Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 165 : Mimpi buruk Naya.


__ADS_3

Suara dentingan garpu yang di ketukan pada piring kaca. Membuat suasana makan malam itu tidak senyaman biasanya.


"Kakak ipar, jika dari awal kau tak mengizinkan kakak ku pergi. Kenapa kau membiarkan nya, dan tidak mencegahnya?" ucap Naya.


"Diam lah, kau sangat berisik," sahut Marvin ketus.


Naya memanyunkan bibirnya lalu menghempaskan sapu tangan ke atas meja. Ia beranjak dari tempat duduk lalu pergi. Sedangkan Marvin tak bergeming dari tempatnya. Hanya menoleh sekilas dengan malas menatap kepergian Naya.


"Kau tidak apa-apa?" Marvin berdiri di ambang pintu kamar Naya.


Naya diam tak menjawab dan tetap duduk di meja belajarnya. Tanpa menoleh ke arah Marvin.


"Kenapa kau tidak menghabiskan makan malam mu? Apa makanan nya tidak enak?" Kakak mu akan marah padaku, jika kau tidak menghabiskan makanan mu."


Naya menoleh dengan sinis. "Biarkan, biarkan saja kakak marah padamu,."


"Yaa, anak nakal. Apa maksudmu? Apa kau senang aku dan kakak mu bertengkar?"


"Kau sendiri yang salah karena tidak mencegah dia pergi."


Marvin mengerinyit tidak mengerti ucapan Naya.


"Ada apa dengan mu? Kenapa kau sangat kesal melihat kakak mu pergi? Dia bilang akan pulang secepatnya, jadi tidak usah khawatir."


Marvin meraih gagang pintu lalu hendak menutup nya. Namun di tahan oleh Naya. Dengan mata nya yang berkaca-kaca, Naya mendongak menatap Marvin.


"Apa kau bisa menjamin dia akan pulang?" ucap Naya.


"Berhenti berpikiran negatif, istirahatlah."


"Bagaimana aku bisa tidur jika aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang kakak ku."


Marvin tersentak kaget ketika Naya berteriak di depan nya. Gadis itu meneteskan air matanya. Marvin semakin merasa aneh.


"Hei, kenapa kau menangis? Diam lah, ada apa dengan mu? Kau sangat aneh." Marvin memeluk Naya dengan hangat.


"Hiks hiks, aku takut kakak ipar." Naya menangis di pelukan Marvin. Seperti kakak yang sedang menenangkan adik nya. Marvin mencoba sebisa mungkin untuk membuat Naya tenang.


"Apa yang kau takutkan, Killa tidak akan melakukan hal aneh," ucap Marvin.


"Beberapa hari ini aku selalu bermimpi buruk," tutur Naya di tengah tangisan nya. "Didalam mimpiku, kau tenggelam dilautan dan kakak ku hanya menatap diam tidak ada niat untuk menyelamatkan mu."


Deg!


Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja Marvin merasakan dadanya terasa nyeri. Mendengar perkataan Naya membuatnya langsung teringat perkataan Killa tadi saat di dalam kamar.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kakak mu, istirahatlah. Aku akan keluar untuk menjemput kakak mu."

__ADS_1


"Kakak ipar, hati-hati."


Marvin pun bergegas kembali ke dalam kamarnya. Mengambil jaket dan kunci mobil milik nya. Setelah itu dia langsung pergi.


"Ken, temui aku di depan kafetaria." ucap Marvin dipanggilan nya.


"Baik Tuan, saya akan segera ke sana," jawab Ken dengan sigap.


Marvin pun menancap gas menuju kafetaria. Tempat dia membuat janji dengan Ken. Berkali-kali ia juga mencoba menghubungi Killa. Namun tak kunjung di angkat oleh gadis itu. Membuat Marvin semakin frustasi.


"Shit, dimana kau Killa," umpatnya seraya memukul-mukul setir kemudi, hingga tangan nya memerah.


Sesampainya di depan sebuah kafetaria. Seorang pria datang menghampiri mobil Marvin, yang tak lain adalah Ken. Ken langsung masuk ke dalam mobil dan membuka laptopnya.


"Saya sudah mendapat salinan isi ponsel Nona Killa Tuan," ucap Ken.


Marvin menoleh, "Bagaimana dengan panggilan masuk nya beberapa hari ini?" tanya nya.


"Nomor tak dikenal menghubungi Nona Killa beberapa kali dalam seminggu ini."


"Ini nomor siapa Ken?" Marvin menunjuk nomor yang baru tadi pagi Killa hubungi.


"Pemilik nya bernama Tuan Kim Byeong Gu umur dua puluh dua tahun. Ia adalah salah satu rekan kerja Nona Killa dulu Tuan. Saya sudah menemuinya, dia bilang Nona Killa memintanya untuk mengikuti seorang wanita dalam semingguan ini."


"Wanita? Siapa itu?"


Marvin mengerinyit sambil memijit pelipisnya. Menatap lurus ke depan sana. Memikirkan alasan Killa meminta Tuan Kim Byeong Gu mengikuti Hanna.


"Ini gambar yang sempat diambil oleh Tuan Kim dan dia sudah memberikan nya pada Nona Killa." Ken memberikan selembar foto pada Marvin.


"Hanna? Dan wanita ini?"


"Ini Nyonya Kikan Tuan, mantan bos Nona Killa."


"Oh, aku tahu. Mansion mewah di daerah xxx itu bukan?" Marvin mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu. Saat ia mengikuti Killa pergi ke mansion itu terakhir kali.


"Benar Tuan," jawab Ken.


"Lalu apa hubungan wanita ini dengan Hanna?" Marvin masih belum mengerti ada apa sebenarnya ini. Terlebih sore tadi Hanna mengirimkan surat pengunduran dirinya. Sangat aneh menurut Marvin. Hanna yang sudah bekerja dengan nya selama bertahun-tahun, tiba-tiba saja berhenti.


"Ini Tuan, saya mendapat kan rekaman ini tadi sore. Seorang petugas keamanan memanggil saya ke ruang CCTV dan memperlihatkan saya rekaman ini."


Ken mengarahkan laptop nya pada Marvin, lalu memutarkan sebuah rekaman. Marvin mengerinyit melihat rekaman CCTV Pantry Kantor di lantai Killa bekerja. Semua yang terjadi antara Killa dan Hanna siang tadi terekam oleh CCTV. Marvin terkejut melihat Hanna yang menusuk bahu kanan Killa menggunakan pisau buah. Ia teringat kembali saat dirinya memeluk Killa saat di kamar. Pantas saja tubuh Killa mengeras, ternyata dia sedang menahan sakit.


Marvin Mengusap wajahnya dan mulai panik. " Killa terluka," lirihnya.


"Jadi selama ini dia teror lewat telpon oleh Hanna dan kejadian di pesta makan malam itu. Juga ulah Hanna dan wanita bernama Kikan ini."

__ADS_1


"Benar Tuan."


"Shit, brengsek kau Hanna." Marvin mengumpat sambil memukul setir kemudi lagi. "Lacak GPS ponsel Killa sekarang juga."


"Baik Tuan, tapi apakah anda tidak mau mendengar rekaman suara ini? Nona Killa merekam nya saat nomor tak dikenal itu menelpon nya. Dan ia menyimpan nya di dalam ponselnya," tutur Ken.


"Rekaman suara?"


"Aku akan mendengar nya nanti, sekarang yang terpenting dia ada dimana? Aku tidak mau dia terluka lagi."


"Baik Tuan."


Ken pun dengan sigap melaksanakan perintah Marvin. Dalam waktu lima menit ia langsung mendapat kan letak titik koordinat ponsel Killa.


"Dimana dia?" tanya Marvin yang sudah tidak sabar.


"Titik koordinat ponsel Nona Killa berada di daerah xxx, dekat dengan mansion Nyonya Kikan," ucap Ken sembari menoleh menatap Marvin.


"Apa?" Marvin terkejut. "Apa yang di lakukan nya disana? Dasar gadis bodoh, selalu saja melakukan hal dengan gegabah."


"Ken kemudikan mobil menuju mansion itu," titah nya lagi.


"Baik Tuan."


Mereka berdua pun bertukar tempat. Ken langsung menancap gas menuju mansion Kikan. Diperjalanan Marvin tidak berhenti untuk menghubungi ponsel Killa. Namun tak kunjung di angkat nya. Membuat Marvin semakin frustasi.


"Shit," umpat nya kesal.


"Cepat sedikit Ken," ucap nya menoleh ke arah Ken.


"Baik Tuan." Ken semakin melajukan mobil membelah jalanan. Melewati kendaraan-kendaraan dengan cekatan, dia begitu ahli dalam mengemudikan mobil. Hingga tak menunggu waktu lama, mereka pun sampai. Di jalanan sepi yang tidak jauh dari mansion tersebut.


Marvin menatap ke arah pintu gerbang mansion itu. Tidak ada penjaga, dan suasana nampak hening. Tidak ada tanda-tanda perkelahian.


"Nona Killa pasti berada di dalam mansion itu Tuan."


"Benarkah? Ayo kita masuk." Marvin hendak membuka pintu mobil namun ditahan oleh Ken.


"Tuan, jangan gegabah. Kita tunggu sampai ada tanda-tanda dari Nona Killa. Kita tidak bisa masuk begitu saja ke dalam sana. Setiap sudut dilengkapi CCTV, kehadiran kita malah akan membahayakan keselamatan Nona Killa."


"Kau gila? Apa kau mau menunggu sampai istri ku terluka?" Marvin menghempaskan tangan Ken dan membentak nya kasar.


"Tuan, percaya sama saya. Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan Nona Killa." Ken mencoba membuat Marvin mengerti dan tenang.


Akhirnya Marvin pun bisa meredam amarah nya dan mulai tenang. Ia menuruti perkataan Ken untuk menunggu di mobil. Meskipun hatinya masih tidak bisa berhenti kalut memikirkan Killa.


...🌹 Jangan lupa like yah, misalkan ada yang bilang kurang. Ini sudah author buat panjang seribu kata lebih. Jadi mohon pengertian nya yah🙏🏻🙏🏻 🌹...

__ADS_1


__ADS_2