sudah sadar, dan berjanji tidak akan menampakan wajah di depan Killa lagi.
Setelah Hanna pergi, Killa pun membereskan bekas noda darah nya yang menetes dilantai. Sebelum para karyawan kembali dari makan siang mereka. Setelah beres, Killa pun kembali ke meja kerjanya.
Entah kenapa kepalanya terasa pusing dan pandangan nya mulai kabur. Segera ia meraih blazer nya dan menutupi bahunya yang berdarah agar tidak ada yang melihat. Ia pun kemudian bergegas menuju pintu lift.
Bugh!
Bahunya yang luka tadi bertabrakan dengan bahu seseorang.
"Nona Killa," sapa seseorang itu.
"Ketua tim June," sapa nya membungkuk sedikit.
"Ada apa dengan mu? Apa kau sakit? Wajah mu sangat pucat," tanya June.
"Hah? Tidak aku tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan," jawab nya kikuk.
"Benarkah? Kau mau kemana sekarang? Bukan kah jam makan siang sudah selesai?" June menatap Killa dengan tatapan menyelidik.
"Aku baru selesai mengerjakan beberapa berkas hingga melewati waktu makan siang ku."
"Baiklah, jangan lupa untuk segera kembali."
"Baik," jawab nya seraya berlari masuk kedalam lift.
June tak berhenti menatap kearah pintu lift yang baru saja menutup. Ia merasa begitu aneh melihat tingkah Killa. Saat dirinya hendak melangkah pergi, ia tak sengaja melihat ada bercak darah dilantai. Ia kembali menoleh kearah lift, mungkin saja itu Killa. Namun ia tak mau memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia pun segera berjalan menuju ruangan kerjanya.
Sedangkan di dalam lift. Killa nampak sedang menahan rasa sakit di bahunya yang terus berdenyut. Ia berpegangan pada dinding steinless lift. Sambil mengatur nafas nya. Tidak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Segera ia melangkah keluar dan menuju apartemen Marvin.
__ADS_1
...🌹 Jangan lupa like dan follow Ig Author @Muss.prvt 🌹...