Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 213 : Akan menjadi seorang ayah.


__ADS_3

Keesokan paginya. Marvin menggandeng Killa menuju ruangan VIP, tempat Mamah Anna dirawat. Dengan jari-jari yang saling bertautan, seakan enggan untuk melepaskan nya.


"Marvin," sapa seorang pria yang tak lain adalah Gavin. Pria itu berdiri tepat di depan pintu ruangan Mamah Anna. Menatap Marvin dengan raut wajah lesu.


"Ada apa? Apa Mamah Anna baik-baik saja?" tanya Marvin.


"Ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Gavin melirik Marvin dan Killa secara bergantian.


"Hmm, baiklah!" Marvin menoleh ke arah Killa. "Masuklah sendiri, aku akan bicara pada Gavin sebentar."


Killa mengangguk, "Pergilah." Dia sadar jika ini adalah pembicaraan antara kakak dan adik. Ia tak ingin menjadi pengganggu. Killa pun segera masuk ke dalam ruangan Mamah Anna.


Sepeninggal Killa. Gavin dan Marvin memilih tangga darurat tempat mereka mengobrol. Wajah Gavin nampak begitu serius. Membuat Marvin menjadi tidak tenang, dan menduga-duga sesuatu yang buruk dalam pikiran nya.


"Ada apa?" tanya Marvin tidak sabaran.


"Aku ingin memberitahumu mengenai keadaan Mamah Anna," lirih Gavin memalingkan wajahnya ke arah lain. Seakan berat untuk mengatakan nya.


Marvin mendengus dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Ada apa? Kenapa kau bicara seperti ini ... Gavin katakan dengan jelas, jangan membuatku semakin khawatir!"


"Dokter bilang, Mamah Anna mesti mendapat perawatan intensif, meskipun dia dirumah, kau harus memperkerjakan perawat untuk menjaganya, karena tubuhnya semakin hari semakin lemah," tutur Gavin.

__ADS_1


"Diagnosa penyakit nya? Apa dokter mengatakan sesuatu?"


Gavin menggelengkan kepalanya, "Mereka belum menemukan sesuatu yang salah pada tubuh Mamah Anna, jadi dia meminta agar kita tetap waspada dan memperhatikan Mamah Anna, jangan sampai dia kelelahan, banyak pikiran, dan pingsan kembali."


"Hmm, baiklah! Sesuai perkataan mu, aku akan memperkerjakan perawat untuk Mamah Anna, kau tidak perlu khawatir!"


"Terima kasih, Marvin!"


"Mamah Anna, sudah aku anggap seperti ibuku sendiri, aku pergi dulu!"


Marvin menepuk pundak Gavin, dan berlalu pergi. Namun ketika di ambang pintu keluar tangga darurat. Gavin memanggilnya kembali, Marvin berhenti dan menoleh.


Marvin tersenyum dan menggeleng, "Aku akan memberitahu mereka segera." Lalu ia pun pergi, menyusul Killa untuk bertemu dengan Mamah Anna.


***


Tak terasa seminggu sudah berlalu, saat kepulangan Killa ke Seoul. Keadaan Mamah Anna semakin hari juga semakin membaik, dengan adanya Killa yang menemaninya dirumah selagi Marvin bekerja.


Malam ini pelayan di rumah besar Marvin tengah sibuk. Mempersiapkan acara makan malam keluarga Louis. Marvin dan Killa akan mengumumkan tentang kehamilan Killa malam ini kepada semua keluarga.


Di dalam kamar, Killa berdiri di depan kaca meja hiasnya. Tiba-tiba saja, sepasang tangan melingkari pinggangnya dari belakang.

__ADS_1


"Kau siap, sayang?" ucap Marvin seraya mengecup pipi Killa.


"Entahlah, aku sangat gugup, Marvin!"


"Kenapa kau gugup, kita tidak akan menghadiri sebuah sidang! Kita hanya akan menghadiri makan malam keluarga Louis, dan akan memberikan pengumuman bahwa akan ada satu lagi Baby yang akan lahir."


"Kau benar, ini adalah hari yang bahagia! Aku tidak boleh gugup di depan keluarga mu!"


Killa menyemangati dirinya sendiri. Seketika terlintas dibenak nya sosok Naya, sang adik. Dia sangat merindukan nya.


"Ada apa?" tanya Marvin, membuyarkan lamunannya.


"Hmm, aku merindukan Naya! Jika saja dia ada disini mungkin hari ini akan terasa lengkap dengan adanya dia di sampingku." Killa terlihat sedih.


Marvin memutar tubuh Killa lalu mengangkat dagunya. "Lihat aku!"


Killa menatap mata Marvin. "Naya pasti akan baik-baik saja, dia sudah bukan anak kecil lagi. Dia bisa menjaga dirinya sendiri, terlebih ada Justin di sana! Percayalah padanya."


Marvin berusaha membuat Killa merasa yakin. Agar tidak terlalu memikirkan keadaan sang adik. Yang pastinya akan baik-baik saja, selagi Justin ada disampingnya.


Killa mengangguk dan tersenyum, ia langsung memeluk Marvin dengan sangat erat. Begitu pun juga dengan Marvin, ia memeluk sang istri sambil mengelus-elus dan menghujam pucuk kepalanya dengan kecupan hangat penuh kasih.

__ADS_1


__ADS_2