
Killa kembali masuk kedalam mobil setelah selesai melakukan hal yang dia tahan sedari tadi. Raut wajahnya kini sudah cerah dan tenang.
Huft!
Ia menghela nafas sembari menyandarkan tubuhnya. Killa melirik Marvin yang sedang menatap dirinya dengan raut wajah datar sedari tadi.
"Apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Killa dengan sedikit ketus.
Pria itu terlihat menghela nafasnya panjang. Lalu beralih menatap lurus kedepan. "Tidak apa-apa!" jawabnya singkat.
Sepertinya aku memang sudah benar-benar tidak waras! gumam Marvin didalam hatinya. Tak habis pikir dengan sosok Killa.
"Tak usah bohong, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu kan didalam hati? Apa kau sedang menghardik ku Marvin Louis?" tanya Killa dengan tatapan tajam.
"Sekarang aku tanya! Untuk apa aku menghardikmu? Nona Killa yang bukan hanya bodoh dan nakal tapi juga sangat jorok!" ucap Marvin yang lagi-lagi menghela nafas.
"Apa kau bilang? Jorok?" Killa memekik dengan sangat kesal. Mendengar perkataan Marvin yang mengatai dirinya jorok. Memang nya salah nya apa coba?
"Ooh aku tahu! Apakah karena aku tadi pergi ke toilet! Hingga kau mengataiku seperti itu?" Killa menatap Marvin dengan skeptis.
Marvin diam tak menjawab karena tidak ingin berdebat.
"Jawab aku! Bukan kah kau orang yang pintar! Seharusnya kau tahu! Menahan PUP hanya akan membuat kita menjadi semakin sakit!" ucap Killa membela diri.
"Iya-iya terserah kau saja Nona Killa!" Marvin tersenyum sekilas lalu kembali datar. Sembari memberikan sebotol air mineral yang ia belikan tadi untuk Killa.
Killa mendengus kesal sambil meraih botol tersebut. Lalu meneguk habis isinya. "Aahh! Leganya!" menghela nafas lega.
"Berikan aku tisu itu!" Killa menunjuk tisu yang berada disisi sebelah kiri Marvin. Pria itupun dengan sigap memberikan nya pada Killa.
Tangan keduanya bersentuhan. Tidak sengaja Killa merasakan tubuh Marvin panas. "Kau demam?" tanyanya menatap dengan heran.
__ADS_1
"Tidak!" jawabnya singkat.
"Iya! Kau sedang demam Vin!" Killa meraih tangan kanan Marvin dan menggenggamnya erat. Merasakan suhu tubuh pria itu.
Deg deg deg!
Marvin merasakan hal yang berbeda. Dia malah merasa dadanya berdebar-debar karena Killa yang tiba-tiba menggenggam erat tangannya.
Killa menaruh punggung tangannya dikening Marvin yang berkeringat. Lalu menyentuh kedua pipi Marvin dengan kedua tangan nya.
"Apa yang terjadi? Apa kau merasakan sesuatu? Wajahmu memucat Vin!" Killa panik, dia masih memegangi kedua pipi Marvin.
Marvin sendiri hanya diam menatap wajah Killa yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Marvin tidak memperdulikan perkataan yang keluar dari mulut Killa. Dia hanya sibuk menatap lekat manik indah Killa dan bibir sensual gadis itu.
Meskipun kepalanya terasa sedikit pusing dan pandangan nya berkunang. Dalam sekejap bibir Marvin dan Killa menyatu. Marvin mencium Killa secara tiba-tiba. Membuat gadis itu terpaku tak bergeming sedikitpun.
Namun, beberapa saat kemudian. Killa merasa ada yang aneh. Kenapa Marvin hanya diam saja sambil menutup matanya. Bahkan sekarang tubuhnya terasa menindih tubuh Killa.
"Marvin! Marvin sadar! Kau kenapa pria dingin?"
Marvin sadarlah! Jangan bercanda!"
"Aku jadi panik! Marvin! Pria dingin sadarlah!"
Berkali-kali Killa menepuk-nepuk punggung belakang Marvin dan mengguncang tubuhnya. Mencoba untuk membuatnya sadar. Tapi sia-sia saja. Tidak ada tanda-tanda dari Marvin. Pria itu pingsan tidak sadarkan diri. Suhu tubuhnya sangat panas.
Killa panik dan kebingungan. "Bagaimana ini?"
Killa pun teringat pada Ken. Segera ia menghubungi asisten pribadi Marvin itu. Dan meminta nya untuk segera datang ke alamat yang ia beritahukan.
Sambil menunggu Ken datang. Killa menurunkan sandaran kursi Marvin sedikit. Lalu merebahkan tubuh pria itu. "Sebenarnya kau kenapa?"
__ADS_1
Ditatapnya wajah Marvin yang pucat itu. Killa meraih tangan Marvin dan menggenggamnya erat. Tangan yang satunya meraih pipi Marvin. Killa mengelus-elus lembut pipi pria itu.
"Ken bilang jangan membawamu kerumah sakit! Karena kau tidak suka yang namanya rumah sakit! Ternyata kita sama! Aku juga tidak menyukai rumah sakit!" ucap Killa berbicara sendiri sambil terus menatap wajah Marvin.
"Sebenarnya kau kenapa pria dingin? Aku sangat mencemaskanmu? Tapi jangan senang hati dulu, aku mencemaskan mu bukan berarti aku sudah berhenti marah! Aku masih marah padamu, sangat marah! Aku belum melupakan perkataanmu tadi siang!"
"Tapi---" Killa terhenti sejenak.
"Jika kau bangun sekarang dan berkata jika kau baik-baik saja, aku akan mencoba melupakan kejadian itu! Yang terpenting kau bangun dan sadarlah!"
Seketika Marvin mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia menatap Killa dengan tatapan sayu. Marvin tersenyum dengan lemah.
"Aku tidak apa-apa bodoh! Apa kau sudah menghubungi Ken?" ucap Marvin dengan suara bergetar. Terdengar sangat lemah.
"Aku sudah menghubungi Ken! Sebenarnya kau kenapa? Jangan membuatku cemas dan panik Marvin!" ucap Killa.
"Baguslah! Aku tidak apa-apa! Hanya perlu istirahat sebentar saja! Maaf sudah membuatmu cemas dan panik! Aku tidak apa-apa!" Marvin mengelus lembut wajah Killa.
"Jangan bohong!"
"Aku tidak bohong! Kemarilah!" Marvin menarik tubuh Killa kedekatnya.
"Aku dingin! Bisakah kau memelukku sebelum Ken datang!" Marvin memeluk erat tubuh Killa.
Killa mengangguk menuruti perintah pria itu. Dia berbaring menyusupkan tubuh rampingnya menempel ditubuh Marvin. "Apa sekarang terasa lebih hangat?" tanya Killa.
"Hmm!" Marvin hanya menjawab dengan deheman sambil menutup matanya.
Mereka berbaring dengan berpelukan sembari menunggu kedatangan Ken. Marvin merasa rasa dingin yang ia rasakan. Menghilang sedikit demi sedikit. Pelukan hangat Killa membuat nya merasa nyaman.
...🌹Jangan lupa like dan vote yah🙏🏻🙏🏻🌹...
__ADS_1