
Menunggu sekitar lima belas menit. Akhirnya Marvin telah selesai memasak sebuah steak untuk Killa. Lalu menyediakan nya diatas meja lengkap dengan minum nya.
Killa menatap steak daging sapi yang dilumuri saus barbeque itu. Aroma dan penampilan nya sangat sedap, tapi apakah rasanya juga seenak yang dilihat.
"Makanlah! Apa kau mau menatapinya terus menerus hingga dingin?" ucap Marvin ketus.
Killa mendengus dan memutar bola matanya malas. "Terserah aku lah!" sahutnya juga ketus.
"Makanlah jika sudah dingin tak enak lagi rasanya!" ucap Marvin.
"Aku tau! Tapi bagaimana aku makan jika kau berdiri disana menatapku terus menerus!" ucap Killa.
"Jangan terlalu percaya diri! Aku tidak sedang menatapmu!" Marvin mengelak dan langsung berjalan menuju wastafel.
"Cih! Dasar pembohong! Jelas-jelas kau tadi sedang menatapku!"
Killa pun mulai menyantap makanan yang telah dibuatkan oleh Marvin itu. Dikunyah dan ditelan nya dengan pelan-pelan. Untuk merasakan rasa dan isinya yang terkandung. Berjaga-jaga bisa saja jika Marvin menaruh racun didalam nya. Mengingat mereka berdua yang tidak pernah akur.
"Enak! Ternyata kau bisa masak juga!" ucap Killa dengan suara yang tidak jelas karena mengunyah.
"Benarkah? Apa sangat enak?" ucap Marvin yang tengah sibuk mencuci alat masak yang tadi ia pakai.
__ADS_1
"Hmm...." Killa mengangguk.
"Apakah karena aku memasukan racun tikus didalam nya?" ucap Marvin.
Uhuk uhuk uhuk!
Sontak Killa langsung tersedak. Mendengar ucapan Marvin yang mengatakan jika dia sudah memasukan racun tikus kedalam steak itu.
"Aku hanya bercanda!" ucap Marvin lagi sembari menyusun alat masak itu kembali ke tempatnya masing-masing.
"Sialan!" umpat Killa sambil meminum air yang ada didalam gelas.
Tanpa Killa lihat Marvin tersenyum menatap punggung gadis itu yang sedang makan. Dia berhasil mengerjai gadis keras kepala itu pikirnya. Marvin pun berjalan mendekati Killa dan menarik kursi makan yang ada disebelah gadis itu lalu mendudukinya.
"Tidak! Aku tidak mungkin memasukan sesuatu didalam nya! Makanlah lagi dan habiskan!" Marvin mengusap lembut pucuk kepala Killa.
Tangan nya juga menyisir rambut panjang Killa kebelakang. Agar tak mengganggu makannya. Killa tertegun dengan sikap Marvin. Keduanya saling menatap.
"Makanlah!" Marvin memalingkan wajahnya seketika.
"Hmm...." Killa mengangguk dengan canggung. Lalu kembali menyantap makanan nya.
__ADS_1
Hening!
Tidak ada yang berkata satu kata pun. Setelah kecanggungan tadi. Hanya terdengar suara hentakan garpu dan pisau saja dengan piring.
Kenapa jadi canggung gini sih! Apa aku harus memulai percakapan duluan? Pria dingin ini sama sekali tak bisa mencairkan suasana sedikit pun! Huft! Killa melirik Marvin.
Pria itu hanya diam menatap lurus ke depan. Wajahnya datar tak berekspresi. Dia juga tidak bergerak sedikitpun. Sampai-sampai Killa berpikiran jika bisa saja dia juga tidak bernafas.
"Eehmm!" Killa berdehem. Marvin langsung menoleh kearah nya. "Kau sangat pintar memasak! Apa kau sudah sering memasak buat seseorang? Keluarga atau kekasihmu mungkin?" tanya Killa.
Marvin kembali memalingkan wajahnya. Lama dia diam tak menjawab. Kemudian menghela nafas panjang. "Aku tidak pernah punya waktu untuk menjalin cinta dengan siapa pun! Aku juga tak tertarik dengan apa yang namanya cinta!"
Killa memasukan potongan kecil daging yang baru dia potong menggunakan pisau kedalam mulut. Lalu dikunyah dan ditelan nya perlahan. Sambil mendengarkan perkataan Marvin.
"Terus?" sahut Killa dengan mulut yang menggembung karena mengunyah.
Marvin kembali menoleh. "Adik dan ibuku! Aku biasa memasak makanan untuk mereka! Tapi lebih sering untuk adik ku!" ucap Marvin.
"Adik? Apa kau punya adik? Apa dia seumuran ku atau sudah menikah?" tanya Killa. "Pasti dia memiliki sikap yang buruk sepertimu!" lanjutnya dengan suara pelan.
"Dia sudah menikah baru-baru ini! Saat aku pergi ke Beijing beberapa hari lalu!" ucap Marvin dengan nada lirih.
__ADS_1
"Kenapa? Apa dia menikahi wanita yang tidak baik? Sampai wajahmu muram begitu!" tanya Killa melihat wajah Marvin yang murung.
"Tidak! Dia menikahi wanita yang baik sekaligus wanita yang sangat dia cintai! Dia menikah dengan tunangan ku!" ucap Marvin tersenyum.