Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 168 : Cinta pertama.


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, sejak kejadian mengerikan malam itu. Dimana Marvin hampir kehilangan nyawanya. Namun karena rasa cinta nya pada Killa yang begitu dalam. Membuatnya memiliki keyakinan besar untuk selamat.


Kini Marvin tengah bersama Ken di dalam ruangan rawat inap VIP. Membahas segala masalah pekerjaan. Marvin meminta Ken untuk menghandle semua pekerjaan dengan benar. Karena dia masih belum bisa masuk kerja. Pertemuan-pertemuan semua Ken yang hadiri untuk menggantikan Marvin.


"Tadi Tuan Justin menelpon saya Tuan," ucap Ken.


"Apa yang dia katakan?" tanya Marvin dengan pandangan fokus ke layar laptop.


"Tuan Justin menanyakan keadaan anda, dia juga bilang dia akan mengunjungi anda."


"Cih, formal sekali. Aku tahu dia senang melihatku seperti ini." Marvin menyipitkan matanya.


Ken hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah sang bos. Yang jelas sedang cemburu. Dua pria dingin yang mencintai wanita yang sama. Sungguh miris namun tingkah keduanya malah membuat orang-orang disekitar terhibur. Terlebih kecemburuan Marvin terkadang membuat Ken geleng-geleng kepala.


"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" Marvin menaikan nada bicaranya. Membuat Ken terkesiap.


"Tidak Tuan, saya tidak memikirkan apa-apa."


"Dasar aneh, bagaimana dengan Killa? Dimana dia sekarang? Apa dia sedang bekerja?" tanya nya penasaran. Karena sedari pagi Killa tak kunjung datang menemaninya.


"Tidak Tuan, Nona Killa dirumah sejak pagi. Ia menemani Naya yang hari ini sedang libur sekolah," jelas Ken.


"Benarkah?"


"Benar Tuan, kalau begitu saya pergi dulu. Sebaiknya anda istirahat, saya akan menemui Nona Killa. Dan meminta dia datang menemani Tuan."


"Tidak perlu, biarkan dia istirahat di rumah. Jangan mengganggunya. Aku bisa menelpon nya sendiri."


"Baik Tuan, saya permisi."


Ken pun pergi. Sepeninggal Ken Marvin langsung mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Di klik nya tombol power. Ponsel menyala dan langsung menampakan wajah cantik Killa sedang tersenyum.


Marvin ikut tersenyum dan mengelus layar ponselnya itu. "Kenapa kau bisa secantik ini? Andaikan kita bertemu lebih awal, aku tidak akan pernah membiarkan mu terluka."


Ia pun segera menghubungi nomor Killa. Menunggu beberapa detik panggilan tersambung.


"Kau dimana?" tanya nya.


"Aku dirumah," jawab Killa.


"Kenapa suara mu seperti itu? Apa kau sakit? Ken bilang kau tidak masuk kerja hari ini," tanya nya lagi.


"Aku tidak sakit, aku hanya lelah bersih-bersih bersama Naya. Aku tidak turun kerja, karena aku sudah mengundurkan diri," jawab Killa.


"Mengundurkan diri? Tapi kenapa? Apakah karena Hanna?"


Killa diam sejenak. "Aku lelah, dan ini tidak ada kaitan nya dengan Hanna."


"Baiklah, kau benar. Kau tidak perlu bekerja, karena kau adalah istriku. Semua yang kau dan Naya butuhkan aku yang tanggung. Jadi cukup fokus menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik saja. Jika aku sudah pulih aku akan membawa kau dan Naya pergi berlibur. Kita habiskan waktu bersama seperti sebuah keluarga."


"Hmm, kau sangat baik."


"Apa ada yang salah jika aku baik terhadap istri dan adik ku?"


"Tidak, kau tidak salah. Terima kasih."


"Bukan kah aku sudah katakan untuk tidak bilang terima kasih? Karena belum saat nya. Apa kau mau ku hukum? Cup cup cup." Marvin mengerucutkan bibirnya dan mengecup-kecup lara ponselnya.

__ADS_1


"Cih, hahaha. Menjijikan aku tidak mau di cium oleh mu."


"Benar, tersenyumlah. Jangan murung dan lewati harimu dengan perasaan senang. Aku tidak suka melihat mu sedih. Cepat selesaikan aktivitasmu bersama Naya, karena nanti malam kau harus menghabiskan waktumu bersama ku disini."


"Baiklah, baik Tuan Marvin Louis. Siap melaksanakan perintah."


"Dasar gadis bodoh," decihnya sambil tersenyum mendengar jawaban Killa. Namun disela-sela jawaban Killa terdengar juga suara Naya.


"Dasar pasangan tidak waras, jika aku nanti punya kekasih. Aku tidak akan bersikap seperti kalian berdua," ucap Naya.


Marvin pun tersenyum. Lalu memutuskan panggilan.


Ia menggeleng kan kepala seraya menaruh ponselnya kembali ke atas nakas. Kedua kakak beradik itu sudah memberikan warna dalam hidupnya. Membuatnya berubah dalam sekejap. Bagaimana hidupnya jika tidak ada Killa dan Naya. Dia akan kembali merasa kesepian.


***


Disisi lain. Setelah memutuskan panggilan. Killa terduduk disofa. Sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia menangis. Naya yang melihatnya langsung menghampiri dan memeluknya.


"Sudah berhentilah menangis, apa kau yakin melakukan ini?"


"Aku yakin Nay, aku tidak pantas menerima hati dan perasaan nya yang tulus. Hiks hiks."


"Kakak, jangan menangis." Naya ikut menangis karena melihat Killa yang begitu menyedihkan.


"Kau tahu kak, bahwa kakak ipar sangat mencintaimu. Dia pasti akan sangat terpukul jika kau pergi."


"Aku tahu Nay, dia akan lebih terpukul dan tersakiti jika dia tahu kebenaran tentang ayah. Kita tidak pantas menerima kebaikan nya dan keluarganya."


"Kak, sadarlah. Itu bukan kesalahan kita. Lagi pula itu hanya masa lalu. Tidak ada kaitan nya dengan kita," bentak Naya agar Killa sadar.


"Kak ini tidak benar, entah kenapa aku merasa kakak ipar tidak berpikiran seperti itu. Aku yakin dia akan memaafkan ayah, dan tidak mempermasalahkan siapa kita."


"Kau tau apa? Dia pernah berkata jika dia tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang terlibat atas kematian ibunya."


Naya terdiam. "Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Bukan hal baru jika kita harus hidup berdua saja


" Killa memegang tangan Naya.


"Tapi kau tidak baik-baik saja. Aku tahu kau yang paling terluka disini. Tapi apakah kau sanggup meninggalkan cintamu, meninggalkan kakak ipar. Kau sangat mencintai dia."


Lagi-lagi Killa menangis mendengar perkataan Naya. Naya kembali memeluk sang kakak. Merasa tidak tega kenapa takdir membuat hidup mereka berdua seperti ini. Killa melepaskan pelukan sang adik. Lalu mengusap air mata di wajahnya.


"Cepat selesaikan, aku mau istirahat dulu dikamar. Jika ada sesuatu panggil saja aku." Killa berdiri dan berlalu masuk ke dalam kamar nya.


Naya menatap sendu kepergian Killa yang menghilang di balik pintu kamar. Setelah itu ia pun beranjak dari sofa dan menarik resleting koper agar tertutup rapat.


Koper yang berisi pakaian nya dan pakaian sang kakak. Ternyata Killa dan Naya tidak sedang bersih-bersih rumah. Melainkan tengah mempersiapkan diri untuk pergi.


Di dalam kamar. Killa merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Di raih nya guling dan bantal yang biasa Marvin gunakan. Dihirupnya aroma tubuh Marvin yang menempel di sana.


"Aku pasti akan sangat merindukan mu Marvin."


Namun saat ia hendak beranjak bangun. Tak sengaja pandangan nya tertuju pada sebuah meja. Yang diatasnya terdapat bingkai foto. Dua pria tengah mengenakan seragam SMA berpose bersebelahan.


Killa berjalan menghampiri meja tersebut. Diraihnya bingkai foto itu lalu diperhatikan nya dengan seksama foto tersebut.


"Bukan kah ini Marvin dan Gavin? Tulisan nya sepuluh tahun yang lalu. Mereka berdua tampak lucu. Tapi kenapa merasa seperti tidak asing."

__ADS_1


"Sapu tangan ini?" Killa menunjuk sapu tangan yang melilit di pergelangan tangan Marvin saat itu.


"Bukan kah ini?" Ia kembali teringat masa lalu.


Flashback singkat.


Saat itu Killa berusia tiga belas tahun. Dia sedang berjalan di sebuah gang kecil namun tidak sengaja bertemu dengan beberapa beberapa pria yang menggunakan seragam SMA. Ia diganggu dan dikata-katai dengan kasar. Karena waktu itu dia sedang memakai pakaian khusus pencuci piring di sebuah restauran. Itu adalah pekerjaan sampingan yang Killa lakukan. Yaitu menjadi buruh cuci piring.


"Hei, berhenti mengganggu nya," teriak seseorang.


Killa menoleh kearah sumber suara. Seorang pria yang juga mengenakan seragam SMA berjalan mendekat.


"Siapa kau, apa kau pacar nya? Hahaha?" Mereka tertawa bersamaan.


"Dasar pengecut, beraninya mengganggu wanita." Pria itu meludah ke sembarang arah. Sedetik kemudian dia langsung menendang dan melayangkan tinjunya pada orang-orang yang mengganggu Killa tadi.


Terjadilah perkelahian.


Para pria yang mengganggu Killa tadi akhirnya pergi. Namun pria yang menolongnya tidak sengaja melukai pergelangan tangan nya. Saat salah satu pria-pria tadi mengeluarkan pisau. Hingga melukai pergelangan tangan pria tersebut.


"Kau tidak apa-apa? Maaf maaf karena menolong ku kakak sampai terluka." Kila yang panik sontak langsung memegangi tangan pria itu.


"Lepaskan tangan ku, aku baik-baik saja." Pria itu menepis tangan Killa. "Aku bukan kakak mu, kenapa memanggilku seperti itu."


"Hah? Tidak, bukan seperti itu maksudku. Maaf." Killa tergagap salah tingkah. Pria di depan nya itu nampak sangat dingin.


"Terima kasih sudah menyelamatkan ku." Killa berdiri dan membungkuk berterima kasih.


"Aku tidak menyelamatkan mu, aku hanya tidak sengaja lewat tempat ini."


"Tetap saja aku berterima kasih," ucap Killa yang langsung mengikatkan sapu tangan milik nya pada pria tersebut. Untuk menutupi lukanya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku."


"Sekali lagi terima kasih, hanya ini yang bisa ku lakukan."


Killa pun hendak pergi namun tangan nya ditarik oleh pria itu.


Deg deg deg!


Tiba-tiba saja Killa merasa dadanya berdebar-debar. Wajahnya memanas dan merah. Tanpa ia sadari hatinya memilih cinta pada pandangan pertama nya.


"Hati-hati dan jangan lewat tempat sepi lagi. Mereka bisa saja kembali mengganggu mu," ucap pria itu.


"Ba-baik, terima kasih sudah mengingatkan."


Killa menjadi salah tingkah. Ia pun langsung berlari meninggalkan pria yang sudah menolongnya itu.


Flashback Off.


Saat itulah untuk pertama kalinya dia jatuh cinta. Kepada pria asing yang sudah membantunya. Bahkan dia juga terluka demi menyelamatkan Killa. Jadi Justin bukan lah pemilik awal hati Killa. Melainkan ada orang lain yang telah lama tersimpan dihati Killa. Meskipun dia tidak tahu siapa pria tersebut. Namun setelah kejadian hari itu Killa selalu berjalan melewati tempat itu. Walaupun bahaya tapi demi bertemu pria waktu itu yang menolongnya. Killa tidak perduli. Sayangnya dia tidak pernah menemukan nya.


"Marvin, ternyata itu adalah kau? Hiks hiks," lirihnya.


Air matanya menetes di atas bingkai foto yang ia pegang. Hatinya semakin hancur. Ternyata Marvin adalah cinta pertamanya. Pria yang rela terluka demi menyelamatkan gadis yang tidak ia kenal.


...🌹Mohon pengertiannya 🙏🏻. Author sudah usahakan up dua episode yang masing-masing seribu kata lebih per episode. Jangan lupa like dan vote🎉🌹...

__ADS_1


__ADS_2