
Disisi lain, dihari yang sama. Namun berbeda kota. Jika saat ini ditempat Marvin dan Killa berada, cuaca sangat cerah secerah hati mereka berdua.
Tapi tidak di kota tempat seorang pria tampan sedang duduk dikursi kerjanya. Cuaca mendung berangin, dengan awan hitam dan kilatan cahaya petir diatas langit. Membuat suasana sama mencekam dengan hatinya.
Prang!
Sebuah gelas kaca pecah digenggaman seorang pria yang kini amarahnya tengah meluap. Setelah menonton saluran berita teratas paling populer di televisi.
Pria itu tetap tidak bergeming meskipun darah segar mengalir dari telapak tangannya. Serpihan gelas yang hancur masih tergenggam kuat ditangannya. Seolah sengaja untuk meluapkan amarah dan kekesalannya.
"Aku sudah menduga, ada sesuatu antara kau dan Tuan Marvin! Meskipun kau menutupi wajah dan dirimu seperti itu! Kau tidak bisa membohongiku! Kau adalah Killa, wanita yang aku cari-cari selama ini!" Ucap pria itu tersenyum dengan menyeramkan. Pria yang tak lain adalah Justin.
"Ternyata wanita yang dinikahi oleh Marvin Louis adalah dirimu! Tidak salah waktu itu aku bertemu Marvin dikedai kesukaanmu! Aku kira hanya sebuah kebetulan! Aku tidak menyangka kau membawa pria lain juga kesana! Apakah kau sudah melupakan aku Killa?" Lanjutnya dengan mengusap wajahnya yang frustasi.
Prang!
Lagi-lagi sebuah bingkai foto yang tergantung dinding pecah. Ketika sebuah pisau mendarat difoto yang terekat didalam bingkai tersebut. Justin benar-benar murka. Dia tidak percaya dengan sebuah kebetulan yang terjadi ini. Takdir membawanya bertemu dengan Killa. Tapi tidak untuk memilikinya karena gadis itu sudah menikah dengan rekan bisnisnya sendiri.
"Meskipun begitu! Apa kau pikir aku akan menyerah? Kau salah, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan mu kembali Killa!" Gumamnya sembari tersenyum licik dan meneguk segelas wine yang baru saja diberikan oleh pelayannya.
Justin pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu yang menghubungkan ke kamarnya. Di dalam kamar, Justin meraih kotak P3K yang ia simpan didalam sebuah laci nakas disamping tempat tidurnya.
Justin memilih untuk membersihkan dan mengobati lukanya sendiri. Karena dia tidak terbiasa membiarkan seseorang menyentuh tubuhnya. Sebenarnya itu adalah peraturan yang sangat aneh. Di tidak membiarkan seseorang untuk menyentuh tubuhnya. Tetapi dulu hampir setiap malam dia tidur dengan seorang wanita bayaran. Setelah ketahuan dan putus dari Killa lah, peraturan itu mulai teresmikan. Justin berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melakukan hal itu lagi demi Killa. Bahkan dia tidak membiarkan seseorang menyentuh tubuhnya. Sangat aneh bukan, Justin benar-benar pria yang sangat aneh.
Cklek! Tap tap tap!
Pintu kamarnya terbuka, terdengar suara langkah kaki seseorang yang beriringan dengan suara pergeseran roda bergerak mendekatinya. Justin menyadarinya, tapi tetap saja enggan untuk menoleh kearah sumber suara itu. Malah dia memutar bola matanya malas dan memilih fokus mengobati luka di tangannya.
"Mau sampai kapan kau mengejar Killa terus menerus!" Suara berat seorang pria paruh baya terdengar membentak seorang Justin. Ialah Lion King, mantan ketua besar anggota Mafia G-Dragon. Yang juga adalah Papah kandung Justin.
"Aku tahu kau baru saja melihat berita di televisi, aku juga melihatnya! Wanita itu adalah Killa bukan! Biarkan dia hidup bahagia, wanita yang malang! Kau sudah sangat menyakitinya, jadi kali ini biarkan dia hidup bahagia bersama suaminya!" Lanjut Lion menuturkan perkataan pada Justin.
__ADS_1
Justin menghela nafasnya. Berusaha untuk tetap tenang agar tidak terpancing amarah dari perkataan Lion. Ia pun memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Jangan sampai kau mengacaukan kerja sama dengan Tuan Louis! Hanya gara-gara ambisi pribadimu itu! Mau sampai kapan kau seperti ini! Semakin hari, kondisi Papah mu ini semakin buruk Justin! Kau mau lihat Papah segera mati? Jika kau terus berambisi untuk menikahi Killa! Nikahilah wanita lain, dan buat aku bahagia terakhir kalinya!" Suara Lion bergetar karena menahan tangisnya. Karena melihat sang anak yang tidak pernah berubah, malah semakin menjadi.
Beberapa bulan terakhir kondisi Lion sangat menurun drastis. Dia terkena serangan jantung awal dan syukurnya masih bisa diselamatkan. Akan tetapi tubuhnya lemah, dia hanya bisa terduduk dikursi roda dan harus mengkonsumsi obat-obatan agar tetap bertahan hidup. Didalam diri Lion yang paling dalam dia tidak rela jika harus meninggalkan anak semata wayangnya itu sendirian. Paling tidak dia harus memiliki seorang istri yang bisa merawatnya.
Jaman sudah sangat berubah, mafia memanglah tetap mafia. Tapi dia sudah tidak terlalu menggeluti dunia gelap seperti itu lagi. Begitupun dengan Justin, dia lebih banyak mengurus beberapa cabang perusahaan tambang emasnya. Jadi tidak salah jika Lion berharap anaknya itu bisa menikah secepatnya sebelum dia meninggal.
Tapi tidak dengan Killa. Karena gadis cantik itu sudah cukup disakiti oleh anaknya. Dia tidak mau Killa kembali tersakiti jika harus dipaksa menikah dengan Justin. Karena itu melihat berita jika Killa sudah menikah dengan orang lain. Lion merasa sedikit lega dan berharap sang anak bisa menyerah.
Brak!
Isi kotak P3K terhambur dilantai. Berserakan kemana-mana ketika Justin melemparnya ke sembarang arah. Membuat Lion sang ayah terkejut begitu pun suster yang mendorong kan kursi roda.
"Berhenti bersikap lemah seperti itu! Papah tidak boleh meninggal sebelum melihatku dan Killa menikah! Aku tidak butuh masukan lainnya!" Justin berteriak pada Lion sang ayah. Dengan raut wajah marah dan kesalnya. Ia pun memilih pergi meninggalkan pria paruh baya itu.
"Jika kau sudah selesai dikamar ini, jangan lupa untuk menutup kembali pintunya!" Ucapnya dingin ketika berhenti diambang pintu, lalu menghempaskan pintu dengan kasar nya.
Lion hanya bisa mengelus dadanya. Sudah sering mendapat perilaku seperti itu oleh Justin. Lion sendiri tidak terlalu menyalahkan Justin. Karena dia sadar sifat dari anaknya itu. Turun temurun dari dirinya juga. Lion hanya tak ingin sang anak mengalami kisah cinta yang tragis sepertinya.
***
"Brengsek! Brengsek! Brengsek!" Makinya sembari memukul-mukul setir kemudi. Hingga luka ditelapak tangannya kembali berdarah.
Justin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Emosinya semakin berkobar-kobar setelah mendapat pengarahan dari sang Papah. Pikiran nya kacau balau, belum selesai perkara mengenai Killa. Kini sang Papah malah membuat kepalanya semakin pusing. Denhan perkataan melantur nya itu.
Namun tiba-tiba saja, seorang gadis berjalan hendak melintasi Zebra Cross. Membuat Justin terkejut dan sontak mengerem mendadak. Gadis itu berteriak menjerit, sambil berjongkok ketakutan.
Shiiitt!
Suara decitan ban mobil Justin ketika mobil mengerem mendadak. Satu jengkal lagi bagian depan mobilnya bisa menyentuh tubuh gadis itu.
__ADS_1
Justin menghela nafas lega. Dan langsung turun dari mobil menghampiri gadis yang hampir tertabrak oleh mobilnya itu. Gadis tersebut sangat syok sampai ia terduduk dijalanan dengan mata membulat menatap bagian depan mobil Justin, yang tepat berada dihadapnnya.
"Kau sudah gila! Apa kau sudah bosan hidup? Seharusnya kau pergi melompat di laut, jangan melompat didepan mobilku! Huft, Shitt!" Maki Justin pada gadis tersebut.
Gadis itu menoleh kearahnya. Betapa terkejutnya ketika Justin melihat wajah gadis tersebut yang sangat familiar baginya.
"Naya?" Kata yang keluar dari mulut Justin, ketika mendapati Naya.
"Ka--kak--kak Justin?" Naya tergagap karena gugup dan ketakutan melihat Justin.
"Berdiri!" Justin meraih tubuh Naya dan membantunya untuk berdiri.
"Sakit kak!" Ringis Naya merasa lengannya perih dicengkram oleh Justin.
"Apa kau sudah bosan hidup? Apa jangan-jangan kau memang sengaja ingin mati dan membiarkan kakak mu hidup dengan pria itu! Kau kira kakakmu itu bisa lepas dariku?" Justin memaki Killa. Meluapkan emosinya kepada gadis itu.
"Kau sudah tahu?" Naya terkejut mendengar perkataan Justin.
"Ayo ikut denganku!" Justin menarik tangan Naya, dan hendak membawanya masuk kedalam mobil dengan paksa. Namun tangannya di cengkram kuat oleh seseorang.
"Tuan Justin, lepaskan tangannya! Kau tidak lihat dia sedang kesakitan? Kau sudah hampir menabraknya, bukankah kau harus meminta maaf pada Nona Naya!" Ucap seseorang itu dengan penuh penekanan dan tatapan tajam kepada Justin. Ialah Ken dia sudah terlambat untuk menjemput Naya, sampai-sampai terjadi hal tidak enak tersebut.
"Ken?" Lirih Naya menatap Ken dengan sayu. Seakan meminta pertolongan.
Seketika Justin melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Naya. Lalu ia tersenyum miring dengan mengerikan. Menatap Ken tidak suka.
"Tuan Ken! Kau salah paham, aku tidak menyakitinya! Aku hanya ingin membantunya dan membawanya kerumah sakit! Lepaskan tanganmu itu dari ku!" Ucapnya dengan penuh penekanan, sembari menghempaskan kasar tangan Ken.
"Tidak perlu repot-repot Tuan Justin! Saya yang akan membawa Nona Naya kerumah sakit! Selamat sore!" Ken menunduk hormat tapi masih dengan tatapan tajam nya. Ia pun langsung merangkul Naya pergi menjauh dari Justin.
Tawa Justin menggelegar menatap kepergian dua orang tersebut. Rasanya tak percaya dengan kedua gadis yang dulunya dekat dengannya. Kini telah berubah sikap ketika bertemu dengannya. Kakak beradik itu benar-benar membuat dirinya geram.
__ADS_1
"Jadi begini Killa! Kau sudah benar-benar melupakanku ternyata! Bahkan kau meminta orang kepercayaan Marvin Louis untuk menjaga adikmu! Sepertinya kau begitu percaya dengan seorang Marvin Louis!" Ucap Justin seraya masuk kembali ke dalam mobil. Lalu menancap gas pergi dari tempat itu.
...🌹Jangan lupa like, maaf karena baru bisa update🌹...