Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 176 : Dirinya memilih pergi, sedangkan hatinya memilih untuk tetap bertahan.


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian.


Killa dan Naya sudah berada di lobby hotel. Menunggu Justin menjemput mereka. Tidak lama kemudian mobil Justin memasuki lobby.


Naya terkejut ketika melihat Justin keluar dari mobil dan menghampiri mereka. "Kakak, jangan bilang--" Naya tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap kesal Killa.


"Maaf, aku tidak memberitahumu. Hanya dia yang bisa menolong kita Nay." Killa mencoba meyakinkan sang adik. Namun tetap saja sang adik bebal, dia mendengus kesal dan menepis kasar tangan Killa dari pundaknya.


"Aku tidak percaya ini," desisnya pelan geregetan dengan sang kakak.


Naya dan Justin saling bertatapan. Naya menatap tajam sedangkan Justin menatap datar. Dia berpikir sekarang yang terpenting adalah Killa.


"Masuk lah," ucap Justin membukakan pintu mobil untuk Killa.


Killa mengangguk. Tidak menunggu lama ia pun segera masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.


"Kau juga masuk," ucap Justin lagi pada Naya. Saat hendak membukakan pintu mobil. Tangan nya ditepis oleh Naya. Gadis itu menatap nya sangat sinis.


"Aku bisa sendiri," jawab Naya ketus.


"Dasar aneh," gumam Justin pelan sambil geleng-geleng kepala.


"Pria gila! Aku tidak akan melupakan kejadian malam itu. Dia hampir membunuhku, jika aku terjatuh saat itu dan mati. Dia adalah orang pertama yang akan aku hantu-hantui, akan aku cekik dia sampai mati." gerutu Naya pelan. Namun masih bisa terdengar di telinga Justin.


Tanpa ia sadari bibirnya membentuk senyuman. Mendengar gerutuan Naya tentang nya. Sangat lucu, sampai tidak sadar ia tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Justin pun berjalan memutari mobil dan masuk di kursi kemudi.


Di tatap nya Killa yang masih memandang ke arah dalam hotel. Seakan berharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Air mata Killa menetes satu persatu. namun dengan cepat ia usap.


"Jika sangat berat untuk pergi, kau masih bisa kembali Killa. Aku tidak akan memaksamu," ucap Justin.


Killa tersentak dan menoleh ke arah Justin. Tersenyum dan berkata, "Aku baik-baik saja, sebaiknya kita segera pergi."


"Kau yakin?" tanya Justin kembali. Karena dia kurang yakin melihat wajah Killa yang begitu menampakan kepedihan yang mendalam.

__ADS_1


"Aku yakin," jawab Killa mengangguk dan tersenyum kembali.


Deg!


Justin tersadar. Baru kali ini dia melihat Killa yang seperti ini. Ia ingat bagaimana Killa dulu meninggalkan nya. Tanpa rasa berat Killa pergi begitu saja. Tapi kali ini, dia melihat Killa yang begitu menyedihkan. Dirinya sendiri memilih pergi sedangkan hatinya memilih untuk tetap bertahan.


Walaupun sakit, namun Justin berusaha untuk tetap tegar. Dia sudah merelakan Killa, apa pun pilihan hati Killa. Dia tidak punya hak untuk melarang atau memaksanya.


Justin pun mulai menancap gas melajukan mobilnya menuju bandara. Di sepanjang jalan, Killa hanya menatap sendu keluar jendela. Setetes demi tetes air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya ia menangis tanpa suara. Membuat suasana di dalam mobil itu menjadi sedikit canggung. Naya juga tidak bisa berbuat apa-apa, memang seharusnya kakak nya itu menangis. Karena jika ditahan akan sangat sakit nantinya.


Begitu pun dengan Justin. Ia membiarkan Killa menangis agar tidak akan ada penyesalan nantinya. Dia yang memilih untuk pergi, jadi ia juga harus menahan rasa sakit itu sendiri.


***


Di Bandara. Justin mengantar kan Killa dan Naya sampai di ruang tunggu. Ia memberikan passport dan visa pada Killa dan Naya.


Killa menatap Justin dengan mata sembab nya, akibat menangis. "Terima kasih ya, kau sudah mau membantuku."


"Sama-sama, aku akan selalu membantumu Killa," ucap Justin tersenyum, tangan nya menggapai pucuk kepala Killa dan mengusapnya lembut.


"Tapi aku--"


"Jangan keras kepala Killa, aku tidak mungkin membiarkan mu dan Naya tinggal sendiri di kota asing itu. Buatlah hatimu tenang, jika kau sudah merasa lebih baik. Kau bisa pindah dari sana dan mencari tempat tinggal sendiri."


"Hmm, baiklah. Sekali lagi terima kasih."


Killa pun memberikan pelukan terakhir untuk Justin. Lalu ia segera menarik koper nya masuk ke dalam Garbarata menuju dalam pesawat. Meninggalkan Naya dan juga Justin.


"Ini," ucap Justin seraya memberikan tiket penerbangan milik Naya.


Dengan kasar Naya mengambilnya dari tangan Justin. "Jangan senang dulu, jangan kau pikir jika kau baik pada kakak ku. Aku akan melupakan semua yang sudah kau lakukan pada kami sebelum nya. Aku masih mengingat nya dengan jelas."


Naya menunjuk dada Justin dan langsung berlarian kecil mengikuti langkah sang kakak masuki Garbarata menuju dalam pesawat.

__ADS_1


Sedangkan Justin, terpaku diam menatap Naya pergi. Setelah menghilang dari pandangan nya. Justin menghela nafas panjang. Ia mengusap wajahnya sambil mengumpat.


Shit!


"Apa yang akan aku katakan pada Marvin, dia tidak akan memaafkan ku. Tapi mau bagaimana? Dia yang sudah menyakiti Killa dengan sikapnya yang dingin. Aku sangat tidak tega melihat Killa sampai meneteskan air matanya. Kau harus menerima nya Marvin, kini Killa telah pergi."


***


Dengan cepat pagi berganti siang. Marvin bersandar di kursi kerjanya. Ia menghela nafas lega karena sudah menyelesaikan pertemuan penting itu. Sang ayah juga sudah kembali ke Beijing. Semuanya sudah beres. Kini tinggal hal yang sangat penting yang harus ia selesaikan.


Masalah nya dengan Killa. Marvin begitu bersemangat untuk segera pulang dan bertemu Killa. Tidak sabar untuk memeluk Killa dan memberitahukan jika hatinya sudah berdamai. Dia sudah menerima kenyataan itu, dan memilih untuk melupakan masa lalu. Membangun masa depan bersama dengan Killa.


Tok tok tok!


"Masuklah," ucapnya.


"Tuan, ini dia bunga yang anda minta." Ken memberikan sebuket mawar biru sebagai tanda permintaan maaf.


"Terima kasih Ken, apa kau juga sudah menyiapkan yang aku minta?"


"Sudah Tuan, semua sudah beres. Saya sudah menyiapkan makan siang romantis untuk anda dan Nona Killa."


"Baguslah, kau ikut dengan ku pulang kerumah."


"Baik Tuan."


Marvin pun segera berlalu pergi keluar dari ruangan kerja nya. Sambil membawa buket bunga itu, dengan diikuti Ken di belakang nya.


Senyuman merekah di wajah Marvin. Tak henti-hentinya dia menatap layar ponselnya yang menampakan jelas wajah Killa di wallpaper depan nya.


"Tunggu aku Killa," ucapnya.


Ken yang melihat Tuan nya begitu bersemangat. Ikut merasa senang. Akhirnya sang Tuan bisa berbaikan lagi dengan istrinya. Karena Ken juga memiliki pendapat yang sama. Jika itu hanyalah masa lalu, Killa dan Naya tidak salah dalam hal ini.

__ADS_1


...🌹 Jangan lupa like yah dan tinggalkan komentar🌹...


__ADS_2