Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 41 : Dimarahi.


__ADS_3

Siang itu Marvin dan Ken baru saja sampai dilantai sepuluh menggunakan lift khusus CEO. Letak lift tersebut tidak jauh dari lift karyawan yang digunakan Killa. Mungkin jaraknya sekitar lima belas meter.


Marvin menghentikan langkah nya. Ken yang berada dibelakangnya sontak dengan cepat ikut menghentikan langkah. Hampir saja dia menabrak punggung tegap Tuan nya itu.


Marvin mengerinyit heran menatap lurus ke depan sana. Nampak seorang gadis yang baru saja keluar dari lift karyawan. Seperti sedang berbicara dengan seseorang yang berada di dalam lift tersebut. Tapi Marvin tidak bisa melihat dengan siapa gadis itu bicara.


Dia sedang berbicara dengan siapa? Belum genap sehari dia bekerja, apa sekarang dia sudah mendapatkan teman? Dasar wanita! gumam Marvin.


"Oh, bukankah itu Nona Killa!" ucap Ken tiba-tiba membuat lamunan Marvin buyar.


Pria itu langsung berbalik badan berjalan menuju ruangan nya. Ken hanya geleng-geleng kepala seraya mengikuti langkah Tuan nya itu.


Di dalam ruang kerja. Marvin duduk dengan angkuhnya dikursi kerjanya. Ia meraih buku yang ada diatas meja dan langsung membacanya. Tapi matanya tak berhenti melirik kearah pintu.


"Tuan apa ada yang bisa saya bantu?" melihat Tuan nya yang tidak tenang Ken pun bertanya.


"Pergilah belikan makan siang untuk dua orang!" perintah nya tegas.


Tok tok tok!


Suara pintu yabg diketuk dari luar. Marvin terkejut dan melotot kearah pintu. Membuat Ken sedikit heran dan bertanya-tanya. Apa ada setan yang berada di balik pintu itu? Kenapa wajahnya seperti itu?


Marvin menatap Ken yang sedari tadi sedang memandanginya. "Apa? Cepatlah pergi!" Marvin mengusir Ken saat itu juga.


"Baik Tuan, saya permisi dulu" Ken pun pergi dari ruangan kerja Marvin. Dia tersenyum ramah kepada Killa yang ternyata sudah ada dibalik pintu.


"Selamat siang Nona Killa, apa anda butuh bantuan!" Ken menyapa Killa dengan ramah dan menawarkan bantuan.

__ADS_1


"Tidak perlu Ken, aku bisa membawanya sendiri!" ucap Killa.


"Kalau begitu saya permisi!" Ken pun berlalu pergi.


Killa menghela nafas lelah nya. Ia berjalan dengan hati-hati memasuki ruang kerja Marvin.


"Lama sekali! Apa kau tidak tahu caranya menyusun dokumen! Hingga memerlukan waktu setengah hari menyelesaikan nya!" decak Marvin seolah-olah dia sudah menunggu sedari tadi. Padahal dia saja baru datang.


"Huh, berat sekali!" Killa menghela nafasnya seraya menaruh berkas-berkas dokumen itu diatas meja kerja Marvin.


"Apa kau tak lihat! Aku sudah berusaha dengan keras! Paling tidak jangan menambah rasa lelahku dengan omelan mu itu!" Killa berkacak pinggang menatap tak suka kearah Marvin.


"Buatkan aku segelas kopi! Jangan terlalu manis!" ucap Marvin mengalihkan pembicaraan.


"Apa ini salah satu pekerjaanku?" tanya Killa menatap skeptis Marvin.


"Akhh, sudahlah terserah kau saja!" Killa mendengus kesal sambil melangkah keluar dari ruangan itu. Meskipun hatinya kesal tapi gadis itu masih mau menuruti perintah konyol dari Marvin.


Marvin menatap kepergian Killa. "Sepertinya dia sangat kesulitan!" gumam Marvin.


Tok tok tok!


Cklek!


Pintu kembali terbuka.


"Ada apa lagi! Bukan kah sudah jelas yang aku katakan?" ucap Marvin tanpa melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Maaf Tuan, ini saya Hanna!" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Hanna.


"Oh maaf, ada perlu apa? Bukankah ini jam makan siang? Apa kau tidak pergi makan siang!" ucap Marvin kikuk. Gara-gara terus memikirkan Killa, sampai-sampai dia tidak bisa fokus sama sekali.


"Maaf Tuan, saya hanya ingin memberikan ini!" Hanna tersenyum dengan kikuk. Dia merasa Marvin sedikit perhatian padanya. Karena tidak biasa bos nya itu bertanya masalah makan siang. Hanna menjadi besar hati.


"Taruh disana!" Marvin menunjuk ujung meja nya. Hanna menaruh sebuah kertas disana.


Ditengah-tengah kecanggungan itu. Tiba-tiba saja Killa masuk kedalam ruangan.


"Ini dia kopinya, yang tidak terlalu manis untuk Tuan yang sangat ka---" ucapannya terhenti ketika melihat Hanna berada didalam ruang kerja Marvin.


"Selamat siang Nona Hanna!" Killa menyapa Hanna.


Wanita itu hanya mengerutkan dahinya, menatap Killa dengan penuh tanya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya nya.


"Aku sedang membuatkan kopi untuk Tuan Marvin!" Killa berjalan sambil tersenyum, lalu menaruh gelas tersebut di atas meja Marvin.


"Apa maksudmu? Kau jangan sembarangan, Tuan Marvin tidak menyukai kopi! Bahkan dia paling benci yang namanya kopi!" Hanna memarahi Killa yang tidak tahu apa-apa.


"Tapi, aku-...dia-...meny-" Killa terbata-bata menatap Hanna dan Marvin secara bergantian.


Pria itu jadi gugup juga. Dia tidak tahu jika jadinya akan seperti ini. Karena tadi dia asal bicara saja. Menyuruh Killa untuk membuatkan nya kopi. Padahal dia sangat membenci yang namanya kopi.


Sial! Kenapa juga Hanna harus datang kemari! Ken lama sekali, kau dimana asisten bodoh! Marvin malah menggerutu menyalahkan Ken yang sedari tadi belum datang.


...🌹Jangan lupa untuk like🌹...

__ADS_1


__ADS_2