
Kini Marvin telah selesai bersiap-siap. Ia berdiri didepan cermin yang ada didalam kamarnya. Menatap bayangan dirinya dari dalam cermin itu.
Tiba-tiba saja dia tertawa sambil mengenakan jas dan dasi. Ia mengingat kembali kejadian semalam. Marvin merasa semakin hari perasaan cintanya pada Killa semakin besar. Terlebih tubuh gadis itu membuatnya sedikit kecanduan, Marvin ingin terus mencicipinya.
"Andai saja kita bertemu lebih awal gadis bodoh, aku pasti tidak akan menyakitimu atau pun meninggalkan mu." Tutur Marvin.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut mu dariku, meski itu dia sekalipun," lanjutnya kemudian.
Tangan Marvin mengepal sempurna. Seketika aliran darahnya mengalir deras dan panas. Mengingat wajah Justin. Marvin berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah membiarkan Justin merebut Killa-nya kembali.
Setelah selesai. Marvin langsung bergegas keluar dari kamar, untuk menemui istri tercintanya itu. Yang kini sudah menunggu diruang santai sambil menyeruput teh nya.
Killa tersenyum dan melambai kearahnya. Marvin begitu bahagia bisa melihat senyuman manis Killa. Yang akan menyemangatinya hari ini.
Akan tetapi, Marvin tidak sengaja melihat kearah kertas undangan dari Justin yang tergeletak dimeja. Marvin hampir lupa jika undangan itu masih berada disana semalaman. Ia juga sadar jika Killa pasti sudah membacanya, karena nampak sekali diwajahnya. Jika Killa merasa sedikit risih dan tidak nyaman.
"Maaf, aku tidak sengaja melihatnya." Ucap Killa.
Ia terbata-bata artinya sedang gugup atau tidak nyaman. Marvin langsung duduk disebelah Killa.
"Tidak apa-apa, aku baru saja ingin mengatakannya padamu. Maaf siang ini aku tidak bisa menemanimu makan siang," tuturnya dengan tersenyum.
Killa mengangguk. "Tidak masalah, pergilah." sahutnya kemudian.
"Apa kau mau ikut denganku?" Tanya Marvin.
__ADS_1
Sontak Killa sangat terkejut. Ia menatap skeptis kearah Marvin. Tidak percaya jika pria dingin itu mengajaknya. Killa ingin sekali pergi untuk memperlihatkan kepada Justin . Jika dirinya kini sudah memiliki seorang suami. Bahkan suaminya bukanlah sembarang orang yang bisa dia sakiti atau dia ancam sekalipun.
Namun meskipun begitu. Killa merasa tidak ingin mencampuri masalah kerjaan dengan masalah pribadinya. Dia yakin Marvin juga seperti itu. Pria dingin itu sangatlah bijaksana.
"Tidak, kau pergilah sendiri." Tolak Killa.
"Tapi bagaimana dengan suaramu Vin? Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit untuk memeriksakan nya?" Lanjut Killa bertanya dengan raut wajah cemas.
"Aku tidak apa-apa, mungkin karena udara begitu dingin. Membuat tenggorokan ku sedikit gatal, hingga suaraku jadi seperti ini," jawab Marvin sambil tersenyum.
"Benarkah? Apa kau tidak merasakan hal yang serius? Mungkin saja ada sakit di bagian dalam? Kau yakin tidak merasakan sakit?" Raut wajahnya semakin cemas.
"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir gadis bodoh. Aku baik-baik saja, cepat selesaikan sarapan mu kita sudah terlambat."
Mereka pun kembali melanjutkan sarapan yang sempat terhenti. Lalu berangkat kerja bersama.
Ketika lift sudah sampai di lantai tempat Killa bekerja. Gadis itu bergegas keluar dari lift. Namun tangannya kembali ditarik oleh Marvin.
"Kau melupakan sesuatu," ucap nya menatap lekat wajah Killa.
"Apa?" Tanya Killa yang mulai gelagapan takut ada yang melihat mereka berdua.
"Kiss me," pinta Marvin yang menyeringai.
"Cih, menjijikan." Desis Killa sembari memutar bola mata dan terkekeh. Menanggapi sikap Marvin yang berubah manja.
__ADS_1
Cups!
Dengan cepat Killa mengecup bibir pria dingin itu. Membuat pria itu tersenyum puas. Lalu membalasnya dengan sebuah kecupan hangat dipucuk kepala Killa.
"Bye," Marvin melambaikan tangan ketika pintu lift mulai tertutup.
"Sangat menggemaskan, tampangnya yang dingin sangat tidak cocok berperilaku manja. Hahaha," Killa tergelak sambil geleng-geleng kepala.
Ia berjalan menuju meja kerjanya. Karena terus memikirkan tingkah Marvin. Killa tidak menyadari jika semua karyawan menatap kearahnya. Bahkan ada yang sedang bergosip.
"Lihatlah, bukankah itu Killa?"
"Ternyata dia adalah istri Tuan Marvin."
"Tidak salah dugaan ku, karena tidak sembarang orang yang bisa kerja ditempat ini."
"Apa dia adalah wanita penggoda? Bagaimana bisa Tuan Marvin, memiliki istri seperti dirinya?"
"Benar sekali, aku tidak menyangka."
Dan masih banyak cemoohan lainnya. Tapi tak jarang ada juga yang berkomentar positif dan melempar senyuman pada Killa. Bahkan sampai membungkuk hormat dan sopan. Mengingat Killa sekarang adalah istri dari bos mereka.
Tapi Killa tidak terlalu memikirkan apa pandangan orang-orang itu terhadapnya. Baginya itu tidaklah penting. Karena sekarang hatinya begitu bahagia. Dia dan Marvin sudah saling membuka hati dan mengutarakan perasaan masing-masing. Ia berharap kedepannya akan berjalan dengan baik.
Aku tidak perduli kalian semua mau berkata apa! Batin Killa.
__ADS_1
...🌹 Jangan lupa vote, biar semangat 🌹...