
Keesokan paginya di dalam lift menuju lantai tempat Killa bekerja. Killa menatap lurus pintu lift yang masih tertutup, dengan pandangan kosong. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kau baik-baik saja?" Marvin menepuk pundak kanan nya, membuatnya tersentak kaget.
"Aku baik-baik saja."
Ia kembali menatap arah depan. Pikiran nya terus melayang memikirkan tentang masalah yang di alami nya semalam. Siapa orang yang telah melakukan hal itu. Membongkar masa lalunya di depan semua orang. Namun ia sudah memiliki satu tersangka, yang pastinya dia adalah orang yang paling diuntungkan jika Killa pergi dari kehidupan Marvin.
"Jika kau merasa tidak nyaman, kau tidak perlu bekerja hari ini," ucap Marvin.
Ia menoleh ke arah Marvin dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa, jangan khawatir aku tidak selemah yang kau pikirkan."
Ting!
Pintu lift terbuka, ia langsung berlalu keluar. "Bye," melambaikan tangan kepada Marvin yang tengah menatap dirinya dari dalam lift.
"Jangan melewatkan makan siang, hari ini aku tidak bisa menemanimu. Karena ada pertemuan para investor," ucap Marvin, tangan nya menahan pintu lift agar tidak tertutup.
Ia mengangguk dan menjawab, "Tidak apa-apa, kau tidak perlu mengkhawatir kan ku! Pergilah."
Pintu lift pun tertutup.
__ADS_1
"Kau sangat pintar menyembunyikan ekspresi wajah mu Killa. Tapi kau tidak bisa membohongi ku, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Kecemasan tergambar jelas dari sorot matamu menatap ku," gumam Marvin.
***
Killa berjalan menyusuri lorong menuju meja kerjanya.
"Kali ini aku tidak akan lunak padamu, jika memang benar kau yang ada dibelakang semua ini. Aku pasti akan membuatmu menyesal karena telah mengusik ku, Nona Hanna Kim." Tangan nya mengepal kuat saat mengingat wajah Hanna. Rasanya tangan itu ingin menusuk kan sebuah bambu runcing tepat di jantung wanita itu.
BRUK!
Seseorang menabrak bahunya membuat dirinya terhuyung dan sontak menoleh ke arah orang tersebut. Rahangnya mengeras menatap tajam orang tersebut.
"Nona Hanna, selamat pagi." Senyuman menyeringai ia lemparkan.
"Aku sangat terkejut melihat mu ada disini, aku mengira kau tidak akan memiliki keberanian untuk menampakan wajahmu," ucap Hanna terkesan menyindir.
"Hahaha, maaf! Apa kau bilang barusan? Tidak punya keberanian?" Ia tergelak sambil menyelipkan helaian rambut di belakang daun telinga.
"Kau benar-benar wanita luar biasa Nona Killa, kau tidak malu? Semua orang disini sudah tahu kau siapa, kau tak lain seorang pembunuh berdarah dingin." Hanna berucap sambil berjalan maju mendekati Killa.
Killa tak gentar sedikit pun. Ia malah tersenyum seperti tidak ada tekanan dari ucapan dan tatapan Hanna.
__ADS_1
"Wanita gila," ucapnya pelan, namun bisa terdengar ditelinga Hanna. Membuat dada wanita itu panas dan naik turun karena nafasnya yang memburu.
Ia menggeretak kan gigi dan melotot. "KAU MENGATAI KU WANITA GILA, KURANG AJAR," teriak Hanna.
Tangan nya bergetar dan melayang hendak menampar wajah Killa. Namun sempat ditangkap oleh Killa. Ia menyeringai sekilas lalu kembali menatap tajam Hanna. Ia mendekatkan wajah dan berbisik ditelinga Hanna.
"Kau pikir kau siapa? Aku memang tidak tahu malu dan asal kau tahu, aku tidak pernah takut pada siapa pun. Bukankah kau bilang aku adalah pembunuh berdarah dingin?" bisik nya dengan nada yang ditekan. Membuat Hanna seketika merinding dan menelan salivanya yang keras seperti batu.
Killa mendorong tubuh Hanna hingga termundur beberapa langkah ke belakang. "Berhentilah mengganggu ku, apa kau tidak lelah?" ucap nya seraya merapikan rambut.
"Berani nya kau," teriak Hanna kembali.
"APA," bentaknya seraya berbalik dengan sengit. "Tentu saja aku berani ... " lanjutnya.
"Kau hanya bagaikan serangga kecil bagiku, dengan sekali injakan saja kau sudah bisa ku hancurkan. Kenapa aku tidak berani? Apakah kau mau melihat bagaimana darah dingin yang mengalir dalam tubuhku ini, membunuh mu hanya dalam waktu beberapa detik saja."
Hanna tersentak, dadanya berdebar sangat cepat. Bibirnya bergetar ketakutan,kakinya pun melemas. Ia terhuyung dan berpegangan di dinding. Sambil menatap Killa dengan air mata yang menetes.
Killa tersenyum lebar merasa kemenangan ada ditangannya. Dia semakin sangat yakin, jika Hanna yang sudah mengancam nya. Hanna juga yang ada dibalik kejadian semalam.
Killa pun meninggalkan Hanna yang terpaku seperti patung. Dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan mulai menghubungi seseorang. "Apa yang sudah kau dapatkan? Kirimkan ke email ku sekarang," ucapnya.
...🌹 Maaf slow update🙏🏻 🌹...