Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 199 : Tidak bisa menjemput


__ADS_3

Keesokan paginya, setelah kemarin bertemu dengan Marvin. Kini keadaan Killa sudah sedikit pulih. Dan juga Dokter memperbolehkan Killa untuk beristirahat dirumah. Dengan syarat, Killa harus bisa menjaga kandungan nya. Tidak stres atau pun kelelahan.


Siang ini Killa di bantu oleh Naya, untuk mempersiapkan kepulangan nya.


"Kak," panggil Naya, saat Killa sedang mengganti pakaian rumah sakit nya.


"Ada apa?" jawabnya.


"Aku telpon kak Justin dulu yah," ucap Naya.


"Baiklah," sahut Killa dengan mengangguk.


Naya pun segera membawa ponselnya keluar dari ruangan. Diluar ruangan Naya langsung menghubungi Justin. Menanyakan kenapa pria itu lama sekali datang nya.


"Maaf Nay, aku tidak bisa menjemput mu dan Killa, karena begitu banyak kerjaan di kantor. Maaf," ucap Justin di seberang panggilan.


"Cih, kau ini! Kenapa tidak bilang dari tadi?" decak Naya kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya, bingung.

__ADS_1


"Beraninya kau berbicara keras padaku! Tenang saja aku sudah meminta seseorang untuk menjemput kalian." Suara Justin terdengar emosi, mungkin karena cara bicara Naya yang dia anggap sangat kasar.


"Siapa?" tanya Naya penasaran. "Jangan bilang ... "


"Kau benar, mungkin saat ini dia sudah hampir sampai, sebaiknya kau juga membantu mereka untuk bisa kembali bersama," ucap Justin.


"Aku? Buat apa? Aku masih tidak ingin bicara dengan kakak ipar," decak Naya lagi.


"Jangan hanya pikirkan perasaan mu, tapi pikirkan Baby nya. Apa kau mau melihat keponakan mu lahir tanpa kasih sayang seorang ayah? Bahkan bagaimana jika terjadi sesuatu pada kakak mu saat dia melahirkan, karena stres yang dia alami, mengandung tanpa seorang suami? Pasti berat, apa kau mau dia lahir tanpa orang tua? Seperti mu?" ucap Justin dengan sedikit ketus.


"Tentu saja aku tidak mau itu terjadi, baiklah. Aku akan membantu mereka agar bisa bersama-sama lagi, tapi hanya untuk Baby nya, bukan untuk mereka berdua."


"Bagus! Jadilah gadis yang penurut," ucap Justin.


Seketika desiran angin menyapu helaian rambut nya. Naya merasakan dadanya yang kembali berdebar. Setelah mendapat pujian singkat dari Justin. Bodoh kah dia, jika merasa seperti itu? Naya sadar jika ini tidak benar. Tapi kenapa tubuhnya selalu bereaksi seperti itu. Jika menyangkut Justin.


"Hei, apa kau masih disana?"

__ADS_1


Naya tersentak dari lamunan nya. "Eh, i--iya aku masih mendengar, baiklah kalau begitu aku mau bantu kakak dulu. Bye!"


Saking gugupnya, Naya memutuskan panggilan dalam sepihak. Lalu ia tersandar di dinding. Memegangi dadanya dan menghela nafas lega. "Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasakan hal-hal aneh ini?" .


Sedangkan disisi lain. Marvin baru saja keluar dari dalam lift. Saat sudah berada di depan ruangan Killa. Dia tak sengaja melihat Naya yang sedang bersandar di dinding.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Marvin.


"Huft! Kau mengagetkan ku saja! Seperti setan yang datang tanpa suara," decitnya seraya memutar bola mata.


"Cih, ternyata kau masih saja tidak berubah. Cara bicara mu masih sangat kasar!"


"Eh, itu bukan urusan mu yah kakak ipar! Aku masih marah padamu, jadi jangan bicara santai padaku!"


Naya pun segera masuk ke dalam ruangan Killa. Meninggalkan Marvin yang tersenyum simpul menatap kepergiannya.


"Dasar gadis nakal, entah kenapa aku juga sangat merindukan sikap cerewet dan ketus nya." gumam Marvin sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2