Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 167 : Tidak pantas.


__ADS_3

Hancur nya hati dan perasaan Killa saat ini. Membuatnya hampir tidak bisa bertahan. Ia meringsut duduk di kursi tunggu di depan ruangan IGD rumah sakit. Matanya yang terus mengeluarkan cairan bening itu. Tak bisa berpaling sedetik pun dari pintu ruangan IGD.


Karena di dalam sana ada seseorang yang sangat ia cintai tengah berjuang antara hidup dan mati. Entah dari mana datang nya peluru-peluru itu yang membuat Marvin terluka parah.


Segera Killa berdiri dan menghampiri dokter dan beberapa perawat yang keluar dari ruangan IGD.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya? Dia baik-baik saja kan," tanya nya dengan kedua tangan yang dikatupkan di depan dada.


"Maaf, tapi saya harus memberitahukan tentang keadaan Tuan Marvin."


"Ada apa? Dokter jangan buat saya semakin cemas dan panik."


"Peluru masuk ke dalam rongga dada Tuan Marvin. Arteri jantung nya hampir tertekan. Jika tidak segera di lakukan operasi, gagal jantung adalah kemungkinan yang akan terjadi."


"Tidak, dokter tolong lakukan yang terbaik. Selamatkan suami saya, hiks hiks." Ia terisak kembali sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Saya butuh persetujuan dari keluarga pasien untuk melakukan operasi."


"Lakukan yang terbaik." Seiring dengan suara langkah kaki yang mendekat.


Killa dan Dokter sama-sama terkejut dan menoleh kearah sumber suara. "Ayah Kevin?" lirih Killa.


"Selamat kan anak saya, dan lakukan yang terbaik," ucap Ayah Kevin kepada Dokter.


"Baik Tuan, kami akan segera melaksanakan operasi nya." Dokter membungkuk hormat lalu pergi bersama beberapa perawat.


"Killa," panggil ayah Kevin pada Killa.


"Ayah, hiks hiks." Killa tak sanggup lagi, ia menghambur memeluk Ayah Kevin.


Ayah Kevin mengelus-elus kepala Killa. "Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada Marvin. Ayah yakin dia pasti akan bertahan demi kamu, separuh hidupnya ada pada dirimu sekarang. Berdoalah agar Tuhan menyelamatkan."


"Hiks hiks, maafkan aku. Marvin terluka karena aku. Jika aku tidak pergi kesana, Marvin tidak akan terluka. Ini semua salah ku. Hiks hiks."


Killa menyalahkan dirinya sendiri. Ia menangis hingga dadanya sesak dan kepala nya terasa nyeri. Ayah Kevin mengajak Killa untuk duduk di kursi tunggu.


"Ken, berikan air minum untuk Killa," perintah Ayah Kevin pada Ken. Dengan sigap Ken pun memberikan sebotol air mineral pada Killa.


Bagaimana bisa aku tenang jika kau di dalam sana sedang berjuang untuk hidup? Maafkan aku. Batin Killa. Ia hanya menatap kosong botol air mineral itu.


"Killa," panggil Ayah Kevin memegang bahu Killa.


Killa menatap sendu wajah Ayah Kevin lalu kembali berpaling. Begitu banyak kepedihan yang kalian alami selama ini. Bahkan betapa kesepian dan menyakitkan nya kehidupan Marvin yang tidak pernah bertemu ibu kandung nya. Apakah aku pantas menerima kebaikan ini dan terus berada di sisi Marvin? Ya Tuhan, kenapa kau membuat jalan takdir ku begitu menyakitkan seperti ini? Batin Killa.


Tidak sanggup untuk menatap wajah Ayah Kevin. Apalagi mengingat betapa hangat nya dia menerima Killa dan Naya dalam keluarga nya. Tapi kenapa kenyataan sangat pahit membuat hal yang manis tidak berangsur lama. Ayahnya terlibat dalam kecelakaan yang sudah merenggut nyawa Mia ibunya Marvin.


"Minumlah, kau harus kuat. Marvin masih membutuhkan mu disisinya. Ini semua bukan lah salahmu." Ayah Kevin tersenyum padanya. Seakan dia tahu apa yang sedang Killa pikirkan.


Membuat Killa malah semakin sesak dan air matanya semakin deras. Jangan seperti ini ayah, jangan perlakukan aku sebaik ini. Aku tidak pantas menerimanya. Jika kau tahu yang sebenarnya, mungkin kau tidak akan pernah memperlakukan aku sebaik ini. Bahkan berniat pun tidak mau.

__ADS_1


***


Beberapa jam kemudian. Lampu ruangan operasi mati, menandakan operasi telah selesai. Terlihat pintu nya terbuka. Keluarlah dokter tadi bersama satu orang perawat yang membawakan berkas hasil operasi.


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ayah Kevin.


"Operasi berjalan lancar, Tuan Marvin akan segera dipindahkan keruangan rawat inap."


"Apa dia sudah sadar?"


"Belum, mungkin sebentar lagi. Karena obat bius nya masih bekerja. Mohon bersabar."


"Syukurlah jika operasinya berjalan lancar," ucap Ayah Kevin seraya menghela nafas lega. Nyawa sang anak bisa diselamatkan.


Dokter melirik ke arah Killa lalu kembali menatap Ayah Kevin. Membuat Killa merasa ada yang aneh.


"Tuan Kevin, sebaiknya anda ikut ke ruangan saya. Ada yang ingin saya sampaikan."


"Baiklah," ucap Ayah Kevin.


"Ayah, Killa ikut," sergah Killa melirik Dokter itu.


"Tidak, kau tetap disini. Sebentar lagi Marvin akan di pindahkan ke ruangan nya. Ayah akan beritahu padamu jika ada sesuatu yang serius." Ayah Kevin mencoba membuat Killa mengerti. Karena dia bisa merasa jika sang dokter sepertinya tidak ingin Killa mendengar apa yang akan dia beritahu.


"Baiklah," jawab Killa dengan nada lirih. Dia menatap kepergian Dokter dan Ayah Kevin. Semakin yakin ada yang aneh.


"Ada apa Nona?" jawab Ken sigap.


"Pergilah dan temani Naya. Aku yang akan menjaga Marvin disini."


"Tapi Nona--"


"Ken plis, aku hanya percaya Naya akan baik-baik saja jika bersama mu."


"Baiklah Nona, aku pergi. Jika ada sesuatu hubungi saja saya."


"Iya, pergilah." Killa mengangguk.


Ken pun segera pergi. Tidak lama kemudian. Pintu ruang operasi kembali terbuka lebar. Dengan di dorong oleh beberapa perawat, bankas tempat Marvin terbaring. Dibawa untuk dipindahkan ke ruangan VIP yang sudah disiapkan.


Setelah sampai di dalam ruangan. Seorang perawat pun memberitahukan Killa apa saja hal yang mesti diperhatikan. Dengan seksama Killa mendengarkan nya. Perawat itu pun pergi. Menyisakan mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Marvin," panggilnya seraya duduk di kursi tepat samping Marvin terbaring.


Air mata Killa kembali menetes. Ia meraih tangan kanan Marvin dan menggenggam nya erat. Lalu menciuminya beberapa kali. Menempelkan dipipi nya.


Dingin, itulah yang dia rasakan. Tangan Marvin masih terasa sedingin es. Membuat Killa kembali teringat kejadian mengerikan tadi. Saat peluru-peluru itu menembus tubuh Marvin.


"Kenapa kau mengikuti ku? Bukan kah aku sudah katakan jika aku hanya pergi sebentar. Kau sangat keras kepala Marvin."

__ADS_1


Ia mengelus lembut pipi Marvin. Bibir Marvin yang terlihat pucat ia kecup. "Itu hukuman untukmu yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan perkataan ku."


Lagi-lagi air matanya menetes. Ia mengingat bagaimana Marvin biasanya menghukumnya dengan kecupan itu. Dia melakukan hal persis yang dilakukan oleh Marvin.


"Hiks hiks, maafkan aku. Ini semua salahku." Ia menangis menundukkan kepala nya.


Deg!


Tiba-tiba saja dia merasa sesuatu menyentuh kepalanya. Killa pun mendongakkan kepalanya. Melihat Marvin yang telah membuka mata dan tersenyum padanya.


"Marvin," lirihnya.


"Apa kau baru saja memberikan hukuman padaku?" ucap Marvin dengan nada lemah. " Dasar gadis bodoh yang cengeng."


"Kau yang bodoh, kenapa kau mengikuti ku?" Killa memanyunkan bibirnya seraya mengusap air mata nya.


"Baiklah, aku memang bodoh. Aku bodoh karena siapa? Karena kau, kau yang membuat aku bodoh selama ini," ucap Marvin tersenyum dan mengusap sisa air mata Killa.


"Marvin kau sangat bodoh, bagaimana bisa kau terus membahayakan diri demi aku." Killa memukul pelan bahu Marvin.


"Awwh," ringis Marvin pelan.


"Maaf maaf," panik Killa.


Marvin tersenyum. "Bodoh, tangan ku yang sakit ada disini." ucapnya seraya menunjuk tangan kanan nya.


"Issh, kau ini." Killa mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya. "Ini semua salahku," lirihnya kemudian.


"Hei, siapa bilang ini salahmu? Apapun itu pasti kau bilang salahmu, kenapa tidak sekalian saja kau mengaku di kantor polisi. Jika ada kasus pembunuhan bahwa kau yang bersalah."


Deg!


Tiba-tiba saja Killa teringat kenyataan bahwa ayah nya terkait dengan kematian ibunya Marvin. Killa menelan salivanya yang sekeras batu.


"Aku hanya bercanda, kenapa wajahmu terlihat pucat? Tersenyumlah, karena berkat kau aku selamat." Marvin mengusap pucuk kepala Killa.


"Hah? Berkat aku?" tanya Killa mengerinyit.


"Karena aku tidak akan mati sebelum membahagiakan mu. Kita harus menjadi orang paling bahagia di dunia ini, dan menua bersama. Lalu mati dengan damai meninggalkan kenangan bahagia semasa hidup."


Killa kembali menangis. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia semakin merasa bersalah dan tidak pantas. Tapi disisi lain perasaan nya berkecamuk. Ia tidak sanggup jika harus meninggalkan Marvin karena hati tidak bisa dibohongi. Dia sangat mencintai Marvin.


"Kau terharu dengan perkataan ku? Sampai-sampai air matamu keluar. Baiklah aku biarkan kali ini karena aku yakin itu air mata bahagia. Tapi kedepan nya aku tidak akan merelakan air mata itu keluar dengan alasan kesedihan."


"Terima kasih Marvin. Semua yang kita lewati bersama, sudah membuatku bahagia. Aku tidak akan melupakan kenangan indah kita."


"Hei, apa-apaan kau ini. Kenapa bicara seperti itu, seakan kau akan pergi jauh. Tarik kembali kata terima kasih itu. Karena belum saat nya kau mengatakan nya."


Marvin tersenyum begitu pun dengan Killa. Meskipun hati dan perasaan nya sedang berkecamuk. Namun dia tidak mau membuat Marvin jadi cemas. Ia memilih menyembunyikan perasaan nya yang hancur dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2