Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 189 : Ini yang terbaik.


__ADS_3

Di ruangan Dokter yang menangani Killa.


"Tuan Justin, maaf sebelumnya. Saya ingin bertanya, apa Tuan Justin adalah suami Nona Killa?" tanya Dokter dengan raut tidak enak.


"Hmm, saya bukan suaminya," jawab Justin dengan berat hati. Namun itulah kenyataan nya.


"Jadi, dimana suami Nona Killa?" tanya Dokter itu kembali.


Lagi-lagi Justin menghela nafas dan menjawab dengan berat. "Tidak ada, dia berada di jauh dari kota ini."


"Kalau begitu saya akan menyampaikan nya kepada Tuan Justin, mengenai keadaan Nona Killa juga kandungan nya."


"Ada apa dengan kandungan nya? Apa ada sesuatu yang sangat serius?"


"Benar Tuan, Nona Killa dan kandungan nya dalam keadaan bahaya."


Justin mengerinyit, "Bahaya?"


"Jika Nona Killa terus mengalami stress yang berlebihan. Itu akan berdampak dengan keselamatan sang bayi. Begitu pun juga dengan keselamatan Nona Killa. Jika terlalu banyak mengeluarkan darah, bisa-bisa Nona Killa akan keguguran. Itu tidak bisa sembarangan, Bayi meninggal di dalam kandungan bisa membuat sang ibu dalam bahaya."

__ADS_1


Justin terdiam mendengar penjelasan Dokter mengenai Killa. Tanpa sadar tangan nya mengepal, Justin bingung harus berbuat apa. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap Killa.


"Tadi waktu Nona Killa sedang diperiksa, dia terus memanggil-manggil nama seseorang."


Deg!


Tiba-tiba dadanya seperti ada yang pukul. Tidak mungkin pikirnya. "Siapa yang dia sebut?" tanya nya dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Seakan tidak sanggup mendengar jawaban nya.


"Nona Killa memanggil-manggil nama Marvin, Marvin Louis."


Dor!


"Baiklah, kalau begitu terima kasih Dokter." Justin beranjak dari kursinya. Ia berjalan dengan gontai keluar dari ruangan dokter. Diluar ruangan ia bersandar pada dinding. Menutupi setengah wajahnya dengan telapak tangan. Ia menahan tangisnya, hingga dadanya yang terasa sesak. Namun sesaat kemudian dia mengusap wajahnya dan menarik nafas panjang. Mencoba untuk tenang.


"Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Maafkan aku Killa, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku melakukan ini semua demi kebaikan mu."


Justin merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Langsung menghubungi seseorang yang pastinya bisa membuat keadaan Killa membaik. Yang tak lain adalah Marvin.


"Aku akan memberitahumu sekarang Killa ada dimana, tapi kau harus cepat kemari. Jika tidak, aku mungkin tidak akan menjamin kau bisa bertemu lagi dengan nya atau tidak."

__ADS_1


Itulah kata-kata yang diucapkan Justin kepada Marvin yang berada di seberang panggilan. Yang pastinya membuat Marvin langsung bersemangat untuk menjemput Killa kembali.


***


Sedangkan di dalam ruangan VIP tempat Killa dirawat. Justin membuka pintu dengan perlahan, agar tidak mengganggu Killa yang masih belum sadar. Justin pun duduk di kursi tepat di sebelah tempat tidur. Memandangi wajah pucat Killa yang diberi selang oksigen, untuk membantunya bernafas.


"Bencilah padaku setelah ini, tapi aku tidak menyesal. Karena aku tahu inilah yang terbaik untukmu bahkan untuk bayi yang ada di kandungan mu. Bahagia lah bersama Marvin, kalian memang ditakdirkan untuk bersama. Jangan memikirkan masa lalu dan ego kalian masing-masing. Menatap lah kedepan, dengan begitu aku juga akan mencoba melepaskan mu seutuhnya."


Tangan Justin terulur hendak mengusap wajah Killa. Namun ia tersentak kaget. Ketika Naya membuka pintu secara tiba-tiba. Justin jadi gelagapan dan menarik kembali tangan nya. Memasukan nya ke dalam saku celana.


"Kakak," teriak Naya. "Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku jika kau sedang hamil. Hiks hiks," tangisan nya pecah.


"Kau, kenapa kau juga tidak memberitahuku tentang Kakak? Kenapa baru sekarang?" Naya menatap sengit Justin dengan mata yang berairan.


"Diam lah, kakakmu sedang istirahat. Jika dia sudah sadar, jangan membuatnya banyak pikiran dengan semua pertanyaan bodoh mu itu. Sekarang kau sudah tahu tentang keadaan nya. Jadi diam lah, dan lakukan hal yang baik untuk nya." Justin memberi Naya pengarahan. Ia pun beranjak dari kursi lalu pergi keluar dari ruangan itu.


"Kakak, kau baik-baik saja kan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu," lirih Naya dengan isakan nya. Ia menangis sambil menggenggam tangan Killa.


...🌹 Jangan lupa like di setiap episode yah, yang belum like yuk kembali lagi ke atas untuk like. Karena like dari kalian sungguh berarti untuk author😊🌹...

__ADS_1


__ADS_2