Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 185 : Tiga hari sebelumnya.


__ADS_3

Tiga hari sebelum nya.


Justin baru saja menjajakan kakinya di kota Berlin. Semenjak beberapa Minggu yang lalu, ia mengirim Killa dan Naya tinggal bersama Ayah nya di Berlin.


Dengan menghela nafas lega dan hati yang berbunga-bunga akan bertemu dengan Killa. Justin berjalan memasuki Villa mewah milik ayahnya itu.


Matanya berkeliling mencari-cari penghuni Villa. Tidak sabar untuk bertemu dengan mereka semua. Namun tidak ada satu pun yang ia lihat. Ayahnya, Killa, maupun Naya, tidak nampak sama sekali. Hanya beberapa pelayan saja yang sedang bersih-bersih.


Tiba-tiba saja terdengar ditelinganya, suara tawa dari arah taman belakang Villa. Sudut bibirnya tertarik dan segera ia melangkah lebar mengikuti arah tawa tersebut. Ia terhenti di ambang pintu sambil mengerutkan keningnya.


"Gadis itu," ucapnya termangu melihat Naya dan sang Ayah yang nampak begitu akrab. Mereka tertawa bersama. Sang ayah yang sedang duduk di kursi rodanya, mencandai Naya yang tengah membantu tukang kebun menata bunga-bunga. Sungguh pemandangan yang sangat teduh di mata Justin. Karena sebelumnya ia tidak pernah melihat sang ayah bisa sebahagia sekarang ini.


Namun, ada sesuatu yang mengganjal di penglihatannya. Killa, dimana dia? Kenapa tidak ada bersama dengan mereka? Pikiran nya bertanya-tanya. Kakinya pun tergerak menghampiri kedua orang yang tengah bercanda-tawa itu.


"Ayah," sapa nya dengan wajah datar seperti biasa.

__ADS_1


Keduanya menoleh bersamaan. "Kau sudah datang? Ada apa?" jawab sang ayah.


"Yah, aku baru saja sampai." Pandangan nya tak sengaja menatap Naya yang sedang berjongkok di tanah. Canggung, Naya langsung memalingkan wajahnya.


"Dimana Killa?" sambung nya bertanya sambil menoleh kiri dan kanan mencari-cari sosok tersebut.


"Oh, Killa ada di kamarnya, sudah beberapa hari ini dia bilang tidak enak badan," jelas sang ayah.


"Apa? Killa sakit? Kenapa tidak ada yang memberitahu ku? Kalian ini bagaimana sih? Jika terjadi apa-apa padanya bagaimana?" ucapnya kesal.


"Cih, kenapa kau marah-marah pada kami? Hei, sadarlah aku ini adiknya. Memangnya kau saja apa yang perduli pada kakak? Aku juga sangat perduli padanya. Dia sudah pergi ke dokter kemarin, minum obat dan makan yang teratur, itu semua aku yang perhatikan. Jadi tidak usah sok perduli padanya," tutur Naya ketus.


Justin mengerutkan dahi dan menatap tajam Naya. Entah kenapa rasanya ada sesuatu dalam dirinya, sedang tergelitik. Sikap Naya yang tiba-tiba marah seperti itu, membuat Justin ingin mencubit bibirnya yang terus merocos itu.


"Berani sekali kau meneriaki ku," serang nya.

__ADS_1


"Apa? Dasar tidak sadar diri, kau duluan yang meneriaki kami. Tidak sopan," sahut Naya seraya melipat tangan didada dan memutar bola matanya.


"Tidak sopan?" Justin menaikan sebelah alisnya.


"Benar, kau adalah anak yang tidak sopan. Bagaimana kau akan menjadi seorang ayah, jika kau saja tidak menghargai ayahmu sendiri. Berteriak seenaknya seperti itu." Naya berkacak pinggang dan semakin menantang Justin.


"Siapa bilang aku akan menjadi seorang ayah? Aku tidak ingin memiliki seorang anak, apalagi jika anak itu seperti mu." Justin tersenyum miring meledek.


"Apa kau bilang? Tidak ingin punya anak? Hahaha, benar kau pasti tidak memiliki keinginan untuk menikah sampai kau tua dan keriput. Aku juga hampir lupa, lagian tidak ada wanita yang mau menghabiskan sisa hidupnya dengan pria sepertimu." Naya memutar bola matanya kembali dan tertawa meledek Justin.


"Kau!" Justin mengepalkan tangan nya di udara.


"APA?" Justin terdiam ketika Naya membentak dan melototi nya.


Justin mendengus kesal dan berlalu pergi membawa amarah nya yang sudah dipuncak. Mungkin jika saja Naya bukan lah adiknya Killa. Ia sudah mencekik gadis itu dan menggantung nya di kandang buaya miliknya. Karena itu Justin memilih pergi, dari pada ia akan semakin naik darah. Berseteru dengan Naya yang tidak akan ada habisnya.

__ADS_1


"Dasar gadis gila," gerutunya seraya menaiki tangga menuju kamar Killa.


__ADS_2