Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 130 : VOTENYA MANA SUARANYA, AKU TUNGGU YA


__ADS_3

Marvin merentangkan kedua tangannya. Untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal akibat semalam. Ia merasa sedikit aneh karena suara gadis yang tadi membangunkan nya sudah tidak terdengar lagi. Seketika matanya terbuka lalu mengedar ke kiri dan juga kanan. Mencari-cari sosok Killa.


"Killa," teriaknya dengan suara serak. Marvin pun memegangi bagian lehernya, karena sangat risih dengan suara seraknya.


"Ada apa denganku? Kenapa suaraku jadi seperti ini," gumamnya sambil beranjak dari sofa.


Marvin berjalan menyusuri lorong kearah dapur dengan tanpa mengenakan baju dan bertelanjang kaki. Sesampainya di dapur Marvin langsung menuang air ke dalam gelas, lalu meneguknya hingga habis.


"Eehmm," ia berdehem untuk mengetes suaranya. Namun tetap sama. Tenggorokan nya masih terasa gatal dan suaranya malah semakin serak.


Dari arah belakang suara langkah kaki terdengar mendekatinya. Sontak Marvin langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


"Apa kau tadi memanggilku? Sepertinya aku mendengar suaramu," tanya Killa yang baru saja selesai mandi. Karena handuk kecil masih membalut rambutnya yang basah.


"Iya, aku mencarimu sejak tadi." Jawab Marvin.


Killa mengerinyit menatap Marvin dan berjalan mendekatinya. "Ada apa dengan suaramu?"


Killa menyentuh pipi Marvin dan mengusap bibirnya menggunakan jari jempol. Marvin menggelengkan kepalanya. Ia meraih tangan Killa yang berada di pipinya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan hangat.


"Kau wangi sekali," ucap Marvin tersenyum, namun masih dengan suara serak.


"Cih, pagi-pagi kau sudah mencoba menggodaku lagi." Killa tersenyum balik dengan wajah yang bersemu.

__ADS_1


"Aku tidak menggoda mu, aku berbicara jujur. Kau memang sangat wangi," sahut Marvin.


Ia maju selangkah mendekati Killa. Lalu satu kecupan hangat lagi mendarat dikening gadis itu. Membuatnya terpaku diam, jadi gugup. Bagaimana tidak, jika dadanya yang tidak bisa dikondisikan. Berdebar sangat kencang.


"Aku mencintaimu Killa, sangat mencintaimu." Ucap Marvin sembari memeluk erat tubuh Killa.


"Ada apa denganmu, berhentilah bicara. Karena suaramu sudah hampir habis," sahut Killa yang gugup, bingung untuk menjawab apa.


Dia masih merasa sangat canggung menghadapi sikap manis Marvin. Killa sendiri masih sangat susah untuk mengutarakan perasaannya sendiri. Begitu juga pun dengan Marvin. Sebenarnya dia juga masih sangat susah untuk mengutarakan perasaan. Perkataan dan perlakuan manis itu terjadi secara spontan tanpa dia rencanakan sendiri.


"Pergilah mandi, ini sudah jam berapa? Kau sudah terlambat," ucap Killa seraya melepaskan pelukan Marvin.


"Bukankah aku bos nya." Sahutnya dengan percaya diri.


"Pergilah, aku akan membuat sarapan. Sepertinya Naya sudah berangkat ke sekolah. Sangat memalukan," gerutu Killa.


Malu, sangatlah malu. Killa merasa tidak sanggup untuk menghadapi sang adik. Karena pastinya Naya melihat mereka yang tertidur diruang santai. Apalagi Marvin yang tidur tidak mengenakan baju. Pasti gadis nakal itu berpikiran yang tidak-tidak.


"Baiklah aku akan segera kembali," ucap Marvin.


Killa mengangguk. "Kau mau sarapan apa? Bagaimana dengan roti panggang selai coklat?"


"Terserah kau saja," jawab Marvin.

__ADS_1


Ia menyeringai sambil meraih pinggul ramping Killa. Lalu menarik tubuh gadis itu kembali menempel ditubuhnya.


"Apapun itu pasti akan ku makan, walau itu dirimu sekalipun," lanjutnya berbisik ditelinga Killa dengan suara serak.


Membuat gadis itu seketika terlonjak karena merasa geli. Ia langsung mendorong tubuh Marvin.


"Vin, berhenti lah menggodaku." Gerutunya kesal.


"Hahaha, aku akan segera kembali." Marvin tergelak.


Ia merasa puas sudah membuat Killa tersipu malu. Wajah gadis itu kini sudah memerah seperti kepiting rebus.


Sepeninggal Marvin. Killa tak ingin berlama-lama, ia langsung membuatkan sarapan untuk sang suami. Dengan cekatan ia menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit.


Teh herbal hangat dan roti panggang selai coklat pun sudah jadi. Ia langsung membawanya keruangan santai. Tapi sebelumnya, ia tak lupa untuk membereskan tempat mereka tidur semalam.


Killa duduk disofa sambil memakan satu potong roti panggang. Ketika hendak meraih remote tv Killa tak sengaja melihat sebuah kertas tergeletak diatas meja. Karena begitu penasaran, ia pun mengambil dan membaca isi kertas itu.


Ternyata itu undangan makan siang dari Justin untuk Marvin. Mereka ingin membicarakan masalah kontrak kerja.


Entah kenapa rasanya sangat tidak nyaman. Melihat Marvin dekat bahkan sangat dekat dengan sang mantan. Karena Killa sangat takut jika Justin akan menyakiti Marvin. Mengingat bagaimana sifat tempramen Justin.


"Tenanglah Killa, pria dingin itu sangat pintar." Ia menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Dia tidak mungkin membiarkan dirinya sendiri disakiti oleh siapa pun, jadi kau tidak perlu khawatir." Lanjutnya berbicara pada diri sendiri.


__ADS_2