Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 183 : Kehilangan satu anggota keluarga lagi.


__ADS_3

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasa kehilangan yang mendalam sebulan yang lalu, masih bisa ia rasakan. Semenjak Papah Arsen dirawat dirumah sakit Group Louis yang ada di Seoul. Marvin membawa Mamah Anna untuk tinggal bersama di Apartemen miliknya.


Kehilangan Killa membuatnya kembali merasa kesepian menjalani hari-hari. Dengan segala cara dia sudah berusaha mencari keberadaan Killa. Namun tidak ada hasilnya. Penyesalan nya semakin besar, saat mengetahui kebenaran sebenarnya. Jika Gerry Roses tidak pernah terlibat atas kematian ibunya.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"


Marvin menatap luar jendela ruangan VIP rumah sakit tempat Papah Arsen dirawat. Hampir setiap hari ia selalu mengunjungi pria paruh baya itu. Meskipun masih belum sadar juga, paling tidak Marvin mencoba membuat hari-hari Papah Arsen tidak kesepian sepertinya.


Dia selalu mengajak mengobrol Papah Arsen meskipun tidak ada jawaban. Tidak membuat Marvin patah semangat, untuk tetap menyemangatinya. Sedih, pasti sangat sedih rasanya. Apalagi sudah diketahui, jika waktu Papah Arsen tidak akan lama lagi. Marvin menyesal tidak memaafkan Papah Arsen lebih cepat.


Ia tidak tahu ternyata selama ini, Papah Arsen begitu tersiksa. Atas kebencian yang dia berikan selama ini. Membuat Papah Arsen hidup di dalam penyesalan. Sampai-sampai penyakit kanker hati yang ia derita, menggerogoti tubuhnya perlahan.


"Hari ini, sudah sebulan sejak kepergian mu. Apa kau tahu, jika aku sudah berubah. Aku sudah menentukan jalan yang aku pilih, aku tidak akan memilih jalan gelap yang dipenuhi dendam lagi. Ternyata memaafkan itu lebih membuat hatiku nyaman, dari pada menyimpan luka masa lalu di dalam hatiku selama ini."


"Kau benar, aku adalah pria yang sangat egois. Selama ini aku hanya memikirkan bagaimana perasaan ku saja. Tapi aku tidak memikirkan perasaan orang lain, perasaan Ayah, perasaan Mamah Anna, perasaan mu, perasaan Papah Arsen, bahkan perasaan mendiang ibuku. Dia pasti sangat kecewa memiliki putra seperti ku."


"Andaikan kau ada disini."


"Aku sangat merindukan mu Killa. Sangat merindukanmu, tidak bisa kah aku berharap kau kembali? Kita memulai dari awal lagi, bukan sebagai orang yang sama-sama saling membutuhkan dan menikah kontrak. Tapi sebagai dua orang yang ditakdirkan bertemu dan akhirnya menjadi sepasang kekasih yang sejati."


Disaat dia sedang asik melamun dan berbicara pada diri sendiri. Tiba-tiba saja, suara alat pendeteksi jantung. Yang terpasang di tubuh Papah Arsen berbunyi nyaring. Membuatnya tersentak kaget. Ia langsung menghampiri Papah Arsen dengan paniknya.

__ADS_1


"Papah Arsen."


"Papah Arsen, apa yang terjadi."


"Tolong! Siapa pun Tolong!"


Mamah Anna pun masuk ke dalam ruangan. Ia ikut panik dan keluar kembali untuk memanggil bantuan. Dokter dan beberapa perawat pun datang dan langsung memberikan pertolongan pada Papah Arsen.


Marvin memegangi Mamah Anna yang nampak sangat panik. Tangisan Mamah Anna pecah, ia meraung-raung memanggil-manggil Papah Arsen.


"Arsen, bertahanlah. Aku mohon jangan tinggalkan aku secepat ini," ucap Mamah Anna sambil terisak-isak dipelukan Marvin.


"Mah, tenanglah." Marvin mencoba menenangkan Mamah Anna.


"Marvin, katakan jika Papah Arsen mu tidak akan meninggalkan Mamah. Hiks hiks."


Marvin mengangguk dan tersenyum paksa. "Papah Arsen akan baik-baik saja, dia tidak akan meninggalkan kita."


"Arsen, kumohon bertahan lah." Mamah Anna terus menangis ketakutan. Wajah Papah Arsen yang pucat hampir membiru, membuat Dokter dan perawat-perawat itu semakin panik.


Tiiiiiiiiiiiitttttttttt!

__ADS_1


Semua orang terkejut mendengar bunyi tersebut yang sangat panjang dan lama. "Jantungnya sudah tidak bereaksi lagi, pasien sudah tiada," ucap sang dokter.


"Apa? Tidak mungkin, tidak mungkin, Arsen tidak mungkin meninggal. ARSEN TIDAK!"


Mamah Anna berlari menghampiri Papah Arsen. Di guncang-guncangnya tubuh Papah Arsen. Ia memeluk erat tubuh nya yang dingin dan sudah kaku itu. Menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan kami Tuan Marvin, kami sudah mencoba yang terbaik. Namun Tuhan lebih menyayangi Tuan Arsen, kami mengucapkan bela sungkawa. Semoga keluarga diberi kelapangan menghadapi ini," ucap Dokter pada Marvin.


Namun tidak ada jawaban dari Marvin. Dia hanya diam menatap kosong ke arah Mamah Anna yang memeluk jasad Papah Arsen. Sambil menangis.


Bibir Marvin bergetar. Ia berjalan dengan langkah lunglai, mendekati tempat tidur Papah Arsen. Air matanya satu persatu menetes, dia begitu syok.


"Ini tidak mungkin, kenapa kau pergi begitu cepat? Kau bahkan belum melihat aku dan Killa bersatu kembali," lirih nya dengan deraian air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Arsen!" teriak Ayah Kevin yang baru saja datang.


"Papah Arsen," sambut Gavin yang juga baru saja datang.


Ruangan itu menjadi saksi haru tangis mereka semua. Meratapi kepergian salah satu anggota keluarga. Bayangkan betapa sakitnya kehilangan orang yang sangat kita sayangi dan cintai. Apalagi, Marvin yang baru saja membuka hatinya untuk Papah Arsen. Belum sempat ia membahagiakan nya, kini Papah Arsen sudah tiada. Marvin merasa begitu kehilangan. Sangat-sangat kehilangan, dia menyesal baru memaafkan Papah Arsen disaat-saat akhir hayatnya.


...🌹Jangan lupa like dan Vote🎉🎉🙏🏻🌹...

__ADS_1


__ADS_2