
"Kau sudah selesai?" tanya Killa.
"Hmm," jawabnya mengangguk sembari berjalan ke arah sofa.
Mata Killa membulat seakan tak percaya. "Buat apa itu?" Killa menunjuk bantal dan selimut yang tersusun di atas sofa.
"Untuk apa lagi, jelas untuk aku tidur," jawab Marvin dingin.
Killa tersenyum pias lalu berjalan mendekati Marvin. "Ada apa dengan mu? Apa kau yakin seperti ini? Kau bahkan tidak mau tidur dengan ku di satu kamar."
"Aku tidak punya pilihan, maaf." Marvin berusaha menyibukkan diri. Dia gugup dan bingung harus berbuat apa. Terlebih ketika Killa berada sangat dekat dengan nya.
"Tidak punya pilihan? Apa maksdmu? Lihat aku Marvin." Killa meraih kedua pundak Marvin. Mengarahkan wajah dan tubuh Marvin ke arah nya. Mata mereka saling menatap lagi, namun kembali diputus oleh Marvin.
"Lepaskan aku Killa, aku sangat lelah hari ini. Kita bahas besok saja. Aku mohon," ucapnya dengan nada pelan, ia juga tak mau menyakiti hati Killa lagi. Dengan perkataan kasarnya.
"Apa lagi yang perlu dibahas Vin? Menurutku tidak ada, kau sudah sangat keterlaluan bagiku." Killa mendorong dada Marvin dengan sedikit kuat. Lalu ia berjalan dengan hentakan kasar ke arah pintu. Langkah nya terhenti, ketika Marvin memanggilnya.
"Killa."
Ia menoleh ke arah Marvin.
"Terima kasih," ucap nya Marvin.
"Heh," Killa tersenyum pias. "Untuk apa? Kau sendiri yang bilang, belum saat nya untuk mengucapkan kata terima kasih."
"Maaf, tolong kamu bisa mengerti diriku kali ini," ucap Marvin lagi.
"Aku selalu mengerti dirimu Marvin, tapi kali ini ... aku seperti sudah tidak mengenal dirimu lagi." Killa keluar dari pintu dan membiarkan pintu tertutup dengan hempasan kuat.
Deg!
'Aku sudah seperti tidak mengenal dirimu lagi'. Kata-kata itu berhasil menghunus di jantung Marvin. Betapa sakitnya mendengar perkataan itu dari mulut Killa. Marvin sadar jika dia sudah sangat menyakiti hati Killa. Namun mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa membohongi hati dan perasaannya sendiri. Kecewa dia sangat kecewa dengan kenyataan bahwa ayah Killa juga terlibat dengan kecelakaan yang menewaskan ibunya.
__ADS_1
***
Diluar ruangan. Killa berjalan melewati ruang makan.
"Kak, kau tak jadi makan?" tanya Naya, yang mengerti dengan perubahan air di wajah Killa.
Killa menoleh dan tersenyum. "Aku sudah kenyang Nay, kau makan lah. Aku juga sudah lelah mau istirahat."
Naya mendengus kesal menatap pintu ruang kerja Marvin. Jahat, sungguh jahat Marvin di pikiran Naya. Semua ini bukan salah Killa. Bukan juga salah Naya maupun Marvin. Mereka semua adalah korban, korban dari kesalahan masa lalu yang dibuat oleh orang tua mereka masing-masing.
Baru masuk dan menutup kembali pintu. Killa hampir terjatuh ke lantai, karena kepalanya yang pusing. Pandangan nya kabur perlahan ia berjalan ke arah tempat tidur. Di rebahkan tubuhnya yang lemas itu. Killa menatap sendu langit-langit kamarnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berharap ini adalah mimpi. Mimpi buruk yang jika ia terbangun mimpi buruk itu sudah lenyap. Namun ini semua nyata, bukan hanya mimpi buruk.
Pandangan Killa semakin kabur. Entah kenapa tidak lama kemudian dia terlelap seperti orang tidak sadarkan diri. Apa yang terjadi dengan nya, Killa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Yang dia rasakan sekarang adalah lelah yang sangat-sangat. Hingga tubuhnya tidak bereaksi meskipun dia hendak membuka mata dan bangun. Namun tidak bisa.
***
Marvin membolak-balik kan tubuhnya ke kanan dan kiri beberapa kali. Tapi tetap saja matanya tak kunjung merasa mengantuk. Ia pun beranjak duduk, mengusap wajah dan menyibak rambutnya ke belakang.
Marvin pun beranjak dan keluar dari ruang kerja. Ia berniat untuk mengambil air ke dapur. Inilah balasan untuk dirinya karena sudah menyakiti hati Killa. Dengan perkataan nya yang sangat kasar dan sikap yang dingin. Hatinya tidak bisa tenang, jika tidak melihat wajah Killa.
Huft!
Marvin menghela nafas ketika selesai meneguk habis air dingin di dalam gelasnya. Namun saat hendak kembali ke ruang kerja, langkahnya terhenti. Melihat Naya yang berdiri tepat di depan pintu ruang kerjanya.
"Apa yang kau lakukan? Ini sudah malam, sebaiknya kau istirahat." Marvin hendak melewati Naya. Akan tetapi lagi-lagi gadis itu bergeser, menghalangi langkah Marvin.
"Huft, kau mau apa?" dengus nya kesal.
"Kau akan menyesal kakak ipar," ucap Naya.
Marvin sedikit tersentak mendengar perkataan Naya. Ia pun menatap tajam mata gadis itu. "Apa maksdmu?"
"Kau tahu, jika memang benar ayahku ikut terlibat atas kematian ibumu. Itu bukan lah salah kami, kau pasti berpikiran sama kan. Tapi kenapa kau memperlakukan kakak ku seperti itu? Apa hatimu se-tega itu melihat kakak ku menangis?" jawab Naya emosional. Mengingat betapa mirisnya keadaan sang kakak seharian ini.
__ADS_1
Marvin menelan salivanya dan memijit tengkuk lehernya. "Kau tidak akan mengerti, sebaiknya minggir."
"Aku tidak bodoh kakak ipar, aku sudah besar. Aku mengerti mana yang salah dan benar. Dan sekarang aku tahu pasti jika sikap mu sekarang padaku tidak lah benar. Kakak ku tidak salah, jangan sampai kau menyesali perbuatan mu ini kelak."
Naya menarik nafas dalam-dalam. Menahan air matanya yang hampir keluar. Lega rasanya karena sudah mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hatinya.
"Terserah kau saja mau bilang apa, jika kau tidak mau minggir. Silahkan! Aku bisa lewat pintu lain." Marvin pun berlalu meninggalkan Naya.
"Kau pasti akan menyesal kakak ipar," teriak Naya sembari menatap kepergian Marvin.
Di depan pintu kamar. Marvin berdiri dengan tangan yang memegang gagang pintu. Seperti tidak punya keberanian untuk membuka pintu itu dan bertemu Killa di dalam sana. Namun mau bagaimana lagi, ruang kerja nya juga terhubung dengan kamar.
Perlahan ia putar gagang pintu dan mendorongnya. Lampu masih menyala, tumben sekali pikirnya. Karena tidak biasa Killa tidur dengan lampu yang seterang itu. Pandangan Marvin mengedar dan mendapati sosok Killa yang terbaring di atas tempat tidur.
"Killa?" panggil nya pelan.
"Killa, apa kau belum tidur?" panggilnya kembali, dan sekarang ia yakin jika Killa telah tidur.
Marvin pun berjalan mendekati tempat tidur. Dilihatnya Killa yang posisi tidurnya agak sedikit aneh. Dia tertidur dengan posisi terlentang dan kaki yang masih menjuntai. Marvin mendekat dan mengangkat perlahan tubuh Killa. Merebahkan nya dengan benar. Membukakan sepatunya dan menyelimutinya.
"Kenapa wajahmu sangat pucat? Apa kau sakit? Maafkan aku Killa," ucapnya pelan. Sembari tangan nya mengelus lembut pipi Killa.
"Kau tahu, aku sangat mencintaimu Killa. Aku tidak bisa membayangkan hidupku nanti tanpa mu. Tapi kenapa takdir membuat kita menjadi seperti ini? Aku sungguh tidak bisa terus menerus tidak menghiraukan mu. Hatiku terasa sakit sendiri karena telah menyakiti hatimu. Sekali lagi maafkan aku Killa."
Marvin memberikan kecupan hangat dan penuh kasih sayang dikening Killa. Membuat Killa yang tengah terlelap menggeliat. Marvin terkejut dan langsung berlari pergi dan masuk ke dalam ruang kerja nya.
Sedangkan Killa, matanya terbuka. Ia beranjak duduk di atas tempat tidur. Di pegangnya keningnya yang terasa hangat, dia bisa merasakan jika Marvin mengecup kening nya tadi. Namun dia lihat tidak ada siapa-siapa, mustahil pikirnya. Mungkin saja dia hanya bermimpi.
Killa menoleh ke arah pintu ruang kerja Marvin. Ia pun segera beranjak dan berjalan ke arah pintu itu. "Kepalaku sakit sekali, untung saja aku bisa terbangun. Aku rasa tadi aku sama sekali tidak sadarkan diri. Ada apa dengan ku akhir-akhir ini."
Cklek!
Ia membuka pintu tersebut dan melihat ke dalam nya. Senyuman terukir di wajah Killa, melihat Marvin yang tengah terlelap. Ia pun menutup pintu itu dan kembali ketempat tidur. Melanjutkan istirahatnya.
__ADS_1