
Seorang gadis cantik yang memakai pakaian serba hitam dan memakai sebuah topi. Sedang berdiri depan sebuah pusara orang tuanya. Air matanya menetes membasahi wajahnya yang cantik. Sesekali ia juga mengusapnya dan menghela nafas berat. Karena sesak yang ia rasakan.
"Hiks hiks! Aku merindukan kalian, ayah ibu!" Ucap nya berjongkok didepan pusara tersebut.
"Aku dan Naya baik-baik saja! Kalian tidak perlu mencemaskan kami berdua! Sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, dan aku berniat untuk keluar dari dunia hitam kita! Melupakan semuanya, tapi bayang-bayang tentang peristiwa itu selalu saja menghantuiku! Membuatku takut, dan merasa tidak aman! Hiks hiks!" Lanjut Killa menangis terisak didepan pusara orang tuanya.
Killa kembali teringat peristiwa pembantaian keluarganya. Yang menjadikan nya dan sang adik seorang yatim piatu. Tanpa keluarga yang tersisa. Beratnya kehidupan yang dijalani nya dan sang adik. Tidak akan pernah dia lupakan.
Killa hanya memendam rasa sakitnya didalam hati. Dia tidak mencurahkan sakit hati tentang rasa kecewanya. Karena sudah dituduh sangat rendah oleh Marvin. Killa tak mau ayah dan ibunya tahu tentang perasan kecewa nya itu.
Killa mengusap air matanya dan berdiri kembali. Seketika dia hendak melangkah pergi tapi langkahnya terhenti. Mata Killa membulat menatap lurus kedepan.
"Marvin!"
Satu kata yang terucap dari bibir ranumnya. Apakah dia sedang bermimpi. Bagaimana bisa pria dingin itu sekarang berada dihadapan nya.
"Killa!" ucap Marvin dengan raut wajahnya yang senang melihat Killa.
Seketika Killa tersadar. Ia langsung berbalik badan ketika melihat Marvin melangkah mendekatinya. Killa tak ingin bertemu dengan Marvin.
"Killa!" Marvin berlari dan langsung memeluk Killa dari belakang tepat didepan pusara almarhum kedua orang tua Killa.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" Killa menggeliat berusaha melepaskan pelukan Marvin. Pria itu menyandarkan kepalanya di pundak sebelah kanan Killa.
Killa merasa sangat risih. Dia masih merasa sakit hati jika menatap Marvin. Kata-kata Marvin masih terngiang sangat jelas ditelinganya. Terlebih ia juga merasa dadanya berdebar-debar sangat cepat. Killa memegangi dadanya sembari kembali menggeliat mencoba melepaskan tangan Marvin.
"Maafkan aku!" kata maaf keluar dari mulut Marvin. Killa merasa pundak nya basah. Ternyata Marvin sedang meneteskan air matanya.
Deg!
Apa aku bermimpi lagi, atau ini hanya halusinasi ku saja! Pria dingin ini berkata maaf padaku? Aku tidak salah dengarkan? Batin Killa.
"Aku minta maaf karena sudah menuduh dan membuatmu merasa terendah kan! Aku mohon kau bisa memaafkan ku!" lirih Marvin dengan suara yang bergetar karena menahan isakan nya.
Manik mata Killa menajam. Dia menghela nafas dengan kasar. "Segampang itu kau meminta ku untuk memaafkan mu? Setelah apa yang kau katakan padaku siang tadi!" ucap nya ketus dan kasar.
"Killa!"
"Apa kau sadar jika perkataan mu itu sangatlah keterlaluan! Apa? Uang? Kau bilang jika aku butuh uang tinggal minta padamu? Heh, sombong sekali dirimu!" Cetus Killa kembali sembari memutar bola matanya dan terkekeh.
"Asal kau tahu, aku tidak membutuhkan uangmu! Bahkan aku tidak pernah mengharapkan belas kasihan sedikitpun darimu! Jadi jangan pernah berkata dengan melewati batasan mu Tuan Marvin Louis! Kau bukan siapa-siapa bagiku!"
Deg!
__ADS_1
Seperti tersambar petir saat itu juga Marvin. Perkataan Killa seakan terasa menghunus jantung nya. Menembusnya dan membuatnya hancur. Tanpa disadari oleh Marvin air matanya menetes keluar dari sudut matanya.
"Kau!" Marvin mencengkram lengan Killa dengan kuat dan menatap nya tajam. Tangan Marvin bergetar dan nafas nya memburu.
"Apa? Apa kau mau berkelahi? Ditempat ini?" ucap Killa menantang. Tatapan nya tak kalah tajam.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun!" ucap Marvin dengan penuh penekanan.
"Apa-apaan kau ini! Memangnya kau siapa mengatur-atur hidupku! Aku akan membawa adikku pergi dari rumah, dan hubungan kita berakhir sampai di--- mmmhh!"
Belum selesai ia berkata. Bibirnya langsung dilahap habis oleh Marvin. Killa menolak nya, tapi pria itu tetap saja melakukan aksinya.
Beberapa detik kemudian ia melepaskan ciuman nya. Keduanya bernafas dengan tersengal bersamaan. Marvin menatap lekat manik indah milik Killa. Begitupun sebaliknya. Killa tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa mengatur nafasnya kembali.
"Karena aku adalah suamimu, dan aku sangat mencintaimu! Aku mohon jangan pergi!" ucap Marvin setengah berbisik.
Wajah mereka sangat dekat Killa merasa jantungnya berdebar sangat hebat. Bahkan deruan nafas Marvin bisa ia rasakan mengenai batang hidungnya. Killa mengangguk pelan.
"Terima kasih Killa!" ucap Marvin tersenyum sembari mengecup kening Killa lalu memeluknya erat.
Keduanya berpelukan. Killa meneteskan air matanya. Begitu pula dengan Marvin dia tersenyum bahagia. Memeluk erat sang istri, seakan enggan untuk melepaskan nya.
__ADS_1
...🌹 Jangan lupa like guys🌹...