
Sore harinya. Tepat pukul empat sore. Justin bergegas pulang dari kantor. Setelah sampai dirumah ia langsung menemui Killa di kamarnya.
Tok tok tok!
Justin mengetuk pintu kamar Killa.
"Masuk," teriak Killa dari dalam ruangan.
Justin pun membuka pintu perlahan dan masuk. Ia tersenyum kepada Killa yang tengah berdiri di balkon kamarnya. Ia pun menghampiri.
"Sedang apa?" tanya nya.
"Tidak sedang apa-apa, aku hanya mencari ketenangan, dan di balkon ini aku merasa begitu nyaman," jawab Killa tersenyum lalu membuang muka.
"Oh begitu!"
Killa mengerinyit kan keningnya dan menoleh menatap Justin dengan heran. "Kenapa cara bicara mu seperti itu?"
"Aku biasa saja! Jadi, apakah kau sudah mendapat ketenangan itu?"
__ADS_1
"Hmm," jawabnya mengangguk. "Aku sudah merasa tenang sekarang."
"Hahaha!" Seketika Justin tertawa lalu diam menatap Killa dengan raut dingin nya. Membuat Killa merasa jika Justin tidak bisa dibohongi.
"Kenapa kau berusaha tegar dan kuat? Jika sebenarnya kau begitu lemah dan tidak berdaya? Kau tak bisa bohong padaku, aku bukan anak kecil, semua orang pasti tahu jika kau habis menangis!"
"Lingkaran hitam, mata bengkak, dan sisa air mata yang masih tertinggal." Justin mengusapkan air mata Killa yang tersisa beberapa tetes di wajahnya.
"Aku tidak menangis," ucap Killa seraya memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan langsung mata Justin.
"Aku punya sebuah rahasia," ucap Justin sembari ikut bersandar di pagar balkon. Killa menoleh padanya. "Apakah kau mau mendengarnya?"
"Tentang apa?" tanya Killa.
"Tidak, aku tidak mau mendengar nya!" tolak Killa ketus.
"Kau yakin? Aku rasa kau akan menyesal jika tidak mendengarnya," ucap Justin.
Killa menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan. Dimulut dia bilang tidak mau mendengar, padahal di dalam hatinya dia begitu penasaran. Sampai-sampai dadanya berdebar sangat kencang, saking ingin mendengarnya.
__ADS_1
"Cih, dasar keras kepala!"
Justin bisa tahu hanya dengan melihat raut wajah Killa yang tidak karuan. Jika gadis itu sangat ingin mendengar tentang rahasia yang ia katakan.
"Baiklah, aku akan menceritakan nya. Meskipun kau tidak ingin mendengarnya!" Justin tersenyum ke arah Killa. Sedangkan Killa malah membuang muka nya kembali.
"Terserah kau saja!" ucap Killa ketus.
"Ok, jadi aku harus mulai dari mana yah! Baiklah, kau tahu jika pria ini sangat mencintai istrinya, dia mau mengakui kesalahan nya dan meminta maaf pada istrinya itu! Namun ternyata permintaan maaf nya diterima, tapi dia tidak diberi kesempatan!" tutur Justin.
"Bukan kah itu wajar? Jika sang istri sangat susah untuk percaya kembali, mungkin saja dia punya niat lain? Lagi pula, waktu istrinya itu pergi? Kenapa dia tidak mencarinya di minggu-minggu pertama? Pasti dia tidak berusaha kan?"
"Eits, tunggu dulu! Kenapa jadi kau yang emosional? Bukan kah ini ceritaku?" Justin tersenyum dia berpikir rencana nya mulai berhasil. Killa mulai terbawa suasana.
"Maaf," lirih Killa.
"Aku belum selesai kau sudah memotong perkataan ku."
"Iya aku bilang maaf."
__ADS_1
Justin kembali tersenyum melihat tingkah Killa yang kekanakan. Sepertinya hormon kehamilan sudah mulai membuatnya berubah.
"Ada alasan kenapa pria itu tidak bisa mencari istrinya ketika di awal-awal, kenapa dia tidak bisa menemukan nya, karena saat itu dia ---" kata-katanya menggantung.