Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 142 : Kakak ipar yang bodoh.


__ADS_3

Tok tok tok!


Marvin mengetuk pelan pintu kamar Naya. Beberapa kali hingga membuat Naya terbangun.


"Ada apa kakak ipar? Mengapa kau mengganggu tidurku?" ucap Naya yang berdiri diambang pintu kamarnya sambil mengucek mata.


"Nay, apa kau bisa mengecek ponselku ini. Sepertinya dia rusak." Marvin memberikan ponselnya pada Naya.


"Apanya yang rusak kak, aku rasa ponselmu ini baik-baik saja." Naya membolak-balikkan ponsel Marvin. Mungkinkah ada sesuatu yang rusak.


"Aku rasa dia rusak tak bisa menerima panggilan, karena sedari tadi dia tidak berdering biar sekalipun," jelas Marvin.


"Huft!" Naya menghela nafas kasar.


"Kakak ipar, ponselmu tidak rusak sama sekali. Kau hanya tidak bisa tenang karena kakak ku tidak menelpon mu. Ayolah, kakak ipar jangan jadikan dirimu menyebalkan. Kau sudah mengganggu tidurku, hanya untuk otakmu yang bodoh itu. Ini ambil kembali ponselmu dan pergi jangan mengganggu ku."


Naya memberikan kembali ponsel Marvin setelah mengomel. Kebodohan kakak iparnya itu kini sudah semakin besar. Cinta benar-benar sudah membuat orang lupa diri. Ia pun menutup pintu kamar dengan keras tepat dihadapan Marvin.

__ADS_1


"Kenapa dia harus marah? Lagi pula, cepat sekali dia tidur. Inikan baru jam sebelas malam." Marvin melirik jam yang tertempel di dinding.


"Benar, dia adalah seorang pelajar. Jam segini seorang pelajar harus istirahat. Baiklah, Nay aku pergi semoga tidurmu nyenyak." Marvin menendang pintu kamar Naya sebelum akhirnya dia pergi masuk kedalam kamar.


Menjatuhkan diri diatas tempat tidur. Berharap rasa kantuk akan menghampirinya. Dan membuatnya lupa akan Killa.


"Dia sudah dewasa, dia pasti akan segera pulang. Marvin untuk apa kau repot-repot menunggunya," gumam Marvin.


Namun tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Dengan gerakan cepat Marvin meraih ponselnya dan melihat layar kontak yang menelpon.


"Gadis bodoh ini kenapa baru sekarang menelpon, awas saja aku akan memberikannya pelajaran." Marvin menggerutu sembari menggeser tombol hijau dilayar ponsel dan menempelkan benda pipih itu ditelinganya.


"Maaf Tuan Marvin, ini saya June."


Marvin terkejut dan langsung gelagapan merasa malu. Ternyata yang sedang mendengarkan nya adalah June bukan Killa.


"Dimana Killa? Mengapa ponselnya ada padamu?" tanya Marvin ketus, namun kentara sekali jika dia sedang gugup.

__ADS_1


"Nona Killa mabuk berat Tuan, sebaiknya anda cepat kemari untuk menjemputnya. Atau anda mau saya yang mengantarkan Nona Killa pulang?"


"Jangan berani-berani kau menyentuh atau mendekatinya. Aku akan segera kesana, cepat kirimkan alamatnya."


"Baik Tuan."


Marvin pun memutuskan panggilan. Ia langsung mengambil blazer panjang lalu melapis nya untuk menutupi piyama tidur yang ia pakai.


Ting!


Pesan masuk dari June berisi alamat kedai tempat mereka makan malam bersama. Tak menunggu lama Marvin langsung bergegas menuju kedai tersebut menggunakan mobilnya sendiri. Tanpa menghubungi Ken, karena akan mengganggu tidurnya.


***


Sesampainya di kedai itu. Marvin langsung turun dari mobil dan masuk kedalam kedai itu. Dengan langkah gagah dan tampan ia berjalan kearah meja tempat Killa berada.


Semua para karyawan wanita terpana dengan ketampanan bos mereka itu. Tidak pernah sebelumnya mereka melihat Marvin menggunakan piyama tidur dengan rambut lentur dan berantakan seperti itu. Karena yang biasa mereka lihat adalah seorang Tuan Marvin Louis yang selalu rapi, setelan jas dan dasi, juga rambut yang disisir rapi. Tapi malam ini terlihat sangat berbeda.

__ADS_1


Bonus.



__ADS_2