
"Kenapa kalian membuatnya mabuk seperti ini?" tanya Marvin dengan tatapan tajam pada June.
"Maafkan kami Tuan, kami sudah berusaha menghentikan Nona Killa. Namun yang terjadi malah seperti ini," jawab June sembari menunduk dan menunjuk kearah beberapa karyawan pria lainnya yang terkapar dikursi panjang kedai itu. Mungkin sekitaran tujuh pria.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Marvin kembali menatap heran karyawan-karyawan nya itu.
"Bukan hanya mereka yang kena, tapi saya juga kena Tuan. Nona Killa mengamuk saat sudah setengah mabuk, tidak maksud saya Nona Killa menggila Tuan." June memperlihatkan daerah matanya yang bengkak dan hampir membiru. Sama seperti karyawan-karyawan yang ia tunjuk tadi.
"Kenapa kamu mengatai istriku gila? Apa kau mau aku pecat?" ucap Marvin tidak terima istrinya dibilang menggila.
"Tapi memang benar seperti itu Tuan, Nona Killa menggila. Memukuli kami yang berusaha menghentikannya minum, karena sudah tidak kuat melawan akhirnya kami semua menyerah dan membiarkan Nona Killa meminum sesukanya dia, dasar wanita yang aneh."
June menjelaskan pada Marvin. Marvin yang mendengarnya hanya tersenyum geli. Membayangkan semua pria-pria itu dan termasuk June dihajar oleh Killa. Ingin rasanya dia tertawa sekeras-kerasnya.
"Itu semua salah kalian karena sudah mengajaknya sendirian tanpa ada aku." Marvin tersenyum miring menatap June yang kesakitan.
"Minggir, biar aku membawanya pulang." Marvin mendorong June yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Hei gadis bodoh, mengapa kau bisa seperti ini?" ucap Marvin pelan seraya menepuk-nepuk pipi Killa. Agar wanita itu terbangun.
"Hehehe, pria dingin kau kah itu?" Killa tersenyum bodoh sambil mengacak-acak rambut Marvin.
"Iya ini aku, ayo kita pulang." Marvin berjongkok didepan Killa mengisyaratkan untuk Killa naik keatas punggungnya.
"Woah, punggung mu sangat lebar pria dingin. Aku sangat menyukainya." Lagi-lagi ia tersenyum bodoh dan naik keatas punggung Marvin. Dan melingkarkan tangannya dileher Marvin.
"Kau urus lah yang lain. Pastikan mereka pulang dengan selamat. Besok tidak ada yang boleh izin, jika ada yang tidak masuk kau akan menerima akibatnya Ketua Tim June."
"Baik Tuan," sahut June dengan sigap dan tanggap.
"Lihatlah, kau tidak berhenti tersenyum seperti orang bodoh sejak tadi." Marvin mencubit pipi Killa.
Killa menggeliat dan membuka. Sedikit matanya menatap Marvin. Sambil tersenyum bodoh lagi. Pipinya merah seperti tomat dan bau alkohol begitu menyengat dimulutnya.
"Jadi Nyonya Louis, coba kau jelaskan padaku. Apa yang terjadi tadi? Kau memukuli orang-orang itu? Hahaha," tanya Marvin. Dia pun tertawa karena tidak bisa tahan, menurutnya itu pasti sangat lucu.
__ADS_1
Killa mengangguk dan tersenyum. "Aku menghabisi mereka semua, hahaha," jawabnya tertawa.
"Kau memang pintar," ucap Marvin mengusap lembut pucuk kepala Killa.
Tangannya pun ditarik oleh Killa, membuatnya tersentak kearah gadis itu. Jantungnya berdegup kencang berada sangat dekat dengan Killa. Apalagi Killa memegang pipinya dengan kedua tangan lentik itu.
"Karena mereka tidak bisa menyaingi dirimu pria dingin, kau adalah segalanya bagiku sekarang," ucap Killa.
"Hahaha, benarkah? Kau terlalu berlebihan, aku tidak sesempurna itu. Aku masih memiliki kekurangan." Marvin jadi salah tingkah pipinya ikut memerah.
"Berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi."
"Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan mu gadis bodoh, tenang saja."
Killa pun memajukan wajahnya, mencium bibir Marvin seketika. Marvin terkejut, namun langsung membalas ciuman itu.
...🌹Jangan lupa like setiap episode dan mampir di karya baruku 🌹...
__ADS_1