
Tepat Di Bandara internasional Incheon. Mereka sampai pada pukul lima sore. Dan jadwal keberangkatan mereka pada pukul lima lewat tiga puluh menit. Setengah jam dari sekarang.
Killa keluar dari mobil. Dia hendak membantu Ken untuk mengeluarkan koper miliknya dari dalam bagasi mobil. Tapi asisten sigap itu menolak niat Killa. Itu adalah tugasnya.
"Tidak usah Nona! Ini sudah tugas saya! Tuan akan marah jika saya membiarkan Nona membawanya sendiri!" Ucap Ken tersenyum pada Killa.
Killa membalas hanya dengan senyuman. Sambil mengedarkan pandangan, mencari sosok Marvin. Kemana pria itu pergi.
Itu dia. Dia sedang berbicara dengan seseorang disebuah panggilan telepon. Killa mengernyit menatap jauh kedepan sana.
Jika dia seorang pria, seharusnya dia datang kemari dan membawakan koper milikku! Batin Killa.
Marvin berbalik badan dan berjalan menghampiri gadis yang sedang menggerutu didalam pikiran nya itu. "Ken pergilah, aku akan mengurus sendiri!" ucapnya pada Ken.
"Baik Tuan!" Jawab Ken dengan tanggap.
"Kabari aku jika ada sesuatu yang penting Ken!"
"Baik Tuan, saya akan mengabari anda!"
__ADS_1
Marvin pun meraih gagang koper milik Killa dari tangan Ken. Lagi-lagi membuat Killa tertegun dan keheranan. Ini orang pasti bisa baca pikiran! Kok bisa kebetulan terus menerus seperti ini? Batin Killa.
Dia sangat terkejut karena Marvin gau apa yang ada dipikiran nya. Takdir atau kebetulan. Killa benar-benar tidak mengerti.
Deg!
Jantung nya berdegup dengan kencang. Ketika tiba-tiba saja tangan nya diraih oleh Marvin. Pria itu menggenggam tangan nya dengan sangat erat. Bahkan dia sempat melihat Marvin tersenyum cerah. Sangat menawan pikir Killa.
Marvin berjalan memasuki ruang tunggu bersama Killa. Tangan kirinya menarik koper dan tangan kanan nya menggandeng tangan Killa. Menautkan jari-jemarinya dengan jari-jemari milik gadis itu.
***
Marvin menoleh kesamping, menatap Killa. Gadis itu duduk diam menatap kearah jari-jarinya.
"Ada apa? Apa kau mau minum?" Tanya nya sembari menawarkan minum pada Killa. Gadis itu menatap balik dirinya dan menggelengkan kepala.
"Jadi kenapa?" Tanya nya lagi.
Entah kenapa jari-jari ku terasa kaku setelah kau menggenggam tanganku! Batin Killa menatap tajam Marvin.
__ADS_1
"Oh aku tahu! Kau pasti gugup akan bertemu dengan orang tuaku! Tenanglah! Mereka pasti akan menerima mu!" Ucap Marvin seraya kembali menggenggam tangan Killa yang jari-jarinya meng-kaku.
Siapa yang gugup sih! Aku seperti ini karena dirimu pria dingin! Plis, berhenti menghukum ku seperti ini! Batin Killa meronta-ronta.
Killa mencoba menarik kembali tangannya dari genggaman Marvin. Tapi pria dingin itu tetap tidak mau melepaskan nya.
"Diamlah! Aku tidak akan menggigit tanganmu! Kenapa kau tidak bisa tenang sedikit sih?" Ucap Marvin.
Killa mendengus kesal dan memalingkan wajahnya. Dia pun membiarkan Marvin menggenggam tangannya. Tidak lama kemudian pesawat pun mulai lepas landas. Terbang menuju Beijing.
Killa terlelap disepanjang perjalanan. Marvin sendiri memilih untuk membaca sebuah majalah untuk mengisi waktu.
Deg!
Ia sangat terkejut, ketika sesuatu menyentuh pundak kirinya. Marvin menoleh melihat kepala Killa yang tersandar disana. Sunggingan senyuman pun tercipta di wajahnya.
Tidurlah! Kau pasti lelah! Aku akan membangunkan mu jika sudah sampai! Gumam Marvin.
Marvin pun mengelus lembut kepala Killa dan menghujaminya dengan kecupan hangat. Marvin membiarkan Killa tidur dengan menyandarkan kepala dipundak kirinya.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...