Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 113 : "Ternyata Dia!"


__ADS_3

Cahaya matahari menyeruak masuk dan menerangi kamar VVIP 001 tempat Killa berada. Ia pun mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengumpulkan nyawanya setelah tidur nyenyak semalaman.


Killa menatap Marvin yang masih tertidur, dengan posisi meringkuk kearahnya. Pria itu seperti orang yang sedang kedinginan. Bibir Killa melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Kasihan sekali, dia pasti kedinginan!" Killa tertawa pelan. Lalu ia pun menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya juga Marvin.


"Kau memiliki senyum yang indah Vin, sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu pria dingin."


Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh keseluruhan bibir pria yang masih terlelap itu. Killa terkejut ketika dirinya hendak beranjak dari atas tempat tidur. Dengan cepat Marvin melingkarkan tangan di pinggul rampingnya. Membuat Killa tersentak kembali keatas tempat tidur.


"Kau mau kemana?"


"Aku mau ke kamar mandi! Apa aku membangunkan mu?"


"Tidak! Aku sudah bangun sedari tadi! Sebelum kau membuka mata!"


Mata Killa melebar. "Jadi kau sudah bangun sejak tadi?" Kini wajah gadis itu memerah.


"Hmm!"


Marvin mengangguk dan tersenyum. "Aku juga mendengar apa yang kau bilang barusan!"


"Kau salah dengar, aku tidak mengatakan apapun!" Jawabnya gugup dan salah tingkah.


"Aku tidak mungkin salah dengar! Dasar gadis bodoh, pergilah ke kamar mandi! Aku akan membiarkanmu pagi ini, kita lanjutkan pembicaraan ini setelah sampai dirumah!" Ucap Marvin tersenyum meledek. Lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan Killa pergi ke kamar mandi.


Gadis itu pun berlari masuk kedalam kamar mandi dengan wajah yang merah. Kali ini dia sudah ketahuan. Killa bingung harus menghadapi Marvin seperti apa. Jika pria itu bertanya nantinya. Dia harus jawab apa. Akhh, sangat menyebalkan! Pagi-pagi dia sudah membuatku seperti ini!


Sepeninggal Killa. Marvin meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas samping tempat tidur. Lalu menghubungi supir yang mengantar mereka kemarin. Memintanya untuk bersiap, karena dirinya dan Killa akan pulang sebentar lagi. Setelah semuanya beres, Killa sudah diperiksa kembali, dan dokter memberikannya resep obat untuk diminum. Keduanya pun segera pulang.


***


Sesampainya dirumah utama.


Marvin menggandeng Killa masuk kedalam rumah. Disana mereka langsung disambut oleh Ayah Kevin. Pria paruh baya itu nampak begitu cemas.


"Bagaimana keadaanmu Killa?" Tanya Ayah Kevin kepada Killa.


"Sudah lumayan Ayah, Killa tidak merasakan sakit lagi!" Jawab Killa tersenyum. Agar ayah mertuanya itu tidak terlalu cemas.


"Cih! Padahal sedari tadi dia mengeluh sakit sepanjang jalan!" Desis Marvin pelan. Sontak tangan nya langsung dicubit oleh Killa.


"Kau ini!" Pekik Killa kesal.


"Yasudah, kalau begitu sebaiknya kau istirahat! Ayah akan meminta pelayan untuk membawakan kalian berdua makanan kedalam kamar." Ucap Ayah Kevin dengan sangat perhatian.

__ADS_1


Killa mengangguk kan kepalanya dan tersenyum. "Terima kasih Ayah!"


Dengan segera Marvin pun kembali menggandeng Killa perlahan menaiki satu persatu anak tangga. Menuju kamar tidur mereka. Sesampainya dikamar, Killa langsung direbahkan oleh Marvin diatas tempat tidur.


"Istirahatlah disini!" Marvin mengecup kening Killa lalu hendak pergi. Namun tangannya ditarik oleh Killa.


"Kau mau kemana?"


"Kenapa? Apa kau tidak rela membiarkanku pergi? Nyonya Louis?"


"Bukan begitu, hanya saja! Aku masih susah untuk berjalan, jika aku memerlukan sesuatu bagaimana? Tidak ada yang membantu?"


"Hmm, aku tidak pergi kemana! Aku hanya ingin mengecek sebuah pesan yang dikirimkan Ken lewat email! Dan aku akan melakukannya disana!"


Marvin menunjuk sofa yang tidak jauh dari tempat tidur. Seketika wajah Killa kembali merona. Dadanya berdebar-debar berada didekat Marvin. Tapi dia tidak merasa risih, malahan membuatnya semakin ingin terus berdekatan dengan pria itu.


Apa-apaan sih? Kenapa aku bersikap menjijikan seperti ini? Apakah aku selemah itu? Hei, Killa Roses sadarlah, ini bukan seperti dirimu sendiri! Kau sudah seperti orang lain akhir-akhir ini! Batin Killa.


"Hei! Kenapa melamun? Kau sedang memikirkan apa?"


Marvin melambaikan tangan didepan wajah Killa. Gadis itu tersentak kaget dan membuyarkan lamunannya.


"Tidak, aku tidak sedang memikirkan apapun! Pergilah, lakukan yang kau mau lakukan!"


Killa memalingkan wajahnya. Karena tak ingin Marvin melihat wajahnya yang tersipu malu.


Di atas mejanya sudah tersedia sebuah laptop yang biasa ia pakai untuk bekerja. Langsung saja Marvin membuka laptop tersebut dan menyalakannya. Bersamaan dengan pelayan yang mengetuk pintu, lalu masuk membawakan minuman hangat dan pancake untuk mereka berdua.


***


Mata Marvin membulat dan manik matanya menajam. Ketika melihat hal yang sangat mengejutkan dilayar laptopnya.


"Jadi dia? Pantas mereka berdua nampak terkejut satu sama lain, ketika bertemu!"


Marvin melirik Killa yang tengah bermain ponsel diatas tempat tidur. Gadis itu pun juga menoleh kearahnya. Dia tersenyum tipis namun Marvin malah memalingkan wajahnya.


Marvin menutup laptopnya, lalu beranjak. "Kau mau kemana?" Tanya Killa yang melihat Marvin hendak pergi.


"Aku ada urusan di kantor cabang." Jawab Marvin singkat dan sedikit ketus. Lalu ia segera keluar dari kamar.


"Ada apa dengan nya? Kenapa aku merasa dia seperti sedang kesal padaku?"


Killa merasa ada yang aneh dengan Marvin. Wajahnya terlihat marah dan emosi. Rasa penasaran pun merasuki dirinya. Killa bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa dimana diatas mejanya terdapat laptop yang tadi digunakan oleh Marvin.


"Sebenarnya apa yang sudah dilihatnya tadi!"

__ADS_1


Killa membuka perlahan laptop yang terlipat itu. Dalam sekejap layarnya menyala, masih menampilkan halaman yang dilihat oleh Marvin tadi.


Mata Killa membulat dan bibirnya berkedut. Killa menggelengkan kepalanya. "Apa-apaan ini?" Pekiknya tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Apa pria dingin itu marah karena melihat ini? Aku harus apa? Seharusnya aku tidak menunda untuk memberitahunya mengenai Justin!"


Killa pun segera beranjak dari duduknya, lalu berlari keluar dari kamar. Berharap Marvin belum pergi, ia tak mau pria itu menjadi salah paham terhadapnya.


"Marvin!"


"Marvin, tunggu jangan pergi!"


"Marvin!"


Killa berteriak mengejar mobil yang dikendarai Marvin tanpa supir. Keluar dari halaman rumah. Killa menyibakkan rambut panjangnya kebelakang. Frustasi harus berbuat apa.


Namun disaat sedang kebingungan. Seorang pelayan menghampirinya dan bertanya.


"Ada apa Nona? Mengapa anda ada diluar? Bukankah Tuan Kevin meminta anda agar beristirahat dikamar! Dan juga tadi Tuan Marvin berpesan agar membawakan segelas teh herbal ke kamar anda!"


"Aku sudah merasa baikan! Kau tidak perlu khawatir!"


"Benarkah? Kalau begitu saya permisi Nona! Jika ada sesuatu yang anda butuhkan, panggil saja saya!"


Pelayan itu hendak melangkah pergi. Namun langkah nya terhenti ketika Killa memanggilnya kembali.


"Tunggu!"


Pelayan itu menoleh. "Ada yang bisa saya bantu Nona?"


"Kau pasti tahu dimana kantor cabang Marvin! Hotel miliknya dikota ini!"


"Ada apa memangnya Nona bertanya?"


"Kenapa kau banyak sekali bertanya? Cukup jawab saja pertanyaan ku!" Killa geram dengan sikap pelayan itu.


"Maafkan atas sikap saya Nona!" Pelayan itu menunduk meminta maaf pada Killa.


"Yasudah! Katakan bagaimana caranya agar aku bisa menyusul suamiku dikantornya?"


"Supir bisa mengantar anda kesana Nona! Tapi apakah Nona sudah meminta izin pada Tuan Kevin atau Tuan Marvin? Karena saya tidak mau mengambil resiko besar!"


"Huft!" Killa mendengus kesal. "Itu bukan urusanmu! Kau sangat banyak bicara, membuatku kesal!" Killa pun segera pergi meninggalkan pelayan itu yang masih berdiri dengan sigap.


"Pak, tolong antar kan saya ke kantor cabang suami saya!" Ucap Killa pada supir yang seharian kemarin mengantar mereka berpergian.

__ADS_1


"Baik Nona!" Sahut supir itu dengan sigap dan tanggap. Ia pun langsung membukakan pintu mobil untuk Killa. Dan mengemudikan nya menuju tempat yang dimaksud oleh Nona Mudanya itu.


__ADS_2