Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 170 : Betapa sulitnya merelakan.


__ADS_3

Di parkiran rumah sakit. Justin berjalan menghampiri tempat mobilnya terparkir. Ia mendengar langkah kaki seseorang berlari mendekatinya. Seketika ia pun langsung menoleh.


"Killa?" Justin mengerinyit heran melihat Killa yang terengah-engah bernafas.


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Killa.


"Hmm, baiklah." jawab Justin.


Mereka pun mencari tempat nyaman untuk bicara. Justin memilih taman rumah sakit. Mereka berdua duduk di salah satu bangku taman itu.


"Cepat katakan?" ucap Justin ketus, karena dia masih kesal dengan Killa saat terakhir kali mereka bertemu. Killa yang langsung menuduh dirinya melakukan hal serendah itu.


"Apa Marvin tahu kau pergi menemui ku?" tanya Justin kemudian.


"Tidak, dia tidak tahu."


"Kalau begitu cepat katakan? Aku tidak mau ada yang salah paham."


Killa menarik nafas panjang lalu mengeluarkan nya perlahan lewat mulut. Berat rasanya untuk mengatakan hal ini.


"Bawa aku," ucap nya pelan.


Justin mengerinyit dan menoleh menatap Killa. "Apa kau bilang?"


"Iya bawa aku, bawa aku pergi jauh." Killa menatap balik Justin.


Justin memalingkan wajahnya dan menghela nafas kasar. "Killa tolong jangan mainkan perasaan ku. Kau tahu betapa sulit nya aku mencoba untuk merelakan kau bersama Marvin."


"Aku serius, tolong bawa aku pergi Justin. Bawa aku dan Naya sejauh mungkin dari kota ini. Pliss ... " ucap Killa memohon dengan air mata yang sudah berderaian.


"Kenapa tiba-tiba kau seperti ini? Kau kira aku mau membawa pergi dirimu? Membawa pergi istri dari rekan bisnis ku?" Justin terlihat marah. Sesekali ia mengusap wajah dengan kasar.


"Aku tahu ini bodoh, tapi aku yakin hanya kau yang bisa membantu ku kali ini." Killa meraih tangan Justin.


Justin menoleh menatap wajah Killa. Ia tak tega melihat Killa yang meneteskan air matanya. "Kau tahu bagaimana reaksi Marvin jika dia tahu aku membawa mu pergi. Dia tidak akan tinggal diam Killa, kembali lah. Berhenti memikirkan hal bodoh itu, aku tidak mau melakukan nya. Aku sudah merelakan kau bahagia bersama Marvin."


Justin beranjak dan hendak pergi namun Killa menarik tangan nya. Ia menumpu lutut di tanah dan memohon sungguh-sungguh.


"Pliss ... Aku mohon, aku tidak bisa membuat Marvin bahagia. Jika dia tahu yang sebenarnya tentang ayah ku. Aku tidak sanggup harus menyakiti hatinya lagi, dia sudah banyak berjasa untuk ku dan Naya. Hiks hiks," mohon nya dengan isak tangis tanpa henti.


Justin menghela nafas dan meraih pundak Killa. Membuatnya kembali berdiri. "Apa ini karena rekaman suara itu?"

__ADS_1


Deg!


Killa terkejut matanya membulat dan netra nya bergetar. "Apa kau sudah tahu?"


Justin mengangguk pelan.


"Aku sudah menebaknya kau lah yang meledakkan mansion itu. Aku bertanya-tanya selama ini jika orang itu Marvin. Pasti dia tahu tentang rekaman suara itu. Tapi Marvin tidak memberikan tanda-tanda jika dia mengetahui sesuatu. Ternyata itu kau."


"Killa, apa kau percaya dengan rekaman itu?" tanya Justin.


"Entahlah, tapi kemungkinan nya besar. Jadi sebelum perasaan Marvin padaku terlalu dalam. Aku tidak mau meneruskan hubungan ini bersamanya. Karena aku tidak sanggup harus menyakitinya dengan kenyataan pahit itu. Jadi pliss ... aku mohon bantu aku. Bawa pergi aku dan Naya sejauh mungkin."


"Baiklah, tapi berhenti menangis. Kau tahu, itu bukan lah kesalahan kalian berdua. Jangan menyesal dikemudian hari."


"Aku tidak akan menyesal," ucap Killa dengan wajah yang dipalingkan. "Aku akan menghubungi mu," sambung nya.


Killa pun kemudian pergi meninggalkan Justin. Justin menghela nafas menatap kepergian Killa. Dia merasa sedih melihat Killa yang begitu hancur setelah mengetahui kebenaran pahit itu.


Dia tidak berniat untuk merebut Killa kembali. Namun dia hanya berniat untuk membantu gadis itu kali ini. Karena ia tak tega melihatnya memohon dan meneteskan air mata. Hatinya seakan ikut teriris, merasakan kepedihan yang Killa rasakan. Mungkin karena rasa cinta yang begitu dalam. Justin tidak bisa menolak permintaan Killa.


***


Saat kembali ke dalam ruangan VIP tempat Marvin berada. Killa di sambut dengan senyuman cerah yang terlukis diwajah tampan Marvin.


"Aku hanya keluar sebentar," jawabnya dengan tersenyum.


"Jangan pergi terlalu lama, kau tahu aku tidak bisa jauh darimu."


"Cih, berhenti bertingkah seperti anak kecil Marvin aku tidak bisa bernafas." Killa mencoba melepaskan pelukan Marvin yang begitu erat.


Killa pun naik ke atas tempat tidur. Berbaring dengan posisi membelakangi Marvin. Marvin melingkarkan tangannya di perut Killa.


"Vin," panggil Killa pelan.


"Hmm," jawab Marvin singkat sembari menenggelamkan wajahnya pada rambut panjang Killa.


"Bagaimana jika aku pergi."


"Aku akan mencarimu."


"Sangat jauh, aku pergi sangat jauh hingga kau tidak bisa menemukan ku."

__ADS_1


"Tetap saja aku akan mencarimu, sejauh apapun itu. Kau tidak bisa bersembunyi dariku. Lagi pula apa yang akan membuatmu pergi meninggalkan ku?"


"Kau benar, aku tidak bisa pergi meninggalkan mu. Karena aku sangat mencintai mu."


Air mata Killa menetes. Dengan cepat ia mengusapnya. "Berjanjilah satu hal padaku," pintanya.


"Apapun itu," jawab Marvin.


"Jika suatu hari nanti terbukanya suatu kebenaran yang sangat menyakitkan untuk mu. Kau tidak boleh bersedih dan terus jalani hidup mu tanpa terbebani dengan kebenaran tersebut."


"Kebenaran? Memang nya kebenaran apa?"


"Hanya kebenaran," jawab Killa tersenyum sambil menutup matanya.


"Dasar aneh, kenapa aku merasa kau akan pergi meninggalkan ku."


Deg!


Killa menelan salivanya yang sekeras batu. Dia bisa apa? Semakin berjalan waktu, ia menyembunyikan kebenaran itu pasti akan terbuka juga. Namun Killa tidak sanggup harus mengatakan nya sendiri. Tapi jika dia tidak mengatakan nya, akan lebih menyakitkan jika Marvin tahu dari orang lain. Killa tidak mau itu terjadi.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Vin," ucap Killa.


"Apalagi? Aku sangat mengantuk apa tidak bisa besok pagi saja?" ucap Marvin dengan suara malas nya. Dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku memang akan mengatakan nya besok padamu, istirahatlah. Apa kau sudah minum obat mu?"


"Sudah."


"Serius? Kau tidak boleh bohong Marvin. Karena itu juga untuk kebaikanmu? Apa kau mau terus berada disini dan tidak bisa pulih?"


"Hei-hei-hei, aku sudah minum obat ku. Kau tidak perlu mencemaskan ku. Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kau selalu saja memarahi ku. Mengomeli ku seperti ahjuma," Marvin membalikkan tubuh Killa.


Kini mereka saling berhadapan. Mata mereka saling bertatapan. Marvin tersenyum begitu pun dengan Killa. Marvin pun mengecup lembut kening Killa.


"Aku mencintaimu," ucapnya.


"Aku juga Vin," sahut Killa.


Marvin pun menarik Killa ke dalam dekapan nya. Menghujam-mi pucuk kepalanya dengan kecupan hangat. Betapa ia sangat mencintai gadis itu. Gadis yang sudah memberikan warna dalam hidupnya yang sepi.


Aku tidak akan pernah melepaskan mu sampai kapan pun Killa. Pegang janji ku itu, apapun yang terjadi kau tetaplah milik ku. Meskipun pahit nya kebenaran seperti yang kau katakan tadi. Tidak akan membuatku menyerah padamu! Batin Marvin.

__ADS_1


...🌹 Jangan lupa like🙏🏻🙏🏻 Besok author libur dulu yah, karena bos libur kerja. Author mesti ngurusin bos dulu😊😊🌹...


__ADS_2