
Tidak berselang lama, mobil yang Killa tumpangi. Memasuki pekarangan sebuah Villa yang besar dan sangat mewah. Interiornya yang klasik dan berwarna putih, menambah kesan elegan.
Pintu pagarnya yang besar kembali tertutup ketika mobil sudah terparkir tepat di depan teras Villa tersebut. Terlihat dua orang pria menghampiri mobil dan membukakan pintu mobil untuk Killa dan juga Naya.
"Nona silahkan masuk, Tuan besar sudah menunggu anda." Zean mempersilahkan Killa untuk masuk lebih dulu.
"Baik, terima kasih." Killa tersenyum sembari menggandeng tangan Naya. "Ayo Nay," ajak nya.
"Kakak, apa kau sudah pernah bertemu dengan ayahnya Justin?" tanya Naya yang penasaran. Dia menebak-nebak wajah dan sikap ayahnya Justin. Jika anak nya saja sangat menyebalkan dan kurang ajar, bagaimana dengan orang tuan nya? Pikir Naya seperti itu.
Killa tersenyum dan mengangguk. "Aku tahu kau sedang memikirkan apa. Tenang saja, dia sangat berbeda dengan Justin. Tuan Lion, adalah orang yang sangat baik."
"Benarkah? Semoga saja perkataan mu benar." Naya menghela nafasnya sembari memperbaiki susunan rambutnya yang berantakan.
"Killa, sudah lama sekali rasanya," sambut Tuan Lion. Ketika kedua gadis itu sudah berada di ruang tengah.
Dengan dibantu seorang suster yang mendorong kan kursi rodanya. Lion begitu antusias menyambut kedatangan Killa, yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.
__ADS_1
"Apa kabar Tuan Lion," ucap Killa sopan sembari membungkuk.
"Oh iya, perkenalkan ini Naya adik ku. Nay, beri salam pada Tuan Lion." Killa menarik tangan Naya yang terlihat bengong.
"Paman," lirih Naya yang tidak bisa berhenti menatap Tuan Lion.
"Kau si gadis cerewet yang perhatian." Tuan Lion tersenyum.
Killa mengerinyit heran melihat Naya dan Tuan Lion yang sudah saling kenal. "Kalian sudah saling kenal? Bagaimana bisa?"
"Benarkah?" Killa melirik Naya yang wajahnya sudah merona karena dianggap sebagai anak yang baik.
"Pantas saja, ketika pertama kali melihatnya. Aku langsung teringat padamu," sambung Tuan Lion.
"Terima kasih Tuan, atas pujian nya. Terima kasih juga sudah mengizinkan kami tinggal sementara disini."
"Apa maksudmu? Aku sudah menganggap mu sebagai putri ku sendiri, jadi jangan menganggap kalian tamu disini. Kalian adalah bagian dari tempat ini."
__ADS_1
"Terima kasih Tuan," ucap Killa berterima kasih. Ia bersyukur bisa di terima dengan baik. Terlebih adiknya yang sudah mengenal Tuan Lion. Killa yakin jika sesuatu yang baik lah yang sudah mempertemukan Tuan Lion dan Naya.
***
Malam harinya setelah makan malam bersama. Killa yang belum bisa tidur. Pergi berjalan-jalan mencari udara segar di taman belakang Villa.
Ia duduk di salah satu bangku taman, memandangi langit cerah kota Berlin. Yang pada saat malam hari begitu indahnya di hiasi kerlap-kerlip bintang.
"Apa yang sedang kau lakukan disana?"
"Apa kau juga merasakan yang sama dengan ku?"
"Aku sangat merindukanmu Marvin, sangat merindukan mu."
Tanpa sadar air matanya menetes. Rindu yang begitu menyakitkan. Dia yang memilih pergi, namun ia juga yang merasa begitu hancur. Membayangkan bagaimana jadinya Marvin tanpanya. Apakah pria dingin itu biasa-biasa saja atau merasakan kehancuran yang sama?
Perih rasa hatinya. Bagaikan luka tapi tidak terlihat, dan hanya bisa dirasakan. Lebih baik mengeluarkan darah agar bisa lebih cepat sembuh, dari pada berlarut-larut sakit yang susah diobati seperti ini.
__ADS_1