
Malam hari nya. Terlihat Killa sedang menarik Marvin dengan paksa menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Kini mereka sudah berada di balik pantry dapur.
"Kau mau apa, Killa? aku sangat lelah, jika kau lapar, kau bisa meminta pelayan untuk membuatkan sesuatu," ucap Marvin dengan malas.
"Aku tidak mau!" tolak Killa.
"Sudah lama aku tidak makan masakan mu, Marvin. Ayolah ... plis." Killa menyatukan kedua tangan nya memohon.
Marvin menghela nafasnya. "Baiklah, duduk disana," ucap Marvin meminta Killa menunggu dimeja makan.
Killa pun segera duduk di meja makan yang tidak jauh dari dari pantry tempat Marvin berdiri. Dari sana ia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang suaminya lakukan.
"Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini, Marvin." Killa tersenyum sambil terus memperhatikan gerak-gerik Marvin.
Dengan penuh karisma, seperti biasanya ketika dia memasak. Marvin selalu terlihat menawan di mata Killa. Dengan celemek masak, dan lengan kemeja yang ia gulung setengah. Killa tak bisa mengalihkan pandangan nya.
Tidak lama berselang sekitar sepuluh menit. Marvin telah selesai. Dengan senyuman dia membawakan sepiring pasta dan menatanya di atas meja makan. Beserta dengan jus buah yang sengaja ia buatkan spesial untuk sang istri.
"Terima kasih, Vin ... eh, maksudku Chagiya," ucap Killa dengan wajah merah dan senyuman manis nya.
...(Chagiya : Panggilan sayang dalam bahasa korea)...
Sudut bibir Marvin tertarik sedikit. Ketika mendengar ucapan Killa, terlebih saat melihat wajah Killa yang tersipu malu.
"Hahaha, cepatlah habis kan makanan mu! Sangat menjijikkan." Marvin tergelak sambil mengusap-usap pucuk kepala Killa, hingga rambutnya berantakan.
"Apa kau bilang? Menjijikan? Dasar pria dingin, kaku, dan tidak romantis!" Killa mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Hahaha!" Marvin masih terus tertawa.
__ADS_1
Bugh!
Killa menyikut perut Marvin menggunakan sikut nya. "Sakit," ringis Marvin memegangi perutnya. Berpura-pura kesakitan agar mendapat simpati dari Killa. Namun kenyataan nya salah.
"Kau pantas mendapatkan nya!" rutuk Killa.
"Dasar gadis bodoh!" Marvin kembali mengusap pucuk kepala Killa. "Cepat habiskan makanan mu!"
"Aku tahu, kau tidak perlu mengingatkan ku! Aku pasti akan menghabiskan nya," ucap Killa ketus.
Killa pun mulai memakan pasta yang telah disuguhkan Marvin untuknya. Sambil sesekali meneguk jus buah yang juga spesial dibuat untuk nya. Killa tak menatap ke arah Marvin karena kesal.
Marvin tak berhenti menatap sang istri yang sedang makan. Setiap gerakan nya tak luput dari tatapan nya. "Kau sudah banyak berubah," ucap Marvin.
Killa menoleh dan mengerinyit, tidak mengerti.
"Kau sangat manja dan sangat keras kepala, egois juga sering menangis," ucap Marvin kembali. Tangan nya meraih helaian rambut Killa, lalu menyelipkan nya di belakang daun telinga sang istri.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa aku menjadi seperti ini."
"Tidak apa, bagaimana pun dirimu yang sekarang ataupun yang dulu, aku tetap menerima mu apa adanya dan mencintaimu dengan tulus."
"Hmm," Killa tersenyum dan mengulurkan tangan nya menyentuh pipi Marvin. "Bukan aku yang menjijikan, tapi kau! Lihatlah, sekarang kau yang mengeluarkan kata-kata menjijikan, ieughh!"
Killa pun tergelak sambil memukul-mukul pundak Marvin. "Aku seperti ini karena Baby yang ku kandung, sifatnya sangat persis sepertimu, manja, keras kepala, egois, dan juga sangat suka menangis, hahaha!"
Bergantian kini Killa yang menertawakan Marvin. Sedangkan Marvin hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah sang istri.
"Ini," ucap Marvin seraya menggeser sebuah kotak berwarna hitam ke arah Killa diatas meja.
__ADS_1
Killa melirik ke arah kotak tersebut dan ke arah Marvin secara bergantian. "Apa itu?" tanya nya.
"Bukalah, kau akan tahu."
Killa pun meraih kotak tersebut, dan membukanya perlahan. Mata nya membulat ketika melihat sebuah gelang tali hitam yang terdapat liontin bergambar bunga. Pipinya terasa panas, dan mata nya sedikit berair namun masih ditahan nya. Ia menatap wajah Marvin.
"Gelang ini," lirihnya pelan.
Marvin mengangguk, "Aku tidak pernah lupa dengan gadis cantik yang pernah aku tolong dulu, dia memiliki mata yang indah, itu yang membuatku tidak bisa lupa. Namun sayangnya, waktu itu aku tidak bisa bertemu lagi dengan nya. Lalu skarang aku sudah menemukan nya, dan aku ingin mengembalikan gelang ini kepada gadis itu."
Killa menahan air matanya agar tidak menetes, bibirnya bergetar ingin berucap namun berat. "Kau ... a-apa maksudmu, Vin? Kau, kau tidak bisa melupakan nya? Kenapa?"
Deg deg deg!
Killa memegangi dadanya yang mulai berdebar sangat kencang. Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku? Ya tuhan, apakah ini yang kau maksud takdir? Batin Killa.
Marvin mengangguk seakan bisa mendengar isi batin Killa. "Maafkan aku, yang tidak bisa mengingatmu, Killa! Sejak saat itu, aku terus berusaha mencari mu untuk mengembalikan gelang ini, hingga tanpa aku sadari aku menjadi merindukan pemilik gelang ini, tatapan matanya yang indah membuatku tidak bisa melupakan nya."
"Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan mu, awalnya aku sempat teringat padanya ketika menatap matamu, namun aku rasa mustahil jika itu dirimu, karena kau juga tidak mengenaliku. Tapi setelah kau pergi meninggalkan ku, aku mulai memimpikan kejadian waktu itu, saat aku menyelamatkan seorang gadis dari gangguan preman. Gadis itu adalah kau, Killa Roses."
Killa meraih gelang tersebut dan memasang nya dipergelangan tangan. Dipandanginya betapa cantik gelang tersebut, meskipun sederhana, tapi sangat berarti untuk nya. Akhirnya air mata yang ia tahan sedari tadi, menetes.
"Gelang ini adalah pemberian ibuku, sebelum kedua orang tuaku meninggal," ucap Killa mengingat wajah ayah dan ibunya.
Killa menegakkan kepalanya menatap Marvin dengan tatapan sendu. Marvin yang tidak bisa melihat Killa menangis, langsung mendekat dan memberikan pelukan hangat kepada istrinya itu.
"Aku pasti akan membuatmu bahagia, Killa," ucap Marvin sembari mengelus kepala Killa dengan lembut. Untuk mengurangi kesedihan nya.
Killa menangis di dalam pelukan nya. Ternyata Marvin juga sudah menyadari jika Killa adalah gadis yang dulu dia selamatkan. Gadis pemilik mata indah yang membuat hatinya berdebar saat pertama kali. Sampai akhirnya dipertemukan kembali seperti ini.
__ADS_1
Marvin sangat bersyukur bisa memiliki Killa, yang masuk membawa warna dalam kehidupan nya. Rasa sepi dan dendam yang begitu besar, membuat Marvin selama ini hidup dalam dunia berwarna buram. Tapi sekarang dia sangat bahagia, karena dendam itu sudah tidak ada lagi, kini hatinya begitu tenang, ditambah sosok Killa dan calon Baby yang dikandungnya. Membuat Marvin merasa menjadi pria yang sangat bahagia di dunia ini.
...🌹 Jangan lupa like 🌹...