
Sedangkan Justin memberikan kode pada Marvin yang tertegun melihatnya memeluk Naya. Entah apa yang sedang dipikirkan Marvin. Ia pun segera masuk ke dalam lift.
Setelah lift nya tertutup. Justin kembali menghela nafas lega. Dia kembali tersadar jika sudah sangat lama dia memeluk Naya. Seketika Justin melepaskan dekapan nya. Gugup merapikan pakaian nya dan segera berlalu pergi meninggalkan Naya.
Naya masih tidak bisa berkata-kata. Ia menatap punggung tegap pria yang baru saja memeluknya itu. Kenapa dadanya semakin berdebar-debar. Naya pun memegangi dadanya itu.
"Apa-apaan kau ini, kenapa kau berdebar-debar seperti ini?Sangat memalukan, bagaimana jika dia tadi mendengarnya. Aaghh! Naya kau sangat bodoh."
Naya merutukki dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya. Lalu berlari mengejar Justin yang sudah keluar dari lobby.
***
Sedangkan disisi lain di dalam lift rumah sakit.
__ADS_1
"Apa mereka berdua memiliki hubungan?" pikirnya.
Melihat Justin yang baru saja memeluk Naya. Marvin berpikir jika keduanya mungkin memiliki hubungan. Namun ia tidak mau terlalu memikirkan itu. Yang jadi masalah sekarang, apa yang akan ia katakan pada Killa. Saat bertemu setelah sebulan lebih berpisah. Marvin merasa sedikit canggung.
Sesampainya di depan pintu ruangan VIP yang sudah di beritahukan Justin padanya. Marvin menatap kaca di tengah pintu itu, memperlihatkan isi di dalam ruangan tersebut.
"Killa," lirihnya dengan tangan yang terulur mengusap kaca, seakan sedang menyentuh Killa.
"Sial," pekiknya kembali. Ia langsung berbalik badan dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau benar-benar brengsek Marvin. Dia terbaring lemah disana, itu semua karena mu. Jika saja waktu itu aku tidak egois dan gegabah, Killa tidak mungkin seperti ini."
"Maafkan aku Killa," ucapnya memegangi dada yang terasa sesak.
Marvin pun mengusap tetesan air mata yang sempat terjatuh di pipinya. Lalu ia meyakinkan diri untuk masuk dan bertemu dengan Killa.
__ADS_1
Mata Marvin berkeliling menatap seisi ruangan, lalu berhenti pada satu titik. Dimana seseorang yang dia rindukan sedang terlelap. Dengan wajah mata bengkak dan bibir yang pucat. Selang oksigen juga tertempel di hidungnya.
Apakah se-sesak itu menjalani kehidupan selama sebulan lebih tanpa Marvin. Hingga bernafas pun harus dibantu dengan selang oksigen.
Tap tap tap!
Langkah kakinya terdengar pelan dan berat mendekati tempat tidur Killa. Ia meraih tangan kanan Killa. Mengusap punggung tangan tersebut yang terasa dingin.
"Aku datang Killa," ucapnya dengan senyum yang dipaksa. Air matanya tidak bisa di tahan, menetes begitu saja. Marvin terduduk dikursi sebelah tempat tidur. Ia menangis memegangi tangan Killa.
"Maafkan aku, aku sudah membuatmu seperti ini. Jika ada yang harus dihukum. Itu adalah aku, bukan kau Killa. Kau harus menanggung sebuah kesalahan yang bahkan tidak pernah kau perbuat, karena kebodohan ku. Kau pasti sangat membenciku."
Sesekali ia mencium punggung tangan Killa dengan penuh kasih. Ingin rasanya dia pergi dari tempat itu, karena merasa sudah gagal melindungi Killa. Namun diurungkan niatnya itu. Cukup sekali tidak akan ada yang kedua kalinya dia harus kehilangan Killa. Wanita yang sangat ia cintai. Separuh nafas nya adalah Killa, jika dia tidak ada. Hidup Marvin terasa sesak, sama hal nya dengan bulan yang kehilangan cahayanya.
__ADS_1
...🌹 Jangan lupa like, 🌹...