
Ayah Kevin berjalan menghampiri Killa yang mungkin sudah keringat dingin. Karena kedapatan masuk kedalam ruangan itu tanpa izin. Marvin mungkin juga akan marah padanya. Tapi mau bagaimana lagi, rasa penasaran membuatnya nekat masuk kedalamnya.
"Tidak apa-apa! Aku tidak marah! Ruangan ini terbuka untuk semua orang, tidak ada peraturan tidak boleh masuk kedalam sini! Kau tak perlu gugup seperti itu!" Ucap ayah Kevin tersenyum menyentuh pundak kanan Killa. Ia pun berjalan melewati Killa menuju salah satu bingkai foto yang tergantung dinding itu. Disana terdapat bingkai besar berukuran dua kali tiga meter.
"Dia adalah Mia, istriku sekaligus ibunya Marvin! Mungkin kau belum mengetahui kebenaran ini! Karena Marvin belum siap untuk memberitahumu!" Ucap Ayah Kevin sembari mengusap lembut bingkai tersebut. Disana terdapat gambar sosok sang istri yang tengah tersenyum memakai gaun pengantin. Tanpa sadar air mata Ayah Kevin menetes. Dia tak bisa menahan nya lagi. Kepedihan dari rindu yang dia rasakan selama ini akhirnya tumpah menjadi bulir-bulir air mata.
Killa yang melihat ayah mertuanya itu sedih dan menangis. Tanpa sadar juga meneteskan air mata haru. Perasaan bersalah menghampirinya. Karena sudah membuat luka lama terbuka kembali. Secara tidak sengaja Killa telah membuat ayah dan anak itu bersedih. Dia menyiapkan empat porsi sarapan tanpa tahu hal yang sebenarnya.
"Maafkan aku ayah mertua! Aku tidak tahu jika---" Ucapan Killa terhenti. Ketika tiba-tiba saja terdengar suara teriakan Marvin memanggil namanya.
"Killa?"
Killa menatap kearah ayah mertuanya. Sang ayah mertua mengangguk dan tersenyum. "Pergilah, jika tidak dia akan marah karena sudah menunggu lama!" Ucapnya kemudian.
Killa pun segera berlari keluar dari ruangan penuh dengan kenangan itu. Semua kenangan indah ayah mertuanya dengan istrinya. Diabadikan menjadi foto-foto dan menempelnya diruangan itu.
__ADS_1
***
Diluar rumah.
Killa menghampiri Marvin yang tengah duduk manis dikursi belakang mobil. Dengan raut wajah yang ditekuk, karena menunggu Killa yang sedari tadi tak kunjung keluar.
"Kau darimana saja? Kau tahu aku sudah menunggu sedari tadi!"
Marvin mendengus kesal dan menatap tajam Killa. Killa pun segera masuk kedalam mobil dan duduk disebelah pria dingin itu.
"Aku tidak apa-apa!" Killa mengusap kembali air mata yang tersisa itu. "Ayo pergi! Kau bilang sudah menunggu lama!" ucapnya kembali.
"Hmm! Kau benar! Pak, tolong antar kami kerumah mamah Anna!" Ucap Marvin pada supir yang duduk dikursi kemudi mobil itu.
"Siap Tuan Muda!" Sahut supir itu dengan sigap dan tanggap. Ia langsung menyalakan mobil dan segera menancap gas keluar dari pekarangan rumah utama.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Killa hanya diam tak seperti biasanya. Dia juga menatap terus keluar dari jendela. Dia merasa tidak enak pada Marvin karena sudah membuat pria itu sedih.
"Kau sangat aneh! Sebenarnya ada apa katakan padaku?" Ucap Marvin merasa ada yang aneh dengan sikap Killa.
Killa tak menjawab dia melamunkan sesuatu menatap keluar jendela. Ibunya telah tiada! Tapi dia tidak memberitahuku, sedangkan mengenai diriku! Dia sudah tahu semuanya! Ini sangat tidak adil! Batin Killa.
"Hei! Killa Roses! Ada apa sebenarnya denganmu! Jangan membuatku kesal! Karena aku lagi dalam keadaan yang tidak ingin bercanda!" Ucap Marvin lagi dengan menarik tangan Killa membuat gadis itu menoleh kearahnya.
Tatapan mata keduanya bertemu. Marvin menatap tajam kearah Killa. Tapi seketika dia terkejut ketika melihat manik mata gadis itu menjadi sendu dan berair.
"Kau kenapa? Jangan membuatku marah Killa! Katakan sebenarnya ada apa denganmu!" Marvin memegangi kedua pundak Killa, dan mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu.
"Maafkan aku!" Lirih Killa dengan air mata yang menetes. Marvin semakin gusar dibuatnya.
...🌹Jangan lupa like dan rate bintang lima yah readers 🌹...
__ADS_1