
"Aku tahu Killa, karena itu berikan aku kesempatan untuk menebusnya. Aku janji aku tidak akan seperti itu lagi."
Killa memalingkan wajahnya. Sebenarnya dia tidak marah, tapi entah kenapa rasanya itu berat untuk menerima Marvin kembali. Apa mungkin karena sakit hati yang ia rasakan telah diperlakukan tidak adil. Apalagi sekarang ia tahu jika ayahnya sebenarnya tidak bersalah.
"Kau tahu dari mana jika ayahku tidak ... " ucapan nya menggantung.
"Aku sudah bicara dengan Papah Arsen."
Seketika Killa langsung menoleh. Menatap Marvin dengan tidak percaya. Apa dia berbohong? Tidak mungkin dia mau bicara dengan Papah Arsen. Apa dia sengaja berbohong agar aku kembali padanya? Batin Killa.
"Apa kau berharap aku percaya?" Killa menaikan alisnya satu.
"Kau harus percaya, kau tahu sendiri. Jika aku tidak pernah membohongimu. Seminggu setelah kau pergi, Papah Arsen mendatangiku. Dia menceritakan semuanya padaku, dan dia juga mengatakan jika ayahmu tidak pernah membantunya. Bahkan Ayahmu lah yang sempat menasihatinya."
Marvin memalingkan wajahnya. Dia kembali merasa sedih, karena mengingat Papah Arsen yang baru saja meninggal. Mata Marvin berkaca-kaca, namun dengan kuat ia menahan air matanya.
Killa mengerinyit heran melihat air wajah Marvin yang berubah sedih. Terlebih sedari tadi Marvin selalu menyebut 'Papah Arsen', 'Papah Arsen', 'Papah Arsen'. Itu sungguh tidak biasa. Karena yang Killa tahu, Marvin sangat membenci Papah Arsen. Jangankan melihat wajahnya, bahkan menyebut namanya saja dia tidak mau. Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda. Marvin terlihat sangat emosional, Killa bisa melihat air matanya yang hampir terjatuh.
__ADS_1
"Kau bicara sebanyak itu dengan Papah Arsen?" Killa masih tidak percaya. "Jadi maksudmu, Papah Arsen sudah menceritakan semuanya padamu?"
"Iya dia sudah menceritakan semuanya padaku," jawab Marvin seraya mengangguk dengan pandangan yang masih ke arah lain.
"Aku tidak percaya, jika tidak mendengarnya sendiri. Bawa aku untuk bertemu dengan Papah Arsen."
"Kau tidak bisa menemuinya," lirih Marvin.
Killa mengerinyit. "Kenapa? Apakah karena aku masih dirawat disini? Aku akan menghubungi Justin, dan meminta dia untuk mengeluarkan ku. Hari ini juga kita kembali ke Seoul untuk bertemu Papah Arsen."
"Percuma kenapa? Apa jangan-jangan kau bohong? Aku sudah menebaknya, kau tidak mungkin mau bicara dengan Papah Arsen. Karena kau sangat membencinya."
"Aku tidak membencinya!" bentak Marvin tiba-tiba.Membuat Killa tersentak kaget. "Aku sudah tidak membencinya lagi, aku sudah mengambil langkah untuk maafkan nya. Meskipun aku tahu sangat terlambat. Aku sangat menyesal karena tidak memaafkan dia dari awal."
Marvin menunduk menutupi matanya dengan tangan. Dia tidak mau Killa melihat air matanya yang mengalir. Sedangkan Killa, semakin merasa ada yang aneh. Dia tahu jika Marvin saat ini sedang menangis. Tangan nya pun terulur hendak mengelus kepala Marvin. Namun tidak di lakukan nya, ia kembali menarik tangan nya.
"Tidak ada kata terlambat, kau bisa memulainya dari awal. Memaafkan dan mulai membuka hati untuknya. Aku yakin Papah Arsen juga merasakan hal yang sama. Dia pasti sangat bahagia jika kau sudah benar-benar memaafkan nya."
__ADS_1
Entah kenapa Killa menjadi sangat lembut. Ia berbicara pelan. Karena tidak tega melihat Marvin yang tiba-tiba menjadi emosional. Killa pun mengelus-elus punggung Marvin, mencoba membuatnya tenang.
"Aku sudah terlambat," lirihnya kembali.
"Tidak Vin, kau tidak terlambat."
"Aku sudah terlambat Killa. Jika aku tahu hari itu adalah terakhir kalinya aku bisa mendengarnya bicara. Tetap saja disisa hidupnya dia begitu tertekan karena rasa bersalah nya yang begitu besar padaku."
Marvin menatap Killa dengan wajah nya yang berantakan. Kusam, lesu, dan penuh dengar air mata. Killa sangat terkejut mendengar perkataan Marvin. Ia pun menggelengkan kepalanya, menepis sesuatu yang sedang dia pikirkan. Tidak mungkin Papah Arsen---.
Killa menutup mulutnya, ia merasa matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. "Tidak mungkin kan, Papah Arsen ... Marvin, katakan padaku jika Papah Arsen baik-baik saja."
Killa terbata-bata karena merasa begitu syok. Terlintas lah wajah Papah Arsen di benaknya. Sosoknya yang begitu hangat dan lembut menyambutnya waktu mereka berada di Beijing.
"Ia sudah tiada ... Papah Arsen meninggal kemarin, waktu Justin memberitahuku tentang keadaanmu. Saat itu aku dan keluarga yang lain, baru selesai mengantarkan nya ke pemakaman," jelas Marvin.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Killa saat melihat Marvin kembali menunduk. Tangan nya kembali terulur ingin mengusap kepala Marvin. Namun tiba-tiba saja, pintu ruangan itu dibuka dengan kasar.
__ADS_1