
Sesampainya dirumah utama. Marvin dan Killa langsung bergegas menuju dapur. Killa duduk dimeja makan sambil menatap kearah pantry. Sedangkan Marvin langsung melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemejanya setengah lengan. Lalu mengenakan celemek masak yang sangat cocok untuknya.
Marvin terlihat sangat tampan dan berkarismatik. Sengaja ia meminta para pelayan dan koki yang berada di dapur pergi. Agar tidak ada uang mengganggu quality time mereka berdua.
"Jadi kau mau masak apa Vin?" Tanya Killa.
"Aku akan membuat pasta rumput laut! Apa kau menyukainya?"
"Apapun itu yang terpenting masakan mu, aku tetap suka!"
"Cihh! Apa kau sedang menggodaku Nyonya Louis?" Marvin mendesis.
"Tidak, siapa juga yang sedang menggoda mu! Aku bicara apa adanya, tidak sepertimu yang pintar menggoda wanita!" Sahut Killa sinis.
Marvin tergelak. "Iya, wanitanya yah kamu! Kau tahu sendiri bagaimana sifat asliku Killa! Aku tidak perduli dengan orang lain, yang aku perduli kan hanya kau! Gadis bodoh!"
"Hmm, ya ya ya terserah! Dari pada harus berdebat panjang! Sebaiknya aku yang mengalah!" Killa memutar bola matanya.
"Hahaha!" Marvin kembali tergelak dengan tingkah Killa. "Kemarilah dan bantu aku!" Panggilnya kemudian.
Killa pun beranjak dari duduk nya dan menghampiri Marvin. Dengan sigap Marvin memakaikan celemek masak ditubuh Killa. Lalu menguncir kan kembali rambut gadis itu.
Deg deg deg!
Lagi-lagi jantung Killa berdetak sangat kuat. Sampai-sampai rasanya ingin melompat keluar. Killa memegangi dadanya.
"Apa perutmu masih terasa sakit?" Tanya Marvin yang tiba-tiba menatap lekat wajahnya.
"Huft! Kenapa baru bertanya sekarang? Tadi-tadi kemana aja? Karena terlalu asik bermain, kau sampai melupakan kondisiku yang masih lemahkan Tuan Marvin Louis?" Killa menghela nafas dan memutar bola matanya. Lalu mengalihkan diri untuk memotong sayuran diatas pantry.
Namun dari arah belakang Marvin memeluk dirinya. Melingkarkan tangan di pinggulnya yang ramping. Lalu pria itu meletakkan dagunya dipundak kanan Killa.
__ADS_1
"Maafkan aku! Jika kau merasa kesakitan tadi! Aku tidak bermaksud seperti itu!" Lirih Marvin pelan sembari mengecup pucuk kepala Killa.
"Kenapa meminta maaf? Aku hanya bercanda pria dingin! Kau sangat serius sekali!" Killa membalikkan tubuhnya menyentuh pipi Marvin dengan kedua tangannya.
"Aku sudah merasa lebih baik, Vin! Kau tidak usah khawatir!" Sambung Killa seraya tersenyum, agar pria itu tidak merasa terus-terusan bersalah.
"Benarkah?" Tanyanya kurang percaya. Killa pun menjawabnya dengan anggukan dan senyuman yang cerah. Membuat hati Marvin seketika merasa teduh.
Cups!
Sebuah kecupan hangat penuh kasih sayang mendarat dibibir Killa. Seiring dengan dekapan yang juga sama hangatnya. Seakan enggan untuk melepaskannya, namun tetap harus terlepas. Karena mereka berdua harus segera menyelesaikan masakan dan makan siang bersama. Sebelum sore tiba, mereka harus mengejar penerbangan menuju Seoul.
***
"Eehmm!"
Deheman seseorang berhasil membuat Killa dan Marvin tersentak dan menoleh bersamaan. Itu adalah suara Gavin, pria tampan itu baru saja sampai. Ia langsung berjalan menghampiri suami dan istri itu.
"Kau, sebaiknya pergi! Jangan menggangguku dan Killa!" Sahut Marvin ketus.
"Aku kesini bukan untuk mengganggumu! Tapi aku ingin bertemu dengan Ayah! Dimana dia?" Tanya Gavin.
"Ayah ada di kamarnya! Cepat pergi sana!"
Namun ketika Gavin hendak melangkah pergi. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Dia langsung berlari menuju wastafel dan memuntahkan seluruh makan siangnya tadi.
"Oh Shit! Gavin kau tidak lihat jika kami sedang makan disini?" umpat Marvin kesal, karena Gavin tidak tahu waktu untuk mual dan muntah.
"Marvin, kau tidak boleh berkata seperti itu! Wajar saja jika dia seperti itu!" Killa mengingatkan Marvin untuk tidak marah.
"Tapi itu membuatku tidak berselera makan!" Sahut Marvin. Killa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sorry, aku tidak bisa menahannya! Aku akan segera pergi! Kepalaku begitu pusing! Katakan pada ayah aku tidak jadi bertemu! Aku pulang!"
Gavin pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian Gavin. Suasana nampak hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring kaca.
"Killa!" Panggil Marvin. Tangannya menyentuh sudut bibir Killa, mengusap bekas saus pasta yang tertinggal.
"Ada apa Vin?"
"Bagaiman jika kita punya seorang anak?"
Seketika Killa tersentak kaget dan langsung tersedak saat sedang meminum air di gelas. "Apa maksudmu Vin?"
"Yah maksudku, aku menginginkan seorang bayi!"
"Hahaha! Kau sudah gila yah! Tidak mau, aku belum siap!" Killa tergelak. Dia merasa ucapan Marvin hanya sekedar candaan.
"Aku serius gadis bodoh! Untuk mempererat hubungan kita!"
"Maaf Vin, tapi aku belum siap!"
"Hmm, baiklah tidak apa-apa! Aku rasa perasaanmu padaku, sangat berbeda dengan yang aku rasakan!" Wajah Marvin seketika murung dan menunduk.
Killa merasa sangat tak tega sudah membuat pria itu sedih kembali. Sakit melihatnya seperti itu. "Aku akan memikirkannya! Berhenti terlihat menyedihkan seperti itu, Vin!"
Marvin tak menjawabnya. Dia hanya diam dan langsung beranjak pergi meninggalkan Killa. Ada rasa kecewa yang dia rasakan. Ketika mendengar ucapan gadis yang ia cintai itu. Penolakan telak, sungguh menyakitkan.
Aku tidak akan memaksamu! Batin Marvin.
Maafkan aku Vin! Batin Killa menatap nanar kepergian Marvin.
__ADS_1
...🌹Bersambung, jangan lupa like di setiap episode🌹...