
Diperjalanan, Killa tak berhenti mengatupkan kedua tangannya didada. Khawatir akan Marvin yang tidak mau menerima penjelasan darinya.
"Ponselku? Astaga, karena begitu panik aku sampai melupakan ponselku sendiri!"
Killa menghela nafas panjang. Kondisinya yang masih sangat lemah. Membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Terlebih rasa takutnya akan terjadinya salah paham antara dia dan juga Marvin. Membuat semakin frustasi.
Sekitar lima belas menit. Sampailah mereka di lobby sebuah hotel mewah bintang lima. Baru saja mobil berhenti, Killa langsung keluar dari mobil dan memasuki hotel tersebut. Namun langkah gadis itu terhenti ketika berpapasan dengan seorang pria. Pria dingin yang sedari tadi sedang dipikirkannya sepanjang perjalanan.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak beristirahat dirumah?" Tanyanya dengan tatapan tajam.
Killa bernafas dengan tersengal-sengal karena berlari. "Marvin! Kau? Apa kau menungguku disini?"
"Tentu saja!" Raut wajahnya sangat dingin. "Aku berlari turun ke lobby, setelah menerima panggilan dari pelayan rumah!" Sambungnya sembari melangkah mendekati Killa.
"A-aku! A-aku mau bicara sesuatu padamu?" Killa tergagap.
"Apa itu Nona Killa?"
"Hmm, mengenai--, apakah kita bisa berbicara ditempat lain!" Killa mengedarkan pandangan. Nampak semua orang sedang menatap kearah mereka berdua.
"Kenapa? Apakah sangat penting?"
Killa mengangguk.
"Oh, apakah mengenai mantan pacarmu itu sangat penting untukmu?"
__ADS_1
Killa tersentak kaget.
"Bukan, bukan seperti itu maksudku Vin! Tolong kamu dengarkan penjelasan ku terlebih dulu!"
"Kau ikut aku! Kita bicara didalam ruang kerjaku!"
Marvin pun berjalan menuju lift khusus CEO dengan diikuti Killa dibelakangnya.
Didalam Lift keduanya masih tenggelam di dalam keheningan. Apalagi Marvin yang hanya diam memasang wajah datar dan menatap lurus ke depan.
Sesampainya diruang kerja Marvin. Gadis itu masih berdiri diambang pintu. Masih enggan untuk membuka suara. Sedangkan Marvin sudah duduk dengan santai disofa. Marvin menatap kearah Killa.
"Duduklah disini!" Panggilnya seraya menepuk sofa disampingnya. Killa mengangguk dan menuruti perintah Marvin. Ia duduk tepat disebelah pria dingin itu duduk.
"Vin! Kau jangan salah paham! Sebenarnya aku baru tahu juga jika ternyata klien penting mu itu adalah Justin!"
"Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Sudah beberapa kali aku hendak memberitahumu! Tapi kau selalu menundanya!"
"Jadi itu adalah salahku?"
"Kau sadar, itu memang adalah salahmu Vin!"
"Hmm, baiklah! Tidak masalah jika itu adalah salahku! Tapi kau harus jelaskan padaku, bagaimana bisa kau pergi dari rumah? Dan menyusulku disini?"
__ADS_1
Seketika mata Killa menyipit. Dia tidak mengerti dengan perkataan Marvin. Apa pria dingin itu tidak mempermasalahkan mengenai Justin? Kenapa dia bicara seolah-olah tidak perduli. Dan malah berbicara mengenai kepergian Killa dari rumah dan menyusulnya ketempat itu? Killa bertanya-tanya.
"Kau, kau tidak marah padaku? Mengenai Justin?" Tanya Killa yang sedari tadi bingung.
Ctakk!
Dahi Killa terasa berdenyut, Ketika Marvin tiba-tiba menyentikan jarinya dengan kuat di dahi gadis itu. Killa pun meringis kesakitan sambil memegangi dahinya yang memerah.
"Sakit!"
"Kau pantas mendapatkannya! Karena sudah menjadi gadis bodoh! Kau kira aku punya pikiran yang begitu sempit?" Alisnya menjungkit sebelah menatap Killa skeptis.
"Untuk apa aku marah karena masalah sepele itu! Apa aku terlihat seperti pria pemarah yang hanya karena masalah kecil harus marah?" Lanjutnya tersenyum miring dan melipat tangan didada.
"Tapi kau memang seperti itu!" Ucap Killa.
"Oh, jadi aku ini pria pemarah? Kalau begitu kau harus dihukum karena sudah berani keluar dari rumah tanpa memberitahuku!" Ucap Marvin menantang dengan mendekatkan wajahnya diwajah Killa.
Killa tersentak dan sontak memundurkan tubuhnya hingga punggung belakangnya menyentuh pinggiran sofa. Killa menggeliat mencoba melepaskan diri. Namun tak bisa, karena pria dingin itu sudah mengunci pergerakan tubuhnya. Dengan tangan yang melingkar di pinggul rampingnya.
"Kau mau apa? Ini dikantor Vin!" Killa menjadi gugup.
"Aku tidak perduli!" Marvin tersenyum tipis.
Dalam sekejap bibir nya sudah ******* bibir Killa. Dengan perlahan dan lembut. Killa sempat tak bisa bernafas. Tapi Marvin memberikannya waktu untuk bernafas sebentar. Lalu kembali melahap habis bibir sensual gadis itu. Killa mulai terbuai dengan permainan lembut Marvin. Kini tangannya sudah melingkar dileher pria dingin itu. Membuat Marvin semakin percaya diri. Dia menarik tubuh Killa semakin menempel dengan tubuhnya.
__ADS_1