Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 86 : Ancaman dari orang asing.


__ADS_3

Pagi itu masih di apartemen Marvin.


Naya, gadis itu duduk melamun disofa depan tv. Dan sudah memakai seragam sekolahnya. Ia mendiamkan saja susu hangat yang ia pegang sedari tadi. Pandangannya kosong menatap lurus ke depan.


"Nona, apa anda sudah siap?"


Sapa seorang pria padanya, yang tak lain adalah Ken. Ia tetap tidak menjawab. Bahkan menoleh pun tidak. Ken pun mengulang menyapanya dengan sentuhan di pundak gadis itu.


"Nona?"


Ia terkejut dan tersentak mendongak menatap Ke. yang berdiri di hadapannya.


Ada apa denganku? Aku begitu resah dan tidak bisa berhenti mengingat kejadian kemarin sore! Bagaimana jadinya jika kak Justin menemukan kakakku? Aku tidak mau itu terjadi, sudah terlalu banyak luka yang dirasakan kak Killa karena nya! Batin Naya.


"Nona, apa yang sedang anda pikirkan?"


Ken bertanya sembari mengibas udara didepan wajah Naya. Membuat ia kembali tersentak.


"Maaf Ken! Aku ti-tidak memikirkan apapun! Hari ini aku merasa tidak enak badan!" Jawabnya dengan kikuk, sembari memijit pelipisnya yang menegang.


"Apa anda sakit Nona? Bagaimana jika aku membawa anda kerumah sakit?" Ucap Ken dengan raut cemas dan meletakkan punggung tangannya di kening Naya.


"Tidak perlu Ken! Aku tidak apa-apa! Hanya butuh istirahat! Kau pergilah aku tidak jadi berangkat ke sekolah hari ini!"


Ia pun segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Ia langsung menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur. Menenggelamkan wajahnya di bantal.


Entah kenapa Naya masih merasakan lemas setelah bertemu dengan Justin. Rasa takutnya tidak bisa menghilang. Bayang-bayang wajah kejam Justin selalu lewat di dalam benaknya.


***


Drrt drrt drrt!


Dengan sigap Killa menghentikan kegiatannya. Ia langsung merogoh ponsel disakunya. Menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu daun telinga.


"Siapa ini?" Tanyanya dengan mengerutkan dahi. Karena panggilan itu dari nomer yang tidak ia kenal.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku!" Sahutan dari seberang sana yang membuat Killa semakin penasaran. Juga suara penelpon yang disamarkan.


"Heh!" Ia terkekeh. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang sepertimu!" ucapnya lagi dengan meremehkan orang yang bicara dengan suara samaran itu. Karena bagi Killa, panggilan asing yang tidak jelas seperti itu. Sangat tidak penting untuk diladeni.


"Jauhi Marvin Louis!"

__ADS_1


Deg!


Ada apa ini. Mengapa tiba-tiba saja orang itu menyebutkan nama Marvin Louis. Ia pun mengurungkan niat untuk memutuskan panggilan itu.


"Kenapa? Kenapa aku harus menuruti perkataan mu!" Cetus nya dengan nada yang membentak. Killa mengedarkan pandangan, mencari-cari siapa tahu ada yang sedang mengerjainya.


"Hahaha!" Orang itu tertawa dengan menyeramkan.


"Karena aku tahu semua mengenaimu! Dan jika kau tak mau menuruti ucapanku, aku akan membongkar semuanya kepada Marvin Louis!" Lanjutnya mengancam.


Orang ini pasti sudah gila! Dia kura aku akan takut dengan ancaman nya! Tidak ada yang perlu ditutupi lagi! Karena Marvin sudah mengetahui semua tentang aku! Batin Killa.


"Silahkan! Aku tidak perduli!"


"Kau yakin Killa Roses!"


"Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku akan menutup panggilan ini! Terserah kau mau melakukan apapun, memberitahu tentang ku kepada Marvin! Aku tidak takut!"


"Bukan tentangmu! Tapi tentang ayahmu!"


"Ada apa dengan ayahku?" Killa kembali penasaran dengan ucapan orang itu. Karena sekarang orang itu telah membawa-bawa almarhum ayahnya.


"Ternyata itu! Kau tahu, itu bukan hal baru untum diketahui oleh seorang Marvin Louis! Jadi silahkan saja!"


"Aku belum selesai bicara Nona Killa! Maksudku adalah siapa orang yang telah ayahmu bunuh! Kau tidak tahu kan!"


"Aku tidak perduli! Ayahku sudah banyak membunuh orang! Dan aku tidak perduli dengan itu semua! Kau ingat itu! Semua ancaman mu itu tidak mempan padaku! Ini hidupku, dan aku yang akan menentukan bagaimana jalannya! Itu hak ku untuk hidup bersama dengan Marvin atau tidak! Jadi berhentilah menyebut-nyebut tentang ayahku! Atau aku akan mencarimu dan merobek mulutmu itu!"


Setelah habis-habisan memaki dan membentak dengan ancaman sadis. Ia pun memutuskan panggilan sepihak. Ponselnya ia letakkan di atas meja dengan sedikit hampasan. Karena merasa begitu kesal dan geram.


Killa menyandarkan tubuh dikursi kerjanya. Menerawang jauh ke masa lalu. Beberapa bulan sebelum hari dimana seluruh keluarganya dibantai.


Saat itu Killa kecil tak sengaja mendengar percakapan ayahnya dengan seorang pria. Yang usianya mungkin terpaut sepuluh tahun dengan sang ayah. Sebut saja dia seorang paman.


Paman itu menemui ayahnya diruang kerja bersama dengan dua pria lainnya. Wajahnya tampan dan postur tubuhnya sangat atletik. Akan tetapi paman itu terlihat dalam keadaan yang marah. Paman itu memohon kepada ayahnya untuk membantunya menghabisi seseorang yang ia benci.


Waktu itu ayah Killa menolak mentah-mentah permintaan paman itu. Killa kecil masih mengingat jelas alasan nya mengapa sang ayah menolak. Itu semua karena, target yang disebutkan oleh paman itu. Adalah orang yang juga ia kenal atau kerabat dekat.


"Hei!"


Sapa seseorang sambil mengetuk meja kerja nya. Membuat ia tersentak kaget. Dan membuyarkan lamunan masa lalu yang sedang ia ingat kembali itu. Killa mendongak menatap orang yang menyapa dan mengagetkan nya. Matanya menatap dengan menyipit.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya nya pada orang itu. Yang tak lain adalah Marvin.


"Bagaimana jika ada yang curiga, kau ada disini? Apalagi mendatangiku! Aku tidak mau jika ada gosip yang tidak jelas mengenai diriku!" Lanjutnya sembari mengedarkan pandangan menatap sekeliling.


"Karena aku bisa saja tidak tahan ingin merobek mulut semua orang yang sedang membicarakan ku!" Ancaman sadis kembali keluar dari mulut Killa.


"Apakah aku ini tidak jelas bagimu? Bagaimana bisa kau menyebutkan tentang suami mu sendiri tidak jelas?" ucap Marvin kesal.


"Suami?" Ia tidak mengerti.


"Bahkan sekarang kau tak mau mengakui aku ini suamimu?" ucap Marvin dengan wajah datarnya dan tangan yang melipat di depan dadanya.


Cih!


Bukankah dia yang bilang sendiri, jika tidak ingin ada yang tahu tentang pernikahan ini? Dasar pria dingin yang tidak jelas! Batin Killa menggerutu.


"Hmm! Jadi ada apa anda datang kemari Tuan?"


"Bersiaplah, sekarang juga kita akan berangkat ke Beijing!"


"Sekarang?"


"Iya! Cepatlah! Apa ini milikmu?"


Marvin meraih sebuah pulpen yang tergeletak diatas meja kerja Killa. Lalu memegang nya tepat diujung pulpen itu seolah jijik.


"Berikan padaku! Jangan suka menyentuh barang orang lain dengan seenaknya Tuan!"


Ia merampas pulpen itu lalu menyimpan nya ke dalam laci meja. Menggigit bibir bawah karena gemas dan kesal. "Kau awas yah!" ancamnya dengan tatapan pada Marvin.


"Jorok sekali!" pekik Marvin.


"Sebenarnya kau itu bekerja atau melamun? Menggigit ujung pulpen hingga seperti itu? Menjijikan sekali!" lanjutnya dengan kata-kata ketus.


"Bukan urusanmu Tuan! Pergilah duluan, aku akan menyusulmu!" ucapnya mengusir pria dingin tak berperasaan itu.


Memangnya kenapa jika aku seperti itu? Dia selalu saja mengucapkan kata-kata yang membuatku kesal setengah mati! Batin Killa menggerutu. Menatap nanar kepergian Marvin yang berjalan menuju lift khusus CEO.


...🌹Bersambung🌹...


...Note : Jangan lupa untuk follow akun author ☺️🙏🏻. ...

__ADS_1


__ADS_2