
Sedangkan disisi lain. Lion ayah Justin, sedari tadi tak bisa berhenti tersenyum. Melihat ada seseorang yang berani membentak anaknya selain Killa. Bahkan Justin sampai mengalah dan memilih pergi. Sungguh tidak pernah terjadi sebelumnya seperti itu.
"Maaf paman," lirih Naya yang merasa tidak enak dengan sikap nya yang sedikit kurang ajar.
"Hahaha, kenapa minta maaf. Anak itu memang harus di kasih pelajaran sekali-kali, kau gadis yang sangat baik hati seperti kakakmu." Lion menggapai tangan Killa dan mengelus lembut punggung tangan itu.
"Terima kasih Paman atas pujian nya. Tapi asal kau tahu, aku lebih baik dari kakak ku."
Mereka pun tertawa kembali bersama. Sambil melanjutkan aktivitas nya yang terhenti, Naya dan Lion tidak berhenti mengejek raut wajah Justin tadi. Mengingatnya membuat mereka terus tertawa.
***
Tok tok tok!
Justin mengetuk pelan pintu kamar Killa. Beberapa saat kemudian, pintu dibuka dari dalam. Ia disambut dengan senyuman yang terlukis di wajah Killa. Sekejap senyuman itu mengingatkan Justin ketika mereka berdua masih menjadi sepasang kekasih.
"Killa," sapa Justin tersenyum.
__ADS_1
"Justin, kau sudah datang."
"Bagaimana kabarmu? Ayah kata kau sedang tidak enak badan? Apa yang terjadi? Jika kau sakit, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Justin nampak begitu cemas. Terlebih ketika melihat wajah Killa yang begitu pucat. "Wajah mu sangat pucat."
Tangan nya terulur, spontan ingin menyentuh wajah Killa. "Maaf," lirihnya seraya menarik tangan nya kembali.
Justin tersadar jika dia tidak punya hak untuk menyentuh Killa. Kini Killa sudah menjadi milik orang lain. Bahkan Killa sendiri juga sadar akan hal itu. Terlihat saat tangan Justin hendak menyentuh pipinya, Killa memundurkan wajahnya. Menghindari sentuhan itu.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Killa tersenyum meskipun di paksa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan nya saat ini. Yang bahkan dia sangat bingung untuk bicara kepada siapa.
"Ada apa Killa? Apa yang ingin kau katakan padaku? Aku tahu, jika ada sesuatu yang membuatmu tertekan. Hingga kau jatuh sakit seperti ini." Justin menatap Killa yang duduk di sebelah kirinya.
Killa ikut menoleh dan menatap Justin dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu ia tersenyum dan berkata, "Aku tidak sakit Justin."
"Jika kau tidak sakit terus kenapa kau seperti ini?" Justin mengerinyit heran, sekaligus sedikit kesal.
__ADS_1
"Kau tahu, kadang takdir suka mempermainkan kita. Membuat kita menyesal di akhir cerita. Entah itu menyesal karena hal baik atau pun sebaliknya."
Justin tertegun mendengar perkataan Killa. Dia semakin merasa ada yang aneh. "Katakan ada apa? Jangan membuatku semakin mencemaskan dirimu Killa."
"Aku baik-baik saja. Aku juga sudah ke dokter untuk memeriksakan keadaan ku."
"Lalu? Dokter bilang apa?" Justin bertanya dengan tatapan serius. Killa memalingkan wajahnya ke arah depan. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya dengan berat.
"Dokter mengatakan .. "
"Dia berkata apa?"
"Dokter, Dokter mengatakan jika aku .. "
"Shit, kau apa? Ada apa dengan mu Killa, kau membuatku semakin kesal."
Justin menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Karena tidak sabaran dengan perkataan Killa yang menggantung.
__ADS_1
"Aku hamil." Killa menutup matanya yang terasa panas dan meneteskan air matanya. Entah itu air mata bahagia atau sebaliknya.
"Apa? Kau hamil?" Justin sangat terkejut, matanya berkaca-kaca. Jujur saja dia sangat sedih, karena kesempatan untuknya semakin sempit bahkan tidak ada. Justin menarik nafas panjang, dan berusaha tersenyum.