Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 105 : Memiliki sifat dan wajah yang palsu.


__ADS_3

Angin berhembus dengan kencang, menerbangkan beberapa helaian rambut Killa yang panjang. Gadis itu mengedarkan pandangannya menyapu daerah sekeliling tempat mereka berada.


Matanya tertuju pada rumah minimalis yang sangat klasik. Tidak besar dan tidak mewah, tapi rasanya seperti sangat nyaman berada dirumah itu. Terlebih rumah itu terletak dipinggiran pantai yang sangat indah. Cat nya yang berwarna putih dengan tanaman-tanaman hias yang bergantung diterasnya menambah kesan asri.


"Wahh! Indah sekali!" Killa berdecak sangat kagum.


"Kau suka!" Marvin menoleh pada Killa yang tengah berbinar melihat sekelilingnya. Gadis itu pun menoleh juga padanya.


"Hmm! Aku suka, rumah siapa itu?" Killa mengangguk dan bertanya. Tangannya tak berhenti mengusap rambut yang terus menutupi wajah nya ketika berbicara.


Marvin merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Lalu ia membalikkan tubuh Killa membelakangi dirinya.


"Apa yang kau lakukan?" Killa mencoba membalikan kembali tubuhnya, namun ditahan oleh Marvin.


"Sebentar saja!" Ucap Marvin.


Killa terkejut merasakan tangan Marvin menyentuh batang lehernya. Pria itu sedang merapikan rambut Killa dan menguncirnya dengan ikat rambut yang tadi dia keluarkan dari saku celana.


"Sudah!" Marvin selesai, meskipun kunciran nya tidak sempurna. Tapi Marvin merasa sangat puas.


"Darimana kau mendapatkan ini!" Killa meraba kunciran rambutnya.


"Kau tak perlu tahu, yang terpenting sekarang rambutmu sudah tidak mengenai wajahmu lagi!" Ucap Marvin seolah-olah tidak perduli. Pandangan nya lurus kedepan, tanpa mau menatap Killa.


"Terima kasih!" Gadis itu tersenyum dengan wajah yang merah. Marvin selalu saja membuat hal baru yang mengejutkan dirinya.


"Jadi, apa kau mau pergi apa tidak?" Tanya Marvin sembari mengulurkan tangannya pada Killa.


Killa menatap tangan Marvin yang terulur dan menatap wajahnya. "Hmm!" Mengangguk sembari tersenyum.


Killa meraih tangan Marvin dan menggenggamnya erat dengan jari-jari yang saling bertautan. "Kau tidak kedinginan?" Tanya Marvin menoleh.


"Tidak!" Sahut Killa tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Mereka memijakkan kaki di hamparan pasir putih menuju rumah yang diketahui adalah rumah Mamah Anna.


Marvin membunyikan bel pintu rumah Mamah Anna. beberapa kali ia menekan, tidak lama kemudian terdengar suara sahutan dari dalam. Suara seorang wanita.


"Tunggu sebentar!"


Bersamaan dengan suara kunci pintu yang diputar. Pintu pun terbuka. Nampak sesosok wanita paruh baya berusia lima puluh tahun. Yang masih terlihat cantik, dan awet muda. Dengan rambut ikal berwarna kecoklatan, kerutan diwajahnya juga belum terlihat.

__ADS_1


"Marvin!" Seru wanita itu sembari langsung menghambur memeluk sang anak yang sangat ia rindukan.


"Apa kabarmu nak? Mamah sangat merindukanmu!" Lanjutnya dengan melepaskan pelukan dan memegangi kedua pipi Marvin. Menatap dengan penuh kerinduan.


"Marvin baik Mah! Marvin juga sangat merindukan Mamah!" Ucap Marvin.


Mamah Anna kembali memeluk Marvin. Kerinduan yang ia rasakan akhirnya terlepas juga. Meskipun Marvin bukanlah anak kandungnya. Tapi ia begitu sayang terhadap Marvin. Tidak ada yang dibanding-bandingkan antara Marvin dan Gavin. Mamah Anna memperlakukan mereka berdua sama.


Pandangan Mamah Anna mengedar kepada seseorang yang berdiri disebelah Marvin. Seorang Gadis cantik yang tersenyum.


"Apa dia wanita yang kau nikahi disana?" Tanya Mamah Anna melepaskan pelukannya.


"Hmm!" Marvin mengangguk sembari melirik Killa.


"Senang bertemu anda! I--ibu...." Killa menyapa dengan gugup sambil membungkuk sedikit.


"Panggil saja aku dengan sebutan yang sama dengan Marvin!" Mamah Anna melempar senyuman hangat pada Killa.


"Hmm, baiklah Mamah Anna, senang bisa bertemu denganmu!" Ucap Killa membalas senyuman Mamah Anna. Sambutan yang hangat sekali, Killa merasa berbeda. Keluarga Marvin menerima dirinya dengan sangat baik. Mereka tidak memilih-milih orang untuk menjadi menantu mereka. Sepertinya dikeluarga ini tidak mementingkan seberapa kaya dirimu. Tapi lebih mementingkan seberapa tulus kamu.


"Ayo masuklah, tidak perlu sungkan! Kita sama-sama berasal dari Seoul! Mamah tidak menyangka Marvin akan menikahi seseorang yang berasal dari kota kelahiran ayahnya!" Ucap Mamah Anna. Sembari menggandeng menantu cantiknya itu masuk kedalam rumah.


"Tidak menyangka? Apa maksudnya itu Vin?" Killa bingung dan melirik Marvin yang berjalan disebelahnya. Marvin hanya datar, tak memberikan tanggapan atas pertanyaan itu.


Killa masih tak berhenti menatap Marvin. Seolah menunggu jawaban atas perkataan Mamah Anna tadi.


"Mamah ke dapur dulu yah, membuatkan kalian minuman!" Ucap Mamah Anna yang hendak berlalu, tapi tangannya ditahan oleh Marvin.


"Mamah mau kemana? Bukankah aku sudah memperkerjakan seorang pelayan dirumah ini! Agar mamah tidak perlu melakukan pekerjaan rumah, mamah hanya perlu bersantai dan berisitirahat!" Ucap Marvin dengan nada sedikit membentak. Dia kesal dengan sikap Mamah Anna yang tidak pernah mau mendengarkannya.


Padahal Marvin hanya tidak ingin Mamah Anna menjadi kelelahan. Jika harus melakukan pekerjaan rumah sendiri. Karena itu dia memperkerjakan seorang pelayan dirumah ini. Tapi dengan sifat keras kepala wanita paruh baya itu selalu saja diam-diam melakukan pekerjaan rumahnya.


"Marvin sayang! Apa kau mau memarahi Mamah mu ini didepan istrimu?" Mamah Anna tersenyum melirik Killa.


"Mamah hanya ingin membuatkan minuman untuk anak Mamah sendiri! Hanya itu tidak akan membuat Mamah kelelahan kan!" Lanjutnya bersikeras dan tetap berlalu masuk kedapur.


"Dasar keras kepala!" Umpat Marvin pelan sambil mengusap wajah dengan kasar.


"Vin, ada yang mau aku tanyakan padamu!" Ucap Killa menyentuh pundak kiri Marvin. Pria itu pun menoleh padanya.


"Jangan sekarang!" Ucapnya singkat dengan raut wajah yang masih kesal. Killa mengangguk, mengerti dengan ucapan Marvin. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Mamah Anna kembali dengan membawa minuman untuk mereka berdua. Lalu menaruhnya diatas meja didepan masing-masing.


"Silahkan diminum sayang!" Mamah Anna mempersilahkan Killa untuk minum. Gadis itu mengangguk dan meneguk minuman yang disuguhkan. Begitu pula dengan Marvin.


"Jadi, apa Marvin tidak memberitahumu mengenai maksud dari perkataan Mamah tadi?" Ucap Mamah Anna melirik Marvin yang nampak dingin dan acuh.


"Ti-tidak Mah! Killa baru mendengarnya dari Mamah! Memangnya ada apa dengan wanita disana?" Ucap Killa yang juga melirik Marvin dan menekankan kata 'Wanita Disana' diakhir kalimatnya.


"Ckckck! Dia sangat pemilih, kaku, dingin, dan juga tidak bisa bergaul dengan seseorang! Marvin beranggapan jika wanita disana memiliki sifat dan wajah yang palsu! Penuh dengan kebohongan!" Jelas Mamah Anna.


"Mah, tidak semua yang seperti itu! Mamah bukanlah orang seperti itu!" Sahut Marvin yang tidak membenarkan semua ucapan Mamah Anna.


"Apakah Mamah Anna juga berasal dari Seoul sepertiku?" Tanya Killa penasaran.


"kau benar! Kita berasal dari kota dan negara yang sama! Karena itu Mamah sangat senang Marvin menikahi mu! Dia termakan dengan sumpahnya sendiri! Ckckck!" Mamah Anna tertawa pelan sembari menutup mulutnya.


"Sumpah?" Killa melirik Marvin.


"Mah, sudahlah untuk apa membahas yang sudah berlalu!" Kini wajah Marvin memerah, karena pembicaraan mengarah padanya.


" Dia pernah bersumpah tidak akan pernah menjalin hubungan apalagi sampai menikah dengan wanita disana! Semuanya palsu dan bermuka dua, pikirnya!" Jelas Mamah Anna kembali.


"Palsu? Bermuka dua? Kau jangan sembarang!" Killa tak terima dia pun menyikut lengan kanan Marvin. Menatap dengan wajah cemberut.


"Hei! Apa kau amnesia?" Ucap Marvin menatap sinis Killa.


"Apa maksudmu? Aku tidak termaksud wanita seperti itu?" Sahut Killa.


"Kau benar-benar lupa ternyata! Aku masih ingat dengan jelas, kau juga bermuka dua saat itu! Saat kita baru pertama kali bertemu! Kau bahkan sempat menipuku dan mencari keuntungan atas diriku!" Ucap Marvin.


Killa terdiam tak bisa menjawab. Karena yang diucapkan Marvin memang benar adanya.


"Yah tetap saja! Aku bukan wanita seperti itu!" Killa memalingkan wajahnya dari Marvin. Kesal sangat kesal rasanya.


Mamah Anna tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri itu. Mengingatkan nya akan dirinya dimasa lalu. Tapi tiba-tiba saja Mamah Anna menjadi sedih. Ia kembali teringat akan sosok wanita cantik yang memiliki hati yang sangat baik dan tulus. Air mata Mamah Anna menetes, tapi tidak ada yang menyadari. Mamah Anna langsung mengusap air matanya itu dengan cepat. Dia tidak ingin Marvin melihatnya menangis. Karena pria itu akan marah nantinya jika melihat orang yang di sayanginya itu meneteskan air mata.


Kakak Cantik, aku tidak akan pernah melupakanmu! Aku menyayangi Marvin sudah seperti anakku sendiri! meskipun itu, tidak akan pernah sepadan untuk mengobati rasa sakit yang dulu pernah aku berikan untukmu! Aku sangat merindukanmu kakak cantik! Maafkan aku! Batin Mamah Anna.


Sebutan 'Kakak Cantik' adalah panggilan Mamah Anna untuk Mia Almarhum ibunya Marvin. Mamah Anna dan Almarhum ibunya Marvin, dulunya memiliki hubungan yang dekat. Tapi hubungan itu hancur ketika kejadian dan kesalahpahaman itu terjadi.Hubungan mereka renggang.


🌹Jangan lupa vote mumpung hari senin guys🎉🌹

__ADS_1



__ADS_2