
Suara cekikikan dari seorang gadis terdengar. Gadis itu menutup mulutnya sendiri untuk meredam suara tawanya. Bagaimana tidak, jika dia melihat pandangan yang sangat lucu tepat ada didepannya.
Pencahayaan diruang santai depan tv itu, masih sangat gelap. Namun keadaan dua orang yang tertidur diatas sofa sambil berpelukan jelas terlihat.
"Baguslah, mereka berdua ternyata sudah baikan. Mereka bukan hanya pasangan aneh, tapi juga sangat labil selalu saja bertengkar hanya karena masalah kecil," gumam Naya sambil geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba suara pintu depan terbuka. Naya terkejut dan jadi gelagapan. Itu pasti Ken, karena memang sudah terbiasa. Setiap pagi pria itu pasti masuk dan membuatkan minuman untuk Tuannya. Namun pagi ini keadaan sangat tidak memungkinkan. Jangan sampai Ken melihat Marvin dan Killa yang tengah tidur diruangan santai. Apa lagi Marvin yang dalam keadaan bertelanjang dada. Meskipun berselimut tebal, tetap saja tidak boleh pikir Naya. Tidak ada yang boleh melihat sang kakak dan kakak iparnya itu dalam keadaan sekarang. Walaupun itu Ken asisten pribadi.
Naya pun dengan cepat berlari menghampiri Ken yang masih berada diambang pintu. "Ken," sapanya tersenyum kikuk.
"Pagi Nona," sapa Ken balik dengan membalas ramah senyuman Naya.
Naya langsung menggandeng tangan pria itu. Lalu menariknya keluar dari apartemen.
"Nona, apa yang kau lakukan?" Tanya Ken dengan kebingungan. Wajahnya memerah, namun bukan karena kebingungan. Melainkan karena tangannya yang tiba-tiba digandeng oleh Naya.
__ADS_1
Ken merasakan dadanya yang berdebar kencang. Seketika ia langsung melepaskan tangan Naya. Dan merapikan jasnya yang kusut.
"Maaf," ucap Naya. Merasa tidak enak karena sudah membuat jas Ken kusut.
"Tidak apa-apa Nona, saya harus kembali kedalam," jawabnya gugup, pandangan mata Ken tidak tertuju pada Naya. Karena dia sangat gugup malu untuk memperlihatkan wajahnya yang tersipu.
"Jangan Ken," teriak Naya tiba-tiba. Lagi-lagi ia menyentuh tangan Ken, sontak membuat pria itu terkejut dan langsung menoleh.
"Ada apa Nona? Saya harus menyiapkan sarapan untuk Tuan Marvin."
"Tidak perlu Ken, kakak ipar dan kakak sedang sarapan bersama," alasan Naya. Agar Ken tidak bersikeras.
"Kakak ipar sedang tidak ingin diganggu," cegah Naya kembali.
"Benarkah?" Ken masih menatap heran.
__ADS_1
"Tetap saja saya mesti bertemu dengan Tuan," lanjutnya kemudian.
"Aku sudah terlambat, kau harus mengantar ku sekarang juga."
Naya meraih tangan kanan Ken, lalu menarik pria itu menuju lift. Dengan cepat ia menekan tombol menuju lobby hotel. Tak membiarkan Ken untuk kembali ke apartemen Marvin.
"Nona Naya, ada apa dengan anda pagi ini?" Tanya Ken.
Naya menoleh kearah Ken. Ditatapnya wajah pria yang kini sedang menatapnya heran. "Maafkan aku Ken, sebenarnya kakak dan kakak ipar baru saja berbaikan. Karena itu aku tidak ingin menganggu pagi mereka, begitu pun dirimu." Jelas Naya.
Berharap Ken akan mengerti. Benar saja, terlihat sunggingan senyuman tercipta di wajah Ken. Tanpa menjawab, Ken langsung mengajak Naya menuju mobilnya. Lalu mengantarkan gadis itu pergi ke sekolahnya.
Sedangkan disisi lain.
Killa mengerjapkan matanya. Berusaha keras untuk membuka matanya. "Vin," panggilnya kemudian.
__ADS_1
Marvin ikut menggeliat, melepaskan pelukan nya pada Killa. "Sudah pagi?" tanyanya dengan suara pelan dan mata yang masih tertutup.
Keduanya masih enggan untuk bangun dari tidur mereka. Padahal hari sudah pagi, matahari sudah menyinari seluruh kota.