
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Killa sudah pergi untuk membelikan Marvin kopi dan sebuah sandwich di kafetaria. Ia meninggalkan Marvin bersama dengan Ken. Killa juga tak mau mengganggu Marvin jika sedang membahas masalah pekerjaan dengan Ken.
Sepeninggal Killa. Marvin meminta Ken untuk membawakan nya laptop. Ia masih penasaran dengan apa yang membuat Killa resah gelisah sepanjang waktu. Tentu saja dia tidak sebodoh itu, untuk tidak mengerti apa yang dirasakan oleh Killa. Tingkah nya yang tidak biasa membuat Marvin semakin yakin jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Killa saat ini.
"Ini dia Tuan, semua file dari ponsel Nona Killa. ada disini." Ken menunjukan penyimpanan file di laptop pada Marvin.
"Waktu itu kau bilang padaku, jika ada rekaman panggilan yang tersimpan di ponsel Killa. Apakah itu rekaman panggilan nya dengan nomor tidak dikenal itu? Itu pasti Kikan," ucap Marvin.
"Benar Tuan, apa anda mau mendengarkan nya?"
"Hmm, apa kau sudah mendengarnya Ken?" tanya nya balik. Entah kenapa hatinya ragu untuk mendengar rekaman itu.
"Belum Tuan," jawab Ken sembari menggeleng.
"Baiklah putar rekaman yang pertama." perintah nya.
Ken pun memutarkan rekaman yang pertama dari kelima rekaman. Marvin melipat tangan di depan dada lalu memasang telinga untuk mendengar rekaman tersebut.
Empat rekaman sudah yang diputar. Tanpa sadar tangan Marvin mengepal kuat. Mendengar istrinya yang sedang di ancam dan di teror untuk meninggalkan nya.
"Hanna dan Kikan benar-benar sialan! Berani sekali mereka mengancam istriku," gumamnya kesal.
"Tapi apa maksudnya ini Ken? Rahasia apa yang mereka maksud? Ada apa dengan ayah nya Killa? Apa hubungan nya dengan ku?" tanya Marvin yang tidak mengerti pada Ken.
"Saya tidak tahu Tuan, masih ada satu rekaman lagi."
"Putar sekarang, aku mau tahu apa sebenarnya yang dimaksud orang ini? Agar aku bisa membantu Killa keluar dari masalah nya. Aku tidak tega melihatnya berantakan seperti orang yang sedang putus asa setiap harinya."
"Baik Tuan."
Ken pun segera memutar rekaman yang terakhir. Potongan isi rekaman itu membuat Marvin tertegun dan mendengarkan lebih seksama lagi. Karena tiba-tiba membahas tentang kematian ibunya.
*
"Dua puluh enam tahun yang lalu, terjadi kecelakaan maut di jalan *****. Korbannya adalah sepasang suami istri, sang suami berhasil selamat. Namun sang istri tidak bisa diselamatkan, untung saja anak yang berada didalam kandungannya berhasil diselamatkan." ~Orang asing.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" ~Killa.
"Kau pura-pura tidak tahu atau memang kau tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya." ~Orang asing.
"Kau, apakah yang kau maksud adalah kecelakaan tragis Tuan Kevin Louis dan Nyonya Mia Louis?" ~Killa.
"Woah, kau hebat Nona Killa. Cepat juga kau tanggap." ~Orang asing.
"Berhentilah berbasa-basi, langsung katakan apa tujuanmu mengatakan hal itu?" ~ Killa.
"Apa kau tidak merasa aneh atau merasakan kejanggalan sesuatu? Bagaimana ayahmu terhubung dengan keluarga Louis?" ~Orang asing.
*
Deg!
Entah kenapa tiba-tiba saja Marvin merasa nyeri di bagian dadanya. Berusaha menepis pemikiran buruk yang tergambar di benak nya. Tidak mungkin! gumam nya.
"Tuan, anda baik-baik saja." Ken panik sontak langsung memegangi tubuh Marvin.
"Ken, apa maksudnya perkataan orang ini. Ayah Killa kenapa? Apa hubungan nya dengan kecelakaan orang tuaku? Katakan jika itu tidak mungkin. KATAKAN KEN," teriak nya di akhir kalimat.
Seakan indah nya masa depan yang sudah dia rencanakan. Lenyap begitu saja. Marvin bingung harus berbuat apa. Dia benar-benar hancur dan berusaha menepis pemikiran buruk dalam benak nya.
Di saat yang tepat. Killa juga telah kembali. Ia terpaku diam diambang pintu. Tangan nya bergetar dan matanya berkaca-kaca. Sakit, hatinya terasa perih ketika Marvin yang ditatap nya membuang muka ke arah lain.
"Nona Killa," ucap Ken pelan. Ia menoleh ke arah Marvin yang memalingkan wajahnya dari Killa.
"Tinggalkan kami berdua Ken," perintah Marvin, nada bicaranya dingin sedingin es.
Dengan langkah berat serta dada yang berdebar kencang. Killa mengusap peluh di keningnya, berjalan mendekati Marvin. Tidak pernah terbayangkan akan menjadi seperti ini. Ia menatap wajah Ken yang nampak cemas saat berpapasan dengan nya.
Sepeninggal Ken. Tangan Killa bergetar melayang di atas bahu Marvin. Ingin menyentuh nya namun tidak bisa. Killa malah memilih berpaling dan hendak pergi.
"Kau mau kemana?"
__ADS_1
Langkah kaki Killa terhenti ia menoleh pelan. Tatapan matanya menyatu dengan tatapan mata Marvin. Seperti dipukul di bagian dada. Sesak melihat tetesan air mata yang hampir terjatuh, dari pelupuk mata Marvin.
"Marvin, aku ... maaf," ucap nya terbata-bata. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.
"Apakah yang aku pikirkan ini benar?" tanya Marvin dengan nada rendah. Tatapan nya sendu, seakan meminta jawaban yang mungkin membuat hatinya lega. Namun kenyataan lebih pahit, tidak akan bisa membuat hatinya lega.
"Apa maksdmu? Pikiran apa?"
"Sial!" Marvin mengumpat kasar sambil mengusap pias wajahnya.
"Marvin, dengar kan penjelasan ku. Aku belum tahu pasti apa itu benar atau tidak. Aku ... aku--" terhenti karena tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Belum tahu?" Raut wajah Marvin semakin pias. Killa semakin ketakutan sekaligus sedih. Yang biasanya Marvin akan luluh dan berbicara pelan. Ketika ia meneteskan air mata, namun kini jangan kan berbicara pelan. Bahkan wajah pria itu terlalu pias untuk melihat cinta di tatapan nya.
"Jika kau belum tahu atau yakin, kenapa beberapa hari ini kau terlihat gusar? Aku tahu kau sudah mengetahui nya sejak saat aku tertembak."
"Maafkan aku Vin. Aku sudah berencana memberitahu mu hari ini. Kau ingat semalam aku berkata ingin mengatakan sesuatu padamu."
Marvin diam dia menatap Killa dengan tatapan yang sulit dipahami. Killa mendekatinya dan langsung memeluk nya.
"Maafkan aku Vin, hiks hiks hiks."
"Kenapa kau meminta maaf? Memangnya kau salah apa? Bukan kah kau bilang kau belum tahu pasti? Tapi kenapa KAU MEMINTA MAAF? HAH? KATAKAN YANG SEJUJURNYA KILLA? KATAKAN?"
Killa tersentak kaget saat Marvin mendorong tubuhnya menjauh dan langsung memakinya keras. Bibirnya bergetar ingin berbicara namun menelan salivanya saja sangat sulit.
"Maafkan aku, mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama Marvin. Kau harus tahu yang sebenarnya, kenyataan jika ayah ku memang terlibat atas kecelakaan yang menewaskan ibu mu."
Marvin menatap Killa datar. Ketika Killa mengatakan hal seserius itu Marvin malah menanggapi nya datar. Membuat hati Killa semakin perih. Ia pun hendak pergi namun tangan nya ditarik oleh Marvin. Pria dingin itu memeluk nya dari belakang.
"Kenapa? Kenapa harus ayahmu Killa? Kau tahu aku sangat mencintaimu, tapi aku juga sangat menyayangi ibuku. Betapa sakitnya lahir tanpa seorang ibu. Kenapa ayahmu melakukan itu? Aku kira cukup satu orang yang aku benci di dunia ini karena kematian ibuku."
Killa memutar tubuhnya. Di usapnya air mata Marvin yang sudah menetes. "Karena itu lepaskan aku Marvin, biarkan aku pergi. Aku sudah terlalu banyak memberikan mu masalah. Dari saham perusahaan mu yang turun drastis. Dan kini luka lama mu kembali terbuka, aku menyayat nya kembali dengan kenyataan ini."
"Apa kau bilang? Pergi? Aku tidak akan melepaskan mu Killa, tidak akan. Aku yakin aku pasti bisa menerimanya. Aku hanya butuh waktu, berikan aku waktu untuk tenang Killa."
__ADS_1
Killa pun mengangguk. Dia akan memberikan waktu untuk Marvin menerima kenyataan pahit itu. Apa pun nanti keputusan yang Marvin pilih, dengan hati lapang ia menerima nya.
...🌹 Jangan lupa like 🌹...