
Killa menoleh, mereka berdua saling menatap. Justin bisa melihat rasa keingintahuan yang besar di mata Killa.
"Itu karena pria itu jatuh sakit," ucap Justin.
Deg!
Mata Killa membulat dia sangat terkejut. Bibir nya bergetar ingin menyahut, namun tertahan.
"Kau tahu, dia pingsan dan tidak sadarkan diri saat mencari-cari istrinya itu. Dia kembali sadar seminggu kemudian nya, dan saat itu tidak ada lagi jejak yang tertinggal. Ia semakin frustasi tidak bisa menemukan keberadaan sang istri. Sampai pada akhirnya dia bisa menyusul istrinya di kota yang sangat jauh, ketika sahabat dari istrinya yang membantu menyembunyikan kebenaran. Menghubunginya demi kebaikan dan meminta nya datang. Walaupun masih dalam keadaan berduka atas kematian salah satu anggota keluarganya. Ia rela pergi menemui istrinya yang dikabarkan tengah jatuh sakit."
Tes tes tes!
Tanpa sadar air mata Killa menetes ketika mendengarkan perkataan Justin. Dia teringat akan sosok Marvin. Benarkah yang sudah dikatakan oleh Justin? Killa bertanya-tanya.
"Apakah yang kau ucapkan itu benar?" tanya Killa dengan suara yang bergetar menahan tangisan nya.
__ADS_1
Justin mengangguk. "Dia sangat mencintaimu Killa, Marvin tidak pernah meninggalkan mu, dia begitu menyesal sudah membuatmu terluka."
"Apa dia benar-benar sakit? Hiks hiks," tanya nya lagi.
Justin kembali mengangguk. "Luka di dadanya akibat insiden penembakan itu, sudah mengubahnya, dia sering mengalami kesakitan di bagian bekas luka itu, jantungnya tidak seperti dulu lagi!"
"Hiks hiks, tidak mungkin, Marvin tidak mungkin selemah itu, katakan jika itu bohong! Dia tak mungkin sakit separah itu?" Killa menggelengkan kepalanya menepis pemikiran buruknya.
"Kau juga pasti sudah tahu, jika dari lahir tubuhnya sudah sangat lemah. Ditambah dengan insiden penembakan itu, membuat kelemahan nya kembali! Kehilangan dirimu, sudah membuat dirinya hancur Killa."
"Hiks hiks, Marvin, maafkan aku! Huaaa, hiks hiks! Justin aku benar-benar bodoh."
Tangisan nya pecah. Ia menangis di dalam pelukan Justin. Brengsek, egois, dan keras kepala. Killa merutukki dirinya sendiri. Sudah menyakiti hati pria yang sangat dicintainya. Bertambah satu kebodohan lagi, selain pergi dari kenyataan waktu itu.
Killa semakin terisak hingga dadanya terasa sesak. Menyesal, dia sangat menyesal sudah berkata kasar kepada Marvin. Dia sudah terlambat, Marvin sudah pergi.
__ADS_1
"Kau belum terlambat Killa," ucap Justin seolah-olah tahu dengan isi kepala Killa.
Killa menatap Justin dengan sendu dan air mata yang terus mengalir. "Apa maksudmu? Marvin sudah pergi Justin, aku sudah sangat menyakitinya dengan perkataan ku!"
"Tidak Killa, dia belum pergi! Pesawatnya masih akan berangkat sekitar dua puluh menit lagi. Jika kau mau ... "
"Justin plis, bantu aku untuk bertemu dengan Marvin! Aku tidak mau dia pergi, aku menyesal sudah membuat nya terluka, hiks hiks, plis tolong aku!"
Killa memohon dengan sungguh-sungguh, ia mencengkram tangan Justin dengan kuat tanpa sadar. Menangis meraung seperti orang yang kehilangan akal.
"Baiklah, aku akan membawa mu bertemu dengan Marvin. Tapi kau harus tenang, jangan seperti ini, pikirkan Baby di dalam kandungan mu."
"Terima kasih Justin!"
Akhirnya Justin pun mengantarkan Killa ke bandara untuk menyusul Marvin. Dengan kecepatan sedang dan hati-hati, membawa ibu hamil. Justin mengendarai mobilnya menyusuri jalanan Berlin. Di perjalanan Killa tak henti-hentinya menangis, dia menyatukan tangan di dadanya. Semakin cemas jika tidak bisa bertemu dengan Marvin lagi. Akan kah dia akan sampai tepat pada waktu nya, atau terlambat untuk selamanya?
__ADS_1