Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 178 : Perkelahian dua pria dingin.


__ADS_3

Di dalam ruang kerja Justin. Kini hanya ada Justin dan Marvin.


"Duduk lah," ucap Justin. Ia mempersilahkan Marvin untuk duduk di sofa. Sembari tangan nya menuangkan bir mahal ke gelas yang ia suguhkan untuk Marvin.


"Sepertinya kau sudah tahu apa tujuan ku datang kemari," balas Marvin seraya duduk di sofa tepat di depan Justin. Tangan nya sedari tadi tidak bisa berhenti mengepal.


Drrt drrt drrt!


Tiba-tiba ponsel Marvin bergetar. Marvin menatap layar panggilan yang tertera nama Ken. Ia pun membalikan ponselnya itu. Mengabaikan panggilan dari Ken.


"Dimana Killa? Aku yakin kau tahu dimana Killa sekarang berada?" tanya Marvin dengan tidak sabaran. Dadanya naik turun bernafas dengan tidak karuan.


Drrt drrt drrt


Lagi-lagi ponselnya bergetar. Marvin mendengus kesal. "Sial," pekiknya pelan, menggenggam kuat ponselnya itu.


Justin tersenyum dan berkata, "Angkatlah, mungkin saja penting."


Marvin pun mengangkat panggilan dari Ken. Manik matanya menajam, menatap Justin dengan lekat. Seperti hendak menerkam nya saat itu juga. Mendengar penjelasan yang di katakan Ken di seberang panggilan.


"Brengsek," pekiknya. Seraya beranjak dan dengan gerakan cepat ia menarik kerah kemeja Justin dengan kuat.


"Kemana kau membawa Killa? Berani sekali kau," ucap nya lagi dengan gigi yang menggeretak. Rahang Marvin mengeras, tangan nya semakin mencengkram kuat kerah kemeja Justin. Membuat Justin menahan nafas nya yang mulai sesak. Namun ia tetap berusaha tetap terlihat tenang.


"Lepaskan tangan mu dari ku," teriak Justin menghempaskan tangan Marvin.


"Kau kira ... kau siapa? Berani sekali kau menyentuhku," lanjutnya dengan mendorong dada Marvin dengan kuat.


Marvin tersentak kebelakang. Ia juga tidak terima telah di dorong seperti itu oleh Justin. Karena emosinya yang sudah meluap-luap, akhirnya Marvin melayangkan pukulan nya tepat di wajah Justin.


Justin tersungkur memegangi ujung bibirnya yang berdarah. "Sialan," makinya.

__ADS_1


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Pukulan nya masuk diwajah Marvin dan juga tendangan nya di perut Marvin. Membuat Marvin terjatuh menabrak meja hias kecil.


Prang!


Sebuah vas bunga Marvin pukul kan hingga pecah di kepala Justin. Hingga kepalanya berdarah. Justin tidak mau kalah. Dia juga menghempaskan botol bir mahal yang isinya masih tersisa banyak ke kepala Marvin.


Bisa dibayangkan. Seluruh isi di dalam ruangan itu hancur dan berantakan akibat perkelahian antara dua pria dingin itu.


"Brengsek, beraninya kau memukul ku," ucap Justin.


"Aku bahkan akan membunuhmu, jika kau tak mengatakan dimana istriku berada," balas Marvin.


"Dia istrimu, tapi kenapa kau bertanya padaku," ucap Justin.


"Cih, masih pura-pura tidak bersalah. Kau yang membawanya pagi tadi brengsek," sahut Marvin sembari meludah ke sembarang arah. Air liurnya bercampur dengan darah segar.


"Kau benar, aku yang sudah menjemputnya pagi tadi. Kau tahu karena apa?"


"Karena apa?"


"Karena tidak ada orang yang dibutuhkan nya saat itu kecuali aku," ucap Justin terkekeh.


"Brengsek." Marvin kembali meninju wajah Justin, hingga tersungkur ke lantai.


"Apa kau mau mati?" Marvin berjongkok dan mencengkram kembali kerah kemeja Justin.

__ADS_1


"Dasar bodoh, kau lah yang membuatnya pergi. Kau sadar, kau yang salah. Jika kau tidak membuatnya terluka mungkin dia tidak akan pergi," teriak Justin.


Deg!


Marvin tersadar memang dialah yang salah. Dia yang sudah membuat Killa pergi. Jika dia sadar lebih cepat dan tidak melukai hati Killa. Kejadian nya tidak akan mungkin seperti ini.


"Aghh, sial, sial, sial," umpat Marvin berteriak sambil menendang sembarangan barang-barang yang sudah hancur. Dia menangis menutupi wajahnya dengan satu tangan.


"Maafkan aku Killa," lirihnya.


"Kau tahu, dia sangat mencintaimu Marvin. Aku bisa melihat jika dia sangat kecewa," ucap Justin.


"Kau tau apa? Jangan mencoba untuk mencuci otak ku."


"Jelas aku tahu, karena aku pernah melihat nya seperti itu. Aku pernah membuatnya merasa seperti itu. Aku menyakiti hatinya dan dia pergi meninggalkan ku."


"Kalau begitu katakan kau membawanya kemana? Agar aku bisa menebus kesalahan ku."


"Kau sudah tidak bisa menemukan nya lagi. Dia sudah pergi jauh, aku pun tidak tahu dia pergi kemana. Dia hanya meminta ku untuk mengantarkan nya ke bandara."


Marvin menoleh ke arah Justin. Ia mengerinyit heran, "Bandara?"


"Benar, Bandara!"


"Tidak, Killa kau tidak mungkin benar-benar pergi kan? Killa aku mohon kembali lah."


Kakinya melemas. Marvin terduduk menumpu lututnya di lantai. Tangisan nya pecah, Marvin berteriak-teriak merutukki kebodohan nya. Merutukki betapa brengseknya dirinya. Menyesali semua perbuatan dan perlakuan nya pada Killa dalam beberapa hari.


Maafkan aku, aku sudah berjanji untuk tidak memberitahukan pada siapa pun kemana dia pergi. Aku hanya berharap semoga kalian berdua bisa bertemu kembali. Namun, aku tidak bisa menjamin apakah dia akan bersedia kembali padamu atau tidak! Batin Justin.


Killa, kembalilah sayang. Aku mohon kembalilah, aku tidak bisa hidup tanpamu. Maafkan aku, maafkan aku yang sudah menyakitimu. Aku mohon kembalilah, aku berjanji tidak akan membuatmu terluka lagi! Batin Marvin.

__ADS_1


...🌹 Bersambung 🌹...


__ADS_2