Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 126 : Sangat membosankan.


__ADS_3

Langkah kaki Marvin terdengar ditelinga Killa. Saat dia berjalan menyusuri lorong menuju ruang santai. Tempat dimana dua gadis itu sedang menikmati sebuah film action di tv.


Killa mengedarkan pandangannya kearah sumber suara langkah. Didapatinya Marvin yang tengah membawa sebuah piring putih berisi buah apel ditangan kanannya.


"Kau dari mana saja Vin? Filmnya sudah mulai sejak tadi," tanya Killa mengerutkan keningnya.


Marvin tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia malah langsung duduk ditengah-tengah dua gadis itu. Menggeser dengan kasar tubuh Naya hingga menabrak pinggiran sofa.


"Awwh! Kakak ipar kau sudah tidak waras," ringis Naya kesakitan memegangi punggungnya.


"Ini rumahku, terserah aku mau duduk dimana pun!" Sahut Marvin ketus.


"Sudah, berhentilah bertengkar!" Teriak Killa. Membuat kedua orang yang labil sedang bertengkar itu, seketika terdiam.


Marvin dan Naya saling menatap dengan kilatan-kilatan petir tersambar diantara keduanya.


***

__ADS_1


Tidak terasa setengah jam sudah berlalu. Suasana diruangan itu masih sama seperti sebelumnya. Sangat-sangat membosankan untuk Marvin. Karena jujur saja menonton film bukanlah hobi ataupun hal yabg dia sukai.


Jika bukan karena Killa, ia tidak akan mau bertahan lama duduk menonton film yang dianggapnya itu membosankan.


"Kau mau kemana anak nakal?" Cegah Marvin ketika merasakan gadis disebelah kirinya itu beranjak.


"Aku mengantuk, besok aku masih harus sekolah ... Hoamph!" Jawab Naya seraya menutupi mulut dengan telapak tangan, menguap.


"Baiklah, pergi sana besok kau tidak boleh telat bangun!" Sahut Killa yang ikut menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar tv. Seakan enggan untuk melewatkan satu adegan pun dalam film kesukaannya itu.


Naya pun pergi. Berselang lima menit, Marvin pun juga ikut beranjak. Ia berniat untuk mengambilkan obat dari dokter yang harus diminum oleh Killa. Namun ketika hendak pergi Killa menarik tangannya.


Marvin menghela nafas pelan. "Kau boleh menyukai film ini, tapi jangan sampai melupakan kesehatan. Dasar gadis bodoh, kau melupakan obatmu!" Ucapnya menggerutu.


"Oh iya, bisakah kau mengambilkan nya? Pliss," Killa memasang wajah manis, dengan mata yang dikedip-kedipkan.


"Cih, sangat menggelikan," Ia mengedikkan kedua bahunya lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Setelah sampai didepan pintu kamar. Ia kembali menoleh kearah Killa. Dilihatnya wajah serius Killa, yang hampir tidak mengedipkan matanya saat menonton.


"Lihatlah dia menatap film itu sampai tidak berkedip, bahkan tidak sempat menatapku yang duduk disebelahnya! Apa dia lebih menyukai film itu dari pada aku?" Gerutunya kembali.


Setelah mengambilkan obat Killa dan mengambil air digelas. Ia pun kembali duduk disebelah gadis itu. "Ini minumlah lebih dulu," ucapnya menyodorkan gelas dan obat pada Killa.


Killa meraih obat dan air digelas, meminumnya dengan cepat. "Terima kasih," ucapnya dengan tersenyum pada Marvin.


"Aku merasa sudah seperti pembantunya," gumam Marvin sembari menghela nafas panjang dan menyandarkan kepala nya.


"Kau bilang apa?" Tanya Killa tiba-tiba.


"Aku tidak bilang apa-apa! Lanjutkan saja tontonan mu." Sahutnya malas.


"Kenapa nada bicaramu seperti itu? Apa kau tidak suka dengan film ini?" Tanya Killa lagi.


"Tidak usah menghiraukan ku," menunjuk layar tv.

__ADS_1


"Kau sangat aneh pria dingin," ucap Killa kembali menonton film. Baginya sikap Marvin tidak penting, karena sudah biasa pria dingin itu begitu. Bahkan bisa lebih parah anehnya dari sekarang.


__ADS_2