
Marvin berlari keluar melalui teras belakang. Sambil memanggil-manggil nama Killa. Pria itu mengira Killa pasti berada diteras belakang untuk menenangkan diri.
"Killa!"
"Killa!"
"Killa!"
"Dimana dia? Dia baru pertama kali kesini? Sekarang dia sudah keluyuran entah kemana! Gadis itu--" Gerutu Marvin terhenti ketika melihat jejak kaki Killa.
Jejak kaki tanpa menggunakan alas kaki itu mengarah ke pantai. Marvin pun segera berlari kedalam rumah untuk mengambil sendal untuk Killa kenakan. Tapi sebelumnya dia juga mengganti sepatunya dengan sebuah sendal. Agar tidak susah untuk berjalan dipinggiran pantai.
Marvin terus berjalan menyusuri bibir pantai. Dengan membawa sepasang sendal ditangan kirinya. Terkadang ombak laut mengenai kakinya. Celana yang ia pakai sudah ia lipat hingga kelutut.
"Apa dia anak kecil!" Gumamnya menatap jauh kedepan sana.
Nampak seorang gadis tanpa alas kaki sedang membuat sebuah istana pasir. Dan membuat tulisan-tulisan dipasir basah menggunakan sebatang kayu. Marvin pun segera menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapnya dingin sembari menatap kearah laut. Masih gengsi untuk menatap wajah Killa.
"Apa urusanmu?" Killa mendengus kesal. Lagipula jika Marvin mendatanginya hanya untuk cuek dan acuh seperti itu. Killa malah semakin kesal dan marah.
"Dan apa ini? Kau sangat kekanak-kanakan!" Ucap Marvin lagi, sembari membaca tulisan disamping istana pasir buatan Killa.
Tertulis.
...🌹ISTANA KEMATIAN MILIK TUAN MARVIN LOUIS YANG DINGIN DAN KAKU🌹...
Killa pun berdiri dan berbalik badan membelakangi Marvin. Dia tidak ingin melihat wajah Marvin
Dia masih marah.
"Jadi ini adalah istana kematian milikku? Berarti aku adalah rajanya! Lalu kau apanya?" Ucap Marvin sembari menyentuh istana pasir itu menggunakan kakinya.
Brassh!
Istana pasir itu seketika hancur. Marvin terkejut matanya membulat menatap istana pasir buatan Killa hancur. Gadis itu pun langsung menoleh dan menatap Marvin dengan tajam.
"Kau!" Tunjuknya dengan membentak kewajah Marvin.
"Aku tidak sengaja, lagi pula ini hanya istana jelek! Aku bisa membuatkan mu istana yang asli dan lebih mewah dari ini!" Ucapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Membuat Killa semakin kesal dan marah.
"Pergilah Tuan Marvin Louis, aku sedang tidak ingin bertemu denganmu!" Ucap Killa mengusir Marvin.
Ketika dia hendak melangkah pergi tiba-tiba saja kakinya tersandung sebuah karang yang tajam. Tapi sebelum ia terjatuh kepasir Marvin terlebih dulu menangkap pinggul rampingnya.
"Kau itu sangat ceroboh Killa! Apa kau tidak bisa berhati-hati sedikit!" Ucap Marvin membentak dengan nada tinggi.
"Lepaskan aku, jika kau mau marah-marah! Sebaiknya pergi saja!" Sahut Killa pelan sembari melepaskan tangan Marvin dipinggulnya.
"Jangan keras kepala! Tunggu disini!" Ucap Marvin sembari berjalan kearah pasir putih yang kering.
Marvin membuka blazer panjang hitam yang ia pakai, lalu menghamparkan nya di atas pasir. Lalu berjalan menghampiri Killa dan langsung menggendong gadis itu dengan gaya bridal.
"Duduklah disini!" Marvin mendudukkan Killa diatas blazer nya itu. Killa hanya terpaku diam membiarkan Marvin melakukan apa yang mau dia lakukan.
__ADS_1
"Biarkan aku melihat kakimu?" Ucap Marvin.
Killa menggelengkan kepala, tidak setuju. "Aku tidak mau!" Tolaknya.
Marvin menghela nafas pelan, agar tetap bersabar. Dia teringat perkataan Mamah Anna. Harus ada yang mengalah demi kebaikan. Tapi bukan berarti kalah.
"Kakimu terluka! Tadi tanganmu, sekarang kakimu! Besok-besok apa lagi yang akan terluka?" Ucap Marvin dengan kesal.
"Kan, kau marah-marah lagi! Aku pusing mendengar omelan mu!" Sahut Killa sembari memalingkan wajahnya.
"Aku tidak akan marah Killa! Jika kau bisa menjaga tubuhmu agar tidak terluka! Selama ini aku sudah sering melihatmu terluka! Aku tidak mau itu terjadi lagi!" Ucap Marvin tatapan cemas sangat nampak diwajahnya.
Killa terdiam ia langsung menoleh menatap Marvin yang tengah merobek lengan bajunya untuk mengusap darah dari luka robek ditelapak kakinya.
Dia sangat lembut dan perhatian! Aku selalu kagum dengan sikap manisnya yang seperti ini! Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta, ya tuhan! Aku takut ini salah, jika aku menaruh perasaan padanya! Batin Killa.
Marvin menengadahkan kepalanya. Pandangan mata mereka bertemu. Menatap lekat dengan sangat lama. Tangan Marvin terulur menyentuh wajah Killa dan mengelusnya dengan lembut.
Tambah lama wajah Marvin semakin dekat. Killa merasa dadanya berdebar-debar, ia tahu apa yang akan dilakukan Marvin. Ia pun menutup kedua matanya. Kemudian.
Cups!
Cups!
Dua kecupan singkat dan hangat mendarat dibibir lalu dikening Killa. Seketika gadis itu membuka matanya dan wajahnya memerah.
"Maafkan aku!" Ucap Marvin dengan wajah yang masih berdekatan.
"Kenapa kau meminta maaf?" Ucap Killa menatap manik mata Marvin yang indah.
Killa tersenyum dan mengangguk. "Aku juga minta maaf, karena aku sudah membentak mu dan pergi begitu saja! Aku tak seharusnya begitu padamu! Aku mengerti dengan sifat aneh mu itu, ckckck" Ucapnya kemudian dengan tertawa pelan.
"Jadi apa kita berbaikan?" Tanya Marvin menatap lekat wajah Killa.
"Hmm!" Killa mengangguk dengan wajah yang merah. Tersipu dan malu yang dia rasakan.
"Terima kasih Killa!" Marvin mengecup kembali kening Killa. Lalu mendekapnya dengan sangat erat. Begitupun sebaliknya, Killa membalas pelukan Marvin.
"Naiklah!" Marvin berjongkok dihadapan Killa dengan membelakangi. Isyarat agar Killa naik kepundaknya.
"Mau apa? Aku masih bisa berjalan sendiri!" Ucap Killa malu-malu seolah menolak. Padahal dalam hati yang paling dalam, dia ingin sekali digendong Marvin seperti itu. Dengan cara dibopong dibelakang.
"Tak usah membantah, aku tidak mau kakimu terkena pasir! Karena lukanya bisa infeksi!" Ucap Marvin.
Killa pun mengangguk dan langsung naik dan memeluk pundak Marvin dari belakang. "Pegangan erat-erat!" Ucap Marvin seraya bangun dari jongkoknya.
"Ada apa?" Tanya Killa yang kebingungan, merasakan pergelangan tangan Marvin bunyi.
"Tidak apa-apa! Hanya saja aku tidak menyangka! Tubuhmu ramping tapi kau lumayan berat!" Ucap Marvin sembari memperbaiki posisi tubuh Killa.
"Benarkah? Apa aku harus mengurangi porsi makan ku?" Jawab Killa malu.
"Tidak perlu, aku menyukaimu apa adanya!" Sahut Marvin sekenanya dan melangkahkan kaki nya menuju rumah Mamah Anna.
"Kau selalu saja berkata seperti itu! Apa kau sudah sering merayu wanita, hingga sangat gampang kata-kata manis keluar dari mulutmu!" Ucap Killa sedikit cemburu.
__ADS_1
"Hmm!" Marvin mengangguk.
"Tuh kan beneran! Kau sama saja dengan pria buaya diluar sana! Menebarkan kata-kata manis pada semua wanita! Kau menyebalkan!" Ucap Killa kesal tak terima.
"Hahaha! Kau cemburu!" Marvin tergelak.
"Tidak aku tidak cemburu!" Killa berkata dengan bibir yang mencondong kedepan karena cemberut.
"Aku tidak pernah berkata manis pada wanita manapun! Hanya kau dan Mamah Anna, wanita yang selalu aku goda! Bahkan aku tidak pernah berkata baik pada Reghata, meskipun kami berteman dari kecil!" Jelas Marvin sembari menoleh kesamping kiri untuk melihat wajah cemberut Killa.
"Benar-----"
Cups!
Lagi-lagi Marvin mengecup bibir Killa. Membuat gadis itu tak bisa menyelesaikan perkataannya. Wajah Killa kembali merona dan dadanya kembali berdebar. Ingin dia berteriak sekencangnya karena hampir serangan jantung dibuat Marvin. Namun tidak bisa.
Marvin hanya tergelak melihat tingkah malu Killa. Sangat menggemaskan baginya. Seorang gadis keras kepala dan kasar, ternyata memiliki sisi yang menggemaskan seperti itu.
"Vin!" Panggil Killa.
"Ada apa? Apa kakimu sakit?" Tanya Marvin menoleh sedikit menatap wajah Killa yang dagunya bersandar dipundak kirinya.
"Berjalan disitu!" Killa menunjuk bibir pantai yang pasirnya basah.
"Tidak mau! Apa kau mau tanggung jawab, jika kakiku alergi terkena air laut!" Marvin menolak kemauan Killa yang tidak wajar.
"Ohh, ayolah! Plis! Atau turunkan aku, biarkan aku yang merasakannya menggunakan kakiku sendiri!" Killa cemberut dan mengancam akan turun dari gendongan Marvin.
"Huh! Baiklah! Baiklah, dasar gadis keras kepala!" Marvin menghela nafas dan kemudian menuruti kemauan Killa yang tidak jelas itu.
Ia pun mulai memijakkan kakinya dipasir basah itu. Dan sesekali ombak menyapu mengenai kakinya. Killa merasa sangat senang, meskipun bukan kakinya yang merasakan ombak. Tapi dia begitu senang. Karena sudah sangat lama dia tidak merasakan hal yang seperti ini. Dia terlalu sibuk mencari uang untuk biaya sekolah Naya sang adik.
Sampai akhirnya, ada ombak yang sedikit besar dari yang sebelumnya menghempas dikaki Marvin. Pria itu hampir saja kehilangan keseimbangan. Jika tidak mereka akan jatuh bersamaan dan basah.
"Aaaaa! Marvin awas!" Teriak Killa ketika Marvin bergerak-gerak.
Seketika, keduanya terdiam. Menatap sendal sebelah kiri yang Marvin pakai. Tersapu ombak ketengah laut. Hening beberapa saat. Lalu kemudian mereka tertawa bersama. Merasa geli dengan kejadian barusan.
"Sendal mu terlepas! Hahaha!" Killa tertawa hingga matanya berairan.
"Itu semua karena mu, memintaku untuk berjalan disini! Hahaha!" Marvin ikut tergelak. Kini sendalnya itu sudah berada sangat jauh ditengah-tengah. Marvin pun melepaskan lagi yang sebelahnya. Agar lebih impas pikirnya. Mending tidak memakai alas kaki sekalian, dari pada hanya memakai sebelah seperti orang tidak waras.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Killa cemas jika Marvin tidak terbiasa.
"Tidak apa-apa! Demi dirimu apapun aku lakukan Killa!" Sahut Marvin.
"Cih, dasar! Lagi-lagi kau merayuku dengan kata manis!" Killa memutar bola matanya.
"Aku tidak sedang merayu, aku serius! Dasar gadis bodoh!" Ucap Marvin menggerutu kesal. Karena Killa tidak peka dengan perkataannya.
Mereka pun sampai kembali dirumah Mamah Anna. Disana ternyata sudah siap semua. Ada Gavin dan Reghata, yang membantu Mamah Anna dan Papah Arsen bersiap-siap.
...🌹Ayo Vote dong! biar aku semangat😊😊😊🌹🙏🏻...
klik gambar ini yah🙏🏻
__ADS_1