Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 54 : Suasana hati yang susah ditebak.


__ADS_3

Naya berlari keluar dari apartemen Marvin. Dia begitu kesal dengan sang kakak. Dari awal dia sudah menebak jika makan malam kali ini pasti akan berantakan. Masakan kakaknya memang sangat buruk, tapi dia selalu membanggakan masakan nya itu.


"Membuat selera makan ku hilang saja! Tau begini kan mending tadi aku beli makan diluar saja!" Naya menggerutu sambil berjalan menuju lift.


Namun tiba-tiba saja dari belakang seseorang menempelkan sebuah mantel padanya. Sontak Naya sangat terkejut dan langsung menoleh.


"Asisten Ken?" ucap Naya ketika mendapati sosok Ken.


"Diluar sangat dingin Nona! Jangan sampai sakit, Nona Killa dan Tuan Marvin pasti sangat khawatir!" ucap Ken tersenyum dengan lebarnya.


"Kau benar asisten Ken! Karena terlalu kesal, aku sampai melupakan mantel ku!" ucap Naya seraya kembali melanjutkan langkah nya yang terhenti.


"Cukup panggil saya Ken saja Nona! Biar lebih singkat dan akrab terdengarnya!" Ken mensejajarkan langkah nya dengan Naya.


Naya menoleh dan tersenyum. "Baiklah Ken!"


Mereka pun masuk bersama kedalam lift.


"Nona mau kemana?" tanya Ken.


"Entahlah!" jawab Naya singkat. Dia sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana jika saya mentraktir Nona makan malam!" ucap Ken menawari Naya makan malam.


"Hmm, boleh juga! Tapi kita akan makan malam dimana? Masakan direstauran hotel ini, aku sangat tidak menyukainya! Terlalu mewah!" ucap Naya.


"Bagaimana jika kedai yang tidak jauh dari hotel ini! Ada kedai langganan saya yang menyediakan Sanggyoppal!" ucap Ken.

__ADS_1


"Hmm, baiklah! Aku terima tawaranmu Asist--! Maksudku Ken!" ucap Naya senang.


Mereka pun pergi bersama. Ken membawa Naya makan malam disebuah kedai sederhana yang tidak mewah. Mereka makan malam bersama dengan penuh canda tawa. Ken dan Naya merasa sangat akrab, karena percakapan mereka nyambung.


Sedangkan disisi lain.


Nampak sebuah piring berisi nasi goreng sudah bersih. Marvin telah menghabiskan sepiring nasi goreng yang disuguhkan sang istri tanpa tersisa satu butir pun.


"Berikan padaku! Biar aku mencuci piring kotornya!" ucap Killa seraya menumpuk piring-piring bekas semua orang.


"Tidak usah! Kau sudah susah payah memasak tadi! Jadi sekarang biarkan aku membantumu mencuci piring!" ucap Marvin yang langsung meraih tumpukan piring ditangan Killa. Lalu membawanya ke wastafel.


Killa terdiam ditempat tak bisa berkata-kata. Marvin, pria dingin itu kenapa hari ini bersikap sangat lembut padanya. Ada angin apa hingga dia bersikap seperti itu. Membuat jantung Killa berdebar-debar lagi.


"Ada apa dengan nya? Apa dia baru saja memenangkan sebuah lotre! Suasana hatinya sangat susah ditebak!" ucap Killa pelan, merasakan keanehan dari Marvin.


"Hehehe! Maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu! Tapi menurutku kau sangat aneh malam ini!"


Killa mendekati Marvin dan bersandar pada pantry yang ada disebelah wastafel. Memandangi pria dingin itu yang sedang mencuci piring.


"Sial!" pekik Marvin tiba-tiba.


Killa terkejut dan langsung meraih tangan kiri Marvin. "Tangan mu terluka?"


"Ini bukan urusanmu!" Marvin menarik tangan nya kembali.


"Biarkan aku lihat!" Killa kembali menarik tangan Marvin.

__ADS_1


"Apa ini karena tadi siang? Kenapa kau tidak memberitahuku, jika tangan mu terluka!" lanjut Killa.


"Untuk apa? Ini hanya luka kecil!" ucap Marvin menatap wajah Killa yang nampak cemas.


"Kau ini! Kenapa sih selalu saja bersikap seolah tidak perduli!" Killa memukul bahu Marvin. Pria itu terkejut, matanya membulat. Merasakan jantungnya yang berdebar.


Killa pun berlalu pergi dan kembali membawa sebuah salep. "Berikan tanganmu!"


"Mau apa?" Marvin mengerinyit.


"Berikan saja dasar Tuan keras kepala!" Killa meraih tangan kiri Marvin yang terluka.


"Apa-apaan, bukan kah dia yang keras kepala!" gumam Marvin pelan.


"Tahan yah! Mungkin akan sedikit perih!" ucap Killa.


Gadis itu mengoleskan salep yang dia bawa tadi ke telapak tangan Marvin yang terluka. "Awwh!" ringis Marvin pelan.


"Maaf!" Killa menatap wajah Marvin. Keduanya saling menatap lalu kembali membuang muka lagi bersamaan.


Marvin menatap Killa yang tengah meniup telapak tangan nya itu. Ada perasaan aneh yang dia rasakan. Matanya tak berhenti menatap bibir gadis itu yang mengerucut.


Dengan gerakan cepat Marvin meraih dagu Killa dan langsung mendongakkan wajah gadis itu. Sedetik kemudian bibir mereka menyatu. Marvin mencium Killa dengan sangat lembut. Killa yang merasakan kelembutan dari perlakuan Marvin pun membalas ciuman itu.


Suasana yang dingin menjadi hangat saat itu juga. Keduanya terbuai dengan ciuman lembut dan hangat itu. Sampai melupakan tangan Marvin yang terluka.


...🌹Jangan lupa like🌹...

__ADS_1


__ADS_2