
Bugh!
Tanpa Killa sadari bahunya bertabrakan dengan orang-orang. Saat ia mulai berlari memasuki kerumunan orang yang sedang berada di bandara.
"Hati-hati, kau bisa terjatuh, Killa."
Justin menangkap tubuhnya yang terhuyung. Hampir saja, jika tidak ada Justin. Mungkin dia akan terjatuh, dan membahayakan kandungan nya.
"Aku baik-baik saja," ucap nya seraya melepaskan tangan Justin yang merangkul nya. Ia pun kembali melanjutkan langkah nya.
Marvin, kau dimana? Maafkan aku, aku juga tidak mengerti mengapa aku se-egois ini. Batin nya.
Tiba-tiba saja, langkah nya terhenti. Saat melewati dinding kaca yang memperlihatkan jelas. Pemandangan lapangan pesawat, dimana ada pesawat yang sedang Take of atau lepas landas.
"Marvin," lirihnya dengan suara bergetar.
Ia bernafas dengan berat, sambil menutup mulutnya. Air matanya sudah terjun dengan sendirinya. Ia meringsut duduk di lantai, sambil menangis sesegukan.
"Marvin, jangan tinggalkan aku! Hiks hiks," tangisnya meraung-raung.
__ADS_1
Ia hampir tidak sanggup lagi. Menatap pesawat yang membawa suaminya, sudah menghilang. Penyesalan terbesarnya adalah sudah membiarkan cinta yang dia rindukan selama ini. Pergi begitu saja, hanya karena sifat egois nya.
"Hiks hiks, kenapa kau pergi? Kau bilang, kau sangat merindukan ku? Tapi kenapa kau pergi? Marvin, maafkan aku."
"Killa," panggil seseorang.
Ia pun menoleh ke arah sumber suara. Ketika merasa salah satu pundak nya disentuh. Justin, tengah berdiri dengan tatapan sendu.
"Justin, aku sudah terlambat. Hiks hiks, kenapa aku terlalu bodoh untuk menyadari ketulusan nya? Hiks hiks, aku membenci diriku sendiri yang terlalu egois," ucap nya sambil menangis sesegukan.
Ia mengusap air mata menggunakan punggung tangan. Lalu memijit kepalanya yang terasa sakit. Nafasnya sudah terasa berat, karena isakkan yang semakin menjadi.
"Killa!"
Seseorang memanggilnya dari arah depan. Ia tersentak mendengar suara yang begitu familiar. Dengan perlahan dia menegakkan kepala melihat ke arah depan.
Matanya kembali memanas, dengan bibir yang gemetar. Ingin berucap namun berat rasanya. Ia tersenyum miris, dengan air mata yang berderaian.
"Marvin," lirihnya seraya dibantu oleh Justin untuk berdiri.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, ia langsung menghambur memeluk Marvin. Sangat erat, sampai begitu eratnya membuat Marvin susah untuk bernafas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Marvin seraya mengelus kepala Killa. Ia menatap ke arah Justin, seolah meminta jawaban atas keadaan Killa.
Justin mengangguk dan berkata, "Aku akan meninggalkan kalian berdua, bicaralah."
Justin tersenyum getir, lalu berbalik badan. Ia memegangi dadanya yang sesak melihat Killa dan Marvin berpelukan. Dia memilih pergi karena merasa tidak punya hak untuk mencampuri urusan sepasang suami istri itu. Satu yang ia tahu, jika kebahagiaan Killa terletak pada Marvin.
Sedangkan Killa, ia masih tetap menangis di pelukan Marvin. Merasa tidak percaya, jika suaminya itu masih ada disini. "Maafkan aku, Marvin."
Marvin tertegun mendengar ucapan Killa. Ia tersenyum pasif dan semakin mengeratkan pelukannya. "Berhentilah menangis, ayo kita duduk dulu."
Marvin pun mengajak Killa untuk duduk di salah satu kursi tunggu. "Apakah kau berlari kemari hanya untuk bertemu denganku?" tanya nya.
Keduanya saling menatap. Tangan Marvin terulur mengusapkan air mata Killa yang membasahi wajah cantiknya.
"Maafkan aku," lirih Killa menunduk, karena merasa begitu bersalah.
Marvin meraih dagu Killa dan menegakkan kepalanya. Dengan rasa cintanya yang begitu besar. Marvin selalu saja tidak bisa marah terlalu lama terhadap Killa. Apalagi sekarang Killa tengah mengandung anaknya.
__ADS_1
Ia merasa wajar jika Killa bersikap begitu egois dan emosional. Mood ibu hamil yang tidak bisa di tebak, akan berubah-ubah seperti apa.